Queensha.id – Edukasi Sosial,

 

Banyak orang tua pernah menghadapi situasi ketika anak merengek meminta dibelikan mainan, jajanan, atau barang yang diinginkan. Tanpa berpikir panjang, sebagian orang tua spontan menjawab, “Tidak punya uang,” “Uangnya tidak ada,” atau “Kita tidak mampu membeli itu.”

Kalimat tersebut memang sering dianggap sebagai cara paling mudah untuk menghentikan rengekan anak. Namun, menurut para psikolog, kebiasaan tersebut justru dapat memberikan dampak jangka panjang terhadap cara anak memandang uang dan kondisi ekonomi keluarganya.

 

Anak Bisa Salah Memahami Kondisi Keuangan Keluarga

Para ahli psikologi menjelaskan bahwa anak belum memiliki kemampuan berpikir seperti orang dewasa.

Ketika berulang kali mendengar kalimat “kita tidak punya uang”, anak bisa menganggap keluarganya benar-benar sedang mengalami kesulitan ekonomi.

Akibatnya, sebagian anak menjadi cemas, merasa bersalah ketika meminta sesuatu, bahkan takut membebani orang tuanya.

Menurut American Psychological Association (APA), cara anak memahami uang mulai terbentuk sejak usia dini. Karena itu, komunikasi orang tua mengenai keuangan memiliki pengaruh besar terhadap pola pikir anak saat dewasa.

 

Ajarkan Prioritas, Bukan Kekurangan

Psikolog menyarankan agar orang tua mengganti kalimat “tidak punya uang” dengan penjelasan yang lebih mendidik.

Misalnya:

  • “Saat ini uangnya dipakai untuk kebutuhan yang lebih penting.”
  • “Kita perlu menabung dulu supaya nanti bisa membelinya.”
  • “Masukkan dulu ke daftar keinginan, nanti kita pertimbangkan saat ulang tahun atau momen spesial.”

Kalimat seperti ini mengajarkan bahwa setiap keputusan membeli sesuatu didasarkan pada prioritas, bukan semata-mata karena tidak memiliki uang.

 

Mengajarkan Anak Menabung

Mengajak anak menabung juga menjadi salah satu cara efektif membangun kebiasaan finansial yang sehat.

Dengan menabung, anak belajar bahwa memperoleh sesuatu membutuhkan proses, kesabaran, dan perencanaan.

Konsep ini dikenal dalam psikologi sebagai delayed gratification, yaitu kemampuan menunda kesenangan demi tujuan yang lebih besar. Kemampuan tersebut terbukti berkaitan dengan pengelolaan keuangan yang lebih baik saat seseorang dewasa.

 

Bangun Literasi Keuangan Sejak Dini

Pakar parenting menilai pendidikan keuangan tidak harus dimulai ketika anak sudah besar.

Justru sejak usia dini, anak dapat dikenalkan pada konsep sederhana, seperti membedakan antara kebutuhan dan keinginan, pentingnya menabung, serta memahami bahwa uang harus dikelola dengan bijaksana.

Orang tua juga dianjurkan memberikan contoh nyata melalui kebiasaan sehari-hari, karena anak cenderung meniru perilaku yang mereka lihat dibanding hanya mendengar nasihat.

 

Komunikasi yang Positif Lebih Baik

Psikolog menegaskan bahwa tujuan utama bukan selalu memenuhi semua keinginan anak, melainkan mengajarkan mereka cara mengambil keputusan yang bijak.

Kalimat yang positif dapat membantu anak memahami bahwa orang tua sedang mengatur keuangan keluarga secara bertanggung jawab, bukan karena keluarga selalu kekurangan uang.

Dengan komunikasi yang tepat, anak akan tumbuh dengan pola pikir finansial yang sehat, lebih menghargai proses, mampu mengendalikan keinginan, serta memiliki kebiasaan mengelola uang secara bijaksana ketika dewasa nanti.

 

***

Penulis: Vico Rahman.