Queensha.id – Edukasi Sosial,
Tradisi tahlilan dalam rangka mendoakan orang yang meninggal dunia kembali menjadi perbincangan hangat di media sosial. Sejumlah warganet membagikan pengalaman mereka terkait kewajiban sosial yang dirasakan muncul dalam pelaksanaan tahlilan, terutama mengenai pemberian amplop dan penyediaan jamuan bagi para tamu.
Perdebatan mencuat setelah seorang pengguna Threads dengan akun @dey.dea mengungkapkan pengalaman pribadinya saat ayahnya meninggal dunia. Dalam unggahannya, ia mengaku masih diliputi suasana duka, tetapi tetap diminta menyiapkan kopi untuk para tamu yang datang melayat.
“Bokap gue meninggal, orang ribet nyuruh gue bikin kopi buat bapak-bapak datang. Ngapain, gue lagi berduka,” tulisnya.
Unggahan tersebut kemudian menuai beragam tanggapan dari warganet. Sebagian mengaku mengalami pengalaman serupa, sementara yang lain menilai hal itu bergantung pada kebiasaan masyarakat di masing-masing daerah.
Salah satu pengguna media sosial lainnya mengungkapkan bahwa di wilayah tempat tinggalnya, keluarga yang berduka tidak hanya menyediakan konsumsi saat pemakaman, tetapi juga ketika acara tahlilan atau pengajian yang digelar pada hari ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, satu tahun, dua tahun hingga tiga tahun setelah meninggalnya seseorang.
Menurut pengakuannya, keluarga biasanya juga menyiapkan konsumsi berupa nasi kotak atau berkat, bahkan di beberapa tempat terdapat kebiasaan memberikan amplop kepada pihak-pihak tertentu yang hadir membantu jalannya acara.
“Kalau tamunya sekitar 100 orang, tentu biaya yang harus dikeluarkan tidak sedikit. Ini bisa menjadi beban bagi keluarga yang kondisi ekonominya terbatas,” tulis warganet tersebut.
Esensi Tahlilan adalah Doa, Bukan Kemewahan
Menanggapi fenomena tersebut, pengamat sosial asal Jepara, Purnomo Wardoyo, menilai masyarakat perlu mengembalikan makna utama tahlilan sebagai sarana mendoakan orang yang telah meninggal dunia dan mempererat solidaritas sosial.
Menurutnya, tradisi yang berkembang di tengah masyarakat merupakan bagian dari budaya yang patut dihormati. Namun, pelaksanaannya jangan sampai berubah menjadi beban ekonomi bagi keluarga yang sedang mengalami musibah.
“Tradisi tahlilan pada dasarnya mengandung nilai kebersamaan, gotong royong, dan doa untuk almarhum. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai muncul tekanan sosial yang membuat keluarga merasa harus mengeluarkan biaya besar demi memenuhi ekspektasi lingkungan,” ujar Purnomo Wardoyo, Rabu (1/7/2026).
Ia menambahkan bahwa masyarakat seharusnya lebih mengedepankan rasa empati daripada formalitas.
“Saat seseorang sedang berduka, yang paling dibutuhkan adalah doa, perhatian, dan dukungan moral. Jika ada tradisi menjamu tamu atau bentuk penghormatan lainnya, hendaknya disesuaikan dengan kemampuan keluarga, bukan menjadi kewajiban yang dipaksakan,” katanya.
Purnomo juga mengajak masyarakat untuk menghidupkan kembali semangat gotong royong yang menjadi ciri khas budaya Indonesia.
“Kalau memang ingin membantu keluarga yang berduka, alangkah baiknya masyarakat ikut meringankan beban mereka, baik melalui tenaga, konsumsi, maupun bantuan lainnya. Dengan begitu, nilai kemanusiaan dalam tradisi tahlilan akan semakin terasa,” tambahnya.
Tradisi Berbeda di Setiap Daerah
Praktik tahlilan di Indonesia memiliki ragam bentuk sesuai adat istiadat setempat. Ada daerah yang melaksanakannya secara sederhana, ada pula yang disertai jamuan makan bersama sebagai bentuk penghormatan kepada tamu yang hadir mendoakan almarhum.
Karena itu, kebiasaan pemberian amplop maupun konsumsi tidak dapat digeneralisasi sebagai tradisi yang berlaku di seluruh wilayah Indonesia.
Jangan Sampai Memberatkan Keluarga yang Berduka
Di tengah perdebatan yang berkembang, banyak masyarakat berharap nilai utama tahlilan tetap menjadi sarana memperbanyak doa, mempererat silaturahmi, dan memberikan dukungan kepada keluarga yang sedang berduka.
Sejumlah tokoh masyarakat pun mengingatkan agar adat yang berkembang tidak menggeser esensi utama tahlilan, yaitu mendoakan almarhum serta menghadirkan rasa kebersamaan tanpa membebani pihak yang ditinggalkan.
***
Sumber: Akun medsos.
Penulis: Vico Rahman.

Tinggalkan Balasan