Queensha.id – Jepara,
Sebuah rumah warga di Desa Bandungrejo, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara mengalami kerusakan akibat getaran suara sound horeg saat festival takbir keliling malam Idul Adha 1447 Hijriah, Selasa (26/5/2026) malam. Peristiwa tersebut viral di media sosial setelah video kondisi rumah rusak beredar luas di internet.
Video yang diunggah akun Instagram “infoseputarjepara” memperlihatkan sejumlah bagian rumah mengalami kerusakan cukup parah. Dalam rekaman tersebut tampak kaca jendela pecah hingga plafon rumah berjatuhan akibat getaran suara keras dari sound system berukuran besar yang digunakan dalam iring-iringan takbir keliling.
Narasi dalam unggahan itu bertuliskan “Rumah hancur efek sound horeg”, sementara keterangan video menjelaskan bahwa kejadian berlangsung saat festival takbir di Desa Bandungrejo, Kecamatan Kalinyamatan.
Unggahan tersebut langsung menarik perhatian warganet dan menuai berbagai komentar. Sebagian masyarakat menilai penggunaan sound horeg dengan volume ekstrem sudah semakin meresahkan karena dinilai mengganggu lingkungan hingga membahayakan bangunan warga.
Kasi Humas Polres Jepara, AKP Dwi Prayitna, membenarkan adanya peristiwa rumah warga yang rusak akibat getaran sound horeg tersebut.
“Iya benar. Itu rangkaian acara takbir keliling,” jelasnya saat dikonfirmasi, Rabu (27/5/2026).
Menurutnya, kerusakan terjadi pada satu unit rumah warga. Bagian yang terdampak meliputi kaca jendela dan plafon rumah yang pecah akibat getaran suara dengan intensitas tinggi.
“Yang rusak satu rumah saja,” ujarnya.
Meski demikian, pihak kepolisian menyebut situasi sudah diselesaikan secara kekeluargaan. Panitia festival disebut bersedia mengganti seluruh kerusakan rumah warga yang terdampak.
“Panitia bersedia mengganti kerusakan rumah warga. Sebelumnya memang sudah ada kesepakatan bersama apabila terjadi kerusakan akan diganti,” terang Dwi.
Ia menjelaskan, sebenarnya persoalan antara warga dan panitia sudah tidak menjadi konflik serius. Namun video yang telanjur diunggah ke media sosial membuat kejadian tersebut viral dan ramai diperbincangkan masyarakat luas.
Fenomena sound horeg sendiri belakangan menjadi sorotan di berbagai daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sound horeg identik dengan penggunaan pengeras suara berdaya besar yang menghasilkan getaran keras hingga dapat dirasakan dari jarak tertentu.
Di sejumlah daerah, penggunaan sound horeg saat karnaval, hajatan, hingga takbir keliling sering memicu keluhan warga karena dianggap mengganggu kenyamanan, memicu kebisingan berlebihan, bahkan berpotensi merusak bangunan.
Pengamat sosial menilai tren sound horeg kini bukan sekadar hiburan, tetapi sudah menjadi simbol gengsi dalam berbagai acara masyarakat. Semakin besar dan keras suara sound system yang digunakan, semakin dianggap meriah oleh sebagian kelompok.
Namun di sisi lain, masyarakat diimbau tetap memperhatikan aspek keselamatan dan kenyamanan lingkungan. Penggunaan sound system berlebihan dikhawatirkan tidak hanya mengganggu kesehatan pendengaran, tetapi juga menimbulkan dampak fisik akibat getaran ekstrem.
Sejumlah warga Jepara di media sosial juga meminta adanya aturan yang lebih tegas terkait batas penggunaan sound system dalam kegiatan masyarakat agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Sementara itu, tradisi takbir keliling sendiri merupakan budaya masyarakat yang sudah lama dilakukan untuk menyambut Hari Raya Idul Adha. Namun banyak pihak berharap pelaksanaannya tetap mengedepankan keamanan, ketertiban, dan kenyamanan warga sekitar.
***
Queensha Jepara, 27 Mei 2026.

Tinggalkan Balasan