Queensha.id – Edukasi Islam,
Sejumlah ulama terkemuka di Indonesia mengingatkan bahwa ibadah Sholat tidak cukup hanya dilakukan secara lahiriah. Tanpa kehadiran hati dan pemahaman, sholat berpotensi kehilangan nilai pahalanya meski secara hukum tetap sah.
Tokoh ulama seperti Quraish Shihab menekankan bahwa inti sholat terletak pada kekhusyukan dan kesadaran penuh saat beribadah. Menurutnya, sholat bukan sekadar rangkaian bacaan dan gerakan, tetapi bentuk komunikasi langsung antara hamba dengan Allah.
Pandangan serupa juga disampaikan oleh Abdul Somad yang kerap mengingatkan pentingnya menghadirkan hati dalam setiap rakaat. Ia menilai banyak umat Islam yang menjalankan sholat, tetapi pikirannya justru sibuk dengan urusan dunia, sehingga mengurangi kualitas ibadah.
Sementara itu, Yusuf Mansur menyoroti pentingnya memahami bacaan sholat. Menurutnya, ketika seseorang mengerti arti dari ayat-ayat yang dibaca (terutama dalam Surah Al-Fatihah) maka akan muncul rasa kedekatan spiritual yang lebih kuat.
Dalam perspektif ulama, salah satu kesalahan mendasar adalah tidak adanya Khusyuk. Kondisi ini membuat sholat terasa hampa, meski secara fisik telah ditunaikan dengan lengkap. Selain itu, kurangnya Tuma’ninah atau ketenangan dalam gerakan juga menjadi perhatian, karena dapat mengurangi kesempurnaan ibadah.
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia dalam berbagai kesempatan juga mengingatkan bahwa sholat seharusnya menjadi sarana pembentuk akhlak. Jika seseorang rajin sholat tetapi perilakunya tidak berubah, maka ada yang perlu diperbaiki dalam kualitas ibadahnya.
Para ulama sepakat, bahaya terbesar bukan hanya meninggalkan sholat, tetapi menjalankannya tanpa kesadaran dan penghayatan. Sholat yang dilakukan sekadar rutinitas berisiko kehilangan ruhnya dan pada akhirnya kehilangan dampak dalam kehidupan sehari-hari.
Mereka pun mengajak umat Islam untuk mulai memperbaiki kualitas sholat, dimulai dari hal sederhana yaitu memperlambat gerakan, memahami bacaan, serta menghadirkan hati sepenuhnya saat berdiri di hadapan Allah.
Sebab pada akhirnya, nilai sholat tidak diukur dari seberapa sering dilakukan, melainkan seberapa dalam ia menghadirkan kedekatan dengan Sang Pencipta.
***
(22 April 2026)

Tinggalkan Balasan