Queensha.id – Edukasi Sosial,

 

Fenomena “bermulut manis” namun menyimpan kepalsuan bukan sekadar persoalan etika sosial, tetapi juga menjadi perhatian serius dalam pandangan keagamaan. Sejumlah ulama terkemuka di Indonesia menegaskan bahwa sikap pura-pura baik merupakan bagian dari penyakit hati yang berbahaya, bahkan dapat menyeret seseorang pada kemunafikan.

Dalam kajian akhlak Islam, perilaku yang tampak baik di luar namun bertentangan dengan isi hati dikenal sebagai bagian dari sifat nifaq (kemunafikan). KH. Hasyim Muzadi pernah menegaskan bahwa kemunafikan bukan hanya soal keyakinan, tetapi juga tercermin dalam sikap dan perilaku sehari-hari, termasuk cara seseorang berinteraksi dengan orang lain.

 

Baik Hanya Saat Dilihat: Ciri Awal Kepalsuan

Ulama kharismatik KH. Ahmad Mustofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus menjelaskan, keikhlasan adalah inti dari setiap amal. Ketika seseorang hanya menunjukkan kebaikan saat dilihat orang lain, maka itu bukan lagi kebaikan, melainkan pencitraan.

“Orang yang ikhlas tidak butuh panggung,” demikian sering disampaikan dalam berbagai pengajian. Sikap baik yang bergantung pada perhatian orang lain menunjukkan bahwa orientasinya bukan pada nilai, tetapi pada penilaian.

 

Pujian Berselimut Sindiran: Halus tapi Menyakiti

Fenomena pujian yang disertai sindiran juga disorot oleh Buya Yahya. Ia menilai bahwa ucapan seperti itu bisa menjadi bentuk kesombongan yang tersembunyi.
Menurutnya, pujian dalam Islam seharusnya menguatkan, bukan merendahkan secara halus. Kalimat seperti “kamu hebat, tidak seperti biasanya” justru mengandung unsur meremehkan yang bisa melukai hati.

“Lisan adalah cermin hati. Jika hati bersih, maka ucapan pun akan menyejukkan,” ujarnya dalam salah satu ceramahnya.

Menghormati Berdasarkan Status: Tanda Kebaikan yang Bersyarat
Sementara itu, Ustadz Adi Hidayat menyoroti kebiasaan sebagian orang yang hanya bersikap baik kepada mereka yang dianggap memiliki kedudukan atau manfaat.

Menurutnya, Islam mengajarkan kesetaraan dalam memuliakan manusia. Sikap membeda-bedakan perlakuan berdasarkan status sosial menunjukkan bahwa kebaikan tersebut tidak lahir dari hati yang tulus.

“Kalau kita hanya baik kepada yang menguntungkan, itu bukan akhlak, itu strategi,” tegasnya.

Antara Akhlak dan Kepentingan
Para ulama sepakat bahwa kebaikan sejati tidak bersyarat. Ia tidak berubah karena situasi, tidak bergantung pada siapa yang melihat, dan tidak ditujukan untuk keuntungan pribadi.

Fenomena “bermulut manis” menjadi pengingat bahwa tidak semua kebaikan yang tampak adalah kebaikan yang nyata. Dalam perspektif Islam, kejujuran hati dan ketulusan niat menjadi ukuran utama, bukan sekadar penampilan luar.

Masyarakat pun diimbau untuk lebih bijak dalam menilai karakter seseorang, sekaligus melakukan introspeksi diri agar tidak terjebak dalam sikap serupa.

 

***
(Redaksi Queensha Jepara | 4 April 2026)