Queensha.id – Edukasi Sosial,
Fenomena konflik kecil di jalan yang mendadak viral di media sosial semakin sering terjadi. Mulai dari kasus meludahi orang di jalan, memukul orang di tempat umum, cekcok antar pengendara mobil dan motor, hingga berbagai bentuk kekerasan yang terekam kamera ponsel.
Peristiwa yang awalnya terlihat sepele kini bisa berubah menjadi masalah besar karena tersebar luas di dunia maya.
Di era ketika hampir setiap orang memegang telepon pintar dan aktif di media sosial, setiap kejadian di ruang publik berpotensi menjadi tontonan publik. Video singkat yang direkam tanpa konteks lengkap bisa memicu perdebatan luas, bahkan berujung laporan hukum.
Pengamat sosial asal Jepara, Purnomo Wardoyo, menilai masyarakat perlu meningkatkan kesadaran untuk mengendalikan emosi ketika berada di ruang publik.
Menurutnya, banyak konflik yang sebenarnya bisa dihindari jika seseorang memilih menahan diri.
“Sekarang ini situasinya berbeda. Hal kecil bisa direkam, diunggah, lalu menjadi viral. Karena itu, menjauh dari konflik bukan berarti kalah, justru langkah bijak agar masalah kecil tidak berkembang menjadi persoalan hukum atau sosial,” ujar Purnomo, Minggu (15/3).
Ia juga mengingatkan bahwa selain kamera ponsel, saat ini keberadaan kamera CCTV semakin mudah ditemukan di berbagai tempat, mulai dari jalan raya, pertokoan, tempat parkir, hingga permukiman warga.
“Zaman sekarang hampir semua sudut kota ada kamera CCTV. Jadi apa pun yang terjadi di ruang publik sangat mungkin terekam. Hal itu bisa menjadi bukti jika terjadi konflik atau laporan hukum,” tambahnya.
Menurut Purnomo, kecenderungan masyarakat yang cepat melaporkan persoalan ke aparat penegak hukum juga menjadi faktor yang memperbesar dampak konflik kecil.
“Sekarang sedikit-sedikit lapor polisi. Padahal belum tentu persoalan tersebut memenuhi unsur tindak pidana. Namun karena sudah viral atau ada rekaman video, kasusnya bisa berkembang menjadi panjang,” katanya.
Cara Menjaga Diri dari Konfli Mendadak di Lapangan
Agar tidak terjebak dalam konflik yang berpotensi viral atau berujung hukum, Purnomo Wardoyo membagikan sejumlah langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat:
1. Kendalikan emosi di ruang publik
Ketika menghadapi provokasi atau situasi tidak menyenangkan, langkah pertama adalah menahan emosi. Respons yang terburu-buru sering kali memperkeruh keadaan.
2. Hindari konfrontasi langsung
Jika terjadi cekcok di jalan atau tempat umum, sebaiknya menghindari adu argumen yang berlarut-larut. Berdebat di tengah keramaian justru bisa memancing perhatian orang lain.
3. Menjauh dari lokasi konflik
Pergi meninggalkan lokasi sering kali menjadi pilihan paling aman. Menurut Purnomo, menjauh bukan berarti kalah, tetapi langkah bijak untuk menghindari eskalasi masalah.
4. Jangan terpancing provokasi
Banyak konflik bermula dari provokasi kecil, seperti ejekan, klakson berlebihan, atau sikap tidak sopan di jalan. Jika terpancing, situasi bisa cepat memanas.
5. Utamakan keselamatan diri
Keselamatan pribadi harus menjadi prioritas. Jika situasi terlihat berpotensi berbahaya, segera mencari tempat aman atau meminta bantuan pihak berwenang.
6. Ingat bahwa setiap tindakan bisa terekam
Di era digital, tindakan di ruang publik sangat mungkin terekam oleh kamera ponsel maupun CCTV. Sikap agresif atau kasar dapat dengan mudah tersebar dan memicu penilaian publik yang merugikan.
Kesadaran Baru di Era Digital
Purnomo menilai masyarakat perlu memahami bahwa ruang publik saat ini tidak hanya berada di dunia nyata, tetapi juga di dunia digital. Setiap tindakan dapat terekam dan dinilai oleh banyak orang.
“Kesadaran ini penting. Kita harus lebih bijak dalam bersikap di tempat umum, karena satu tindakan kecil bisa berdampak besar ketika sudah viral,” ujarnya.
Ia menegaskan, menjaga sikap, mengendalikan emosi, serta memilih menjauh dari konflik adalah langkah sederhana namun efektif untuk menghindari masalah yang lebih besar.
“Waspada dan bijak dalam bertindak adalah kunci agar tidak terjebak dalam konflik yang sebenarnya bisa dihindari,” pungkasnya.
***
Minggu, (15/3/2026)

Tinggalkan Balasan