Queensha.id – Jepara,

 

Unggahan akun Facebook Abdalla Badri milik M. Abdullah Badri kembali menjadi perhatian warganet. Dalam tulisannya yang berjudul “Biduan Norak Orkes Zaman Now”, yang diunggah pada Kamis (2/7/2026), ia menyampaikan kritik terhadap fenomena hiburan orkes dangdut yang menurutnya mengalami pergeseran dari nilai-nilai hiburan yang pernah berkembang sebelumnya.

Dalam narasinya, Abdullah Badri membandingkan penampilan biduan pada masa lalu dengan kondisi saat ini. Ia berpendapat bahwa sebagian penampilan penyanyi dangdut kini dinilai lebih terbuka dibandingkan sebelumnya sehingga memunculkan berbagai persepsi di tengah masyarakat.

Menurutnya, daya tarik sebuah pertunjukan seharusnya tidak hanya bertumpu pada penampilan panggung, tetapi juga kualitas vokal, musikalitas, serta nilai hiburan yang dapat dinikmati seluruh lapisan masyarakat.

 

Soroti Pergeseran Fungsi Hiburan

Melalui tulisannya, Abdullah Badri juga mengungkapkan pandangannya bahwa sebagian penyelenggaraan orkes saat ini dinilai telah bergeser dari fungsi hiburan menjadi ajang yang berpotensi memicu perilaku negatif apabila tidak dikelola dengan baik.

Ia menyinggung keberadaan minuman keras di sebagian kegiatan hiburan serta potensi gangguan ketertiban yang menurutnya perlu menjadi perhatian bersama.

Selain itu, ia juga menyoroti pertunjukan wayang maupun musik religi yang terkadang dipadukan dengan orkes dangdut. Menurutnya, perpaduan tersebut berpotensi mengubah suasana acara apabila tidak tetap menjaga nilai-nilai budaya dan ketertiban.

Tulisan tersebut merupakan opini pribadi penulis yang disampaikan melalui media sosial dan mencerminkan pandangannya terhadap fenomena yang ia amati.

 

Pengamat Sosial Jepara: Hiburan Harus Tetap Menjaga Nilai Budaya

Menanggapi fenomena tersebut, pengamat sosial asal Jepara, Purnomo Wardoyo, menilai bahwa hiburan rakyat merupakan bagian dari kehidupan sosial masyarakat yang memiliki fungsi penting sebagai sarana rekreasi, penggerak ekonomi, sekaligus ruang interaksi sosial.

Namun demikian, menurutnya, penyelenggaraan hiburan sebaiknya tetap memperhatikan norma, etika, dan kearifan lokal agar dapat dinikmati seluruh kalangan.

“Hiburan rakyat tetap memiliki tempat di hati masyarakat. Tetapi penyelenggara, pengisi acara, penonton, dan seluruh pihak perlu bersama-sama menjaga nilai kesopanan, keamanan, dan budaya lokal. Jika semua pihak saling menghormati aturan, hiburan akan tetap menjadi sarana kebersamaan tanpa menghilangkan identitas budaya yang kita miliki,” ujar Purnomo Wardoyo, Kamis (2/7/2026).

Ia menambahkan bahwa seni pertunjukan akan lebih dihargai apabila mampu mengedepankan kualitas musik, kreativitas, dan profesionalisme dibandingkan sekadar mengejar sensasi.

 

Perlu Kolaborasi Semua Pihak

Purnomo Wardoyo juga berpandangan bahwa menjaga ketertiban dalam penyelenggaraan hiburan bukan hanya menjadi tanggung jawab aparat keamanan, melainkan memerlukan kolaborasi antara penyelenggara acara, pemerintah desa, tokoh masyarakat, seniman, dan para penonton.

Menurutnya, ketika seluruh elemen memiliki kesadaran untuk menciptakan suasana yang aman, tertib, dan nyaman, hiburan rakyat akan tetap menjadi bagian penting dari budaya masyarakat tanpa menimbulkan keresahan.

Unggahan M. Abdullah Badri pun memicu beragam tanggapan di media sosial. Sebagian warganet mendukung pandangan tersebut sebagai bentuk kritik sosial, sementara yang lain berpendapat bahwa penilaian terhadap pertunjukan seni dapat berbeda-beda sesuai sudut pandang masing-masing. Di sisi lain, banyak pihak sepakat bahwa penyelenggaraan hiburan yang aman, tertib, dan menghormati norma sosial merupakan harapan bersama masyarakat.

 

Sumber: Abdullah Badri.

Penulis: Vico Rahman.