Queensha.id – Edukasi Islam,

 

Sebuah curhatan seorang wanita di media sosial menjadi perbincangan hangat setelah mengungkap pengalaman pahit selama menjalani kehidupan rumah tangga dengan seorang pria yang dinilainya sangat memahami ilmu agama.

Pernyataan yang paling menyita perhatian berbunyi:

“Jangan menikah dengan laki-laki yang paham agama, karena nanti setiap kesalahannya selalu ditutupi dengan dalil.”

Ungkapan tersebut memicu beragam respons. Sebagian warganet mengaku memahami kekecewaan yang dirasakan wanita tersebut, sementara sebagian lainnya menilai pernyataan itu terlalu menggeneralisasi dan berpotensi menimbulkan kesalahpahaman terhadap orang-orang yang benar-benar mengamalkan ajaran agama.

 

Merasa Selalu Dikalahkan dengan Dalil

Dalam curhatannya, wanita itu menjelaskan bahwa persoalan yang dialaminya bukan karena agama itu sendiri, melainkan karena sikap suaminya yang kerap menggunakan ayat Al-Qur’an, hadis, maupun penjelasan agama untuk membenarkan tindakannya ketika terjadi perselisihan.

Ia mengaku sering merasa pendapatnya tidak pernah didengar karena selalu dibantah dengan dalil. Akibatnya, setiap konflik berakhir tanpa adanya ruang dialog yang sehat dan saling memahami.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat dirinya semakin tertekan karena merasa tidak memiliki kesempatan untuk menyampaikan pendapat secara setara.

 

Warganet Beri Tanggapan Beragam

Curhatan tersebut langsung dibanjiri ribuan komentar.

Sebagian pengguna media sosial mengaku pernah mengalami pengalaman serupa, yaitu ketika ajaran agama dijadikan alat untuk memenangkan perdebatan, bukan sebagai pedoman untuk memperbaiki diri.

Namun, banyak pula yang memberikan pandangan berbeda. Mereka menilai bahwa persoalan utama bukan terletak pada seseorang yang memahami agama, melainkan pada karakter dan cara seseorang mengamalkan ilmu yang dimilikinya.

Menurut mereka, orang yang benar-benar memahami agama justru akan lebih rendah hati, mampu mengakui kesalahan, bersikap adil terhadap pasangan, serta mengedepankan kasih sayang dalam rumah tangga.

 

Pakar Psikologi: Ilmu Tidak Menentukan Kedewasaan Emosional

Psikolog keluarga pada umumnya menjelaskan bahwa pengetahuan yang tinggi, termasuk pengetahuan agama, tidak selalu sejalan dengan kedewasaan emosional.

Dalam hubungan pernikahan, komunikasi yang sehat ditandai dengan adanya kemampuan mendengarkan pasangan, mengakui kesalahan, menyelesaikan konflik secara setara, serta tidak menggunakan posisi, pengetahuan, maupun kekuasaan untuk membungkam pasangan.

Ketika seseorang menggunakan dalil hanya untuk memenangkan argumen tanpa disertai empati dan introspeksi, yang muncul bukan lagi proses penyelesaian masalah, melainkan relasi yang tidak seimbang.

 

Perspektif Islam: Akhlak Lebih Utama

Dalam ajaran Islam, ilmu memiliki kedudukan yang tinggi. Namun para ulama sejak dahulu menegaskan bahwa ilmu harus melahirkan akhlak yang baik.

Rasulullah SAW dikenal sebagai teladan dalam memperlakukan istri dengan kelembutan, musyawarah, serta kasih sayang. Dalam kehidupan rumah tangga, beliau tidak menjadikan ilmu sebagai alat untuk merendahkan pasangan, tetapi sebagai jalan menuju kebaikan bersama.

Karena itu, banyak tokoh agama berpendapat bahwa seseorang tidak dapat dinilai hanya dari banyaknya hafalan dalil atau kemampuan berbicara tentang agama, melainkan dari bagaimana nilai-nilai agama tersebut tercermin dalam perilaku sehari-hari.

 

Ilmu Agama Ibarat Pisau Bermata Dua

Sejumlah warganet mengibaratkan ilmu agama seperti pisau bermata dua.

Jika dipahami dan diamalkan dengan benar, ilmu agama akan menghadirkan ketenangan, keadilan, tanggung jawab, serta kasih sayang dalam rumah tangga.

Sebaliknya, apabila digunakan untuk membenarkan kesalahan, mengendalikan pasangan, atau menghindari tanggung jawab, maka ilmu tersebut justru dapat disalahgunakan dan menimbulkan luka batin bagi pasangan.

 

 

Jadi, curhatan wanita tersebut membuka ruang diskusi yang lebih luas mengenai pentingnya membedakan antara pemahaman agama dan karakter seseorang.

Menilai calon pasangan tidak cukup hanya dari kemampuan menyampaikan dalil atau pengetahuan agamanya. Sikap jujur, tanggung jawab, empati, kemampuan meminta maaf, serta kesediaan memperlakukan pasangan dengan hormat juga merupakan bagian penting dari nilai-nilai agama yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian, persoalannya bukan pada agama atau ilmu yang dimiliki seseorang, melainkan pada bagaimana ilmu tersebut diamalkan dengan akhlak yang baik dan tidak dijadikan alat untuk membenarkan setiap kesalahan.

***

Sumber,: TIS.

Penulis: Vico Rahman.