Queensha.id – Jepara,
Jagat media sosial kembali dihebohkan dengan unggahan video yang memperlihatkan dugaan modus meminta uang dengan alasan kehabisan ongkos untuk pulang ke daerah asal.
Video tersebut diunggah akun TikTok dan ramai diperbincangkan warga, khususnya di wilayah Jepara.
Dalam unggahan tersebut, terlihat seorang pria dan perempuan mendatangi sebuah warung atau toko sambil meminta bantuan uang ongkos dengan alasan hendak pulang ke luar kota.
Tulisan dalam video itu menyebut bahwa pasangan tersebut diduga sudah beberapa kali mendatangi warga dengan cerita serupa.
Disebut Datang Lebih dari Satu Kali
Berdasarkan tulisan yang terlihat di dalam video, pengunggah mengaku sempat merasa iba dan pernah memberikan bantuan pada kedatangan pertama.
Namun saat pasangan tersebut kembali datang dengan alasan yang sama, muncul kecurigaan dari warga.
“Yang sekitar mlonggo didatengin nggak ya sama dua orang ini, saya udah didatengin dua kali,” tulis keterangan dalam video tersebut.
Pengunggah juga menuliskan bahwa pasangan itu disebut meminta ongkos dengan alasan hendak pulang ke Bekasi.
“Katanya yang perempuan sama kakaknya minta ongkos mau ke Bekasi, beneran nggak sih?” lanjut tulisan dalam unggahan tersebut.
Tidak hanya itu, dalam narasi video juga disebutkan bahwa keduanya terlihat masih sehat dan dianggap masih mampu bekerja.
Warga Mulai Curiga Dugaan Modus
Unggahan tersebut memancing beragam komentar dari masyarakat. Sebagian warga mengaku pernah menemui orang dengan modus serupa di beberapa titik wilayah Jepara.
Salah seorang warga sekitar bernama Rudi Hartono (41), warga Kecamatan Mlonggo, mengaku pernah melihat pasangan yang disebut dalam video tersebut berkeliling dari warung ke warung.
“Kalau benar orang yang sama, saya juga pernah lihat muter-muter di sekitar jalan raya sambil berhenti di toko-toko kecil,” ujarnya saat ditemui warga sekitar.
Sementara itu, Nur Aini (36), warga asal Desa Srobyong, mengatakan masyarakat sebenarnya mudah merasa kasihan ketika ada orang mengaku terlantar atau kehabisan ongkos.
“Namanya orang minta tolong ya kadang kita nggak tega. Tapi kalau ternyata dipakai buat modus terus ya masyarakat juga jadi waspada,” katanya.
Fenomena Sosial yang Semakin Sering Terjadi
Fenomena meminta bantuan ongkos dengan alasan ingin pulang kampung memang belakangan cukup sering ditemukan di berbagai daerah.
Modusnya pun hampir serupa, mulai dari mengaku kehilangan dompet, kehabisan bensin, terlantar, hingga tidak memiliki biaya untuk kembali ke kampung halaman.
Tidak sedikit masyarakat yang akhirnya memilih memberikan bantuan karena rasa iba dan kemanusiaan.
Namun di sisi lain, maraknya dugaan modus seperti ini membuat sebagian warga mulai bingung membedakan mana orang yang benar-benar membutuhkan bantuan dan mana yang diduga memanfaatkan belas kasihan publik.
Masyarakat Diimbau Tetap Bijak dan Tidak Mudah Menghakimi
Meski video tersebut viral dan memunculkan dugaan penipuan, masyarakat juga diimbau tetap berhati-hati dalam menyimpulkan suatu peristiwa.
Sebab hingga kini belum ada pernyataan resmi dari pihak berwenang terkait identitas maupun dugaan pelanggaran hukum dalam kasus tersebut.
Pengamat sosial menilai fenomena viral di media sosial sering kali membuat seseorang cepat dihakimi tanpa adanya klarifikasi lengkap.
Karena itu, warga disarankan tetap mengedepankan empati namun juga berhati-hati ketika memberikan bantuan kepada orang yang tidak dikenal.
Jika menemukan orang yang benar-benar terlantar, masyarakat dapat mengarahkan ke perangkat desa, dinas sosial, atau pihak berwenang agar mendapat penanganan yang tepat.
Media Sosial Jadi Sarana Saling Mengingatkan
Di sisi lain, viralnya unggahan tersebut menunjukkan bahwa media sosial kini juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk saling berbagi informasi dan meningkatkan kewaspadaan sosial.
Namun masyarakat diingatkan agar tidak mudah menyebarkan identitas seseorang secara berlebihan tanpa kepastian fakta karena berpotensi menimbulkan persoalan hukum maupun sosial di kemudian hari.
Fenomena ini sekaligus menjadi pengingat penting bahwa di era digital, masyarakat perlu menjaga keseimbangan antara rasa empati, kewaspadaan, dan etika dalam bermedia sosial.
***
Queensha Jepara, 22 Mei 2026.

Tinggalkan Balasan