Queensha.id – Edukasi Islam,

Dalam kehidupan yang penuh tekanan dan persoalan, tak sedikit orang merasa kehilangan tempat bersandar. Namun dalam ajaran Islam, ruang untuk mengadu sesungguhnya selalu terbuka—yakni langsung kepada Allah SWT, Sang Maha Mendengar segala keluh kesah hamba-Nya.

Ungkapan “jika merasa susah, mengadulah dan menangislah kepada Allah” sejalan dengan nilai-nilai spiritual dalam Islam. Mengadu kepada Allah bukan sekadar bentuk pelarian emosional, melainkan bagian dari ibadah yang menunjukkan ketergantungan seorang hamba kepada Tuhannya.

Dalam perspektif Islam, mencurahkan isi hati kepada Allah dikenal sebagai doa dan munajat. Bahkan tanpa kata-kata, sujud seorang hamba sudah menjadi bahasa paling dalam yang dipahami oleh-Nya.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an bahwa Dia Maha Mengetahui isi hati manusia, bahkan sebelum diucapkan. Karena itu, menangis dalam doa atau sujud bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk ketulusan iman.

Para ulama menjelaskan bahwa kesedihan, kegelisahan, dan kesempitan hidup justru bisa menjadi jalan mendekatkan diri kepada Allah. Tangisan dalam sujud disebut sebagai salah satu tanda hati yang hidup dan penuh kesadaran spiritual.

Di Indonesia, pandangan serupa juga disampaikan oleh sejumlah ulama terkemuka. Quraish Shihab, misalnya, menegaskan bahwa doa tidak selalu harus dengan rangkaian kata indah. Menurutnya, kehadiran hati yang tulus di hadapan Allah jauh lebih penting daripada sekadar lafaz.

Sementara itu, Abdul Somad kerap mengingatkan bahwa tempat terbaik untuk mengadu adalah saat sujud, karena pada posisi itulah seorang hamba berada paling dekat dengan Allah SWT.

Pandangan lain datang dari Gus Baha yang menyampaikan bahwa Allah tidak menilai panjang pendeknya doa, melainkan kejujuran hati. Bahkan diam dalam sujud pun bisa menjadi bentuk komunikasi yang paling dalam antara hamba dan Tuhannya.

Dengan demikian, Islam tidak hanya membolehkan, tetapi juga menganjurkan umatnya untuk mengadu langsung kepada Allah dalam setiap kesulitan. Tangisan yang jatuh dalam doa bukanlah tanda putus asa, melainkan bukti bahwa seseorang masih memiliki harapan kepada Sang Pencipta.

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang seringkali membuat manusia merasa sendirian, ajaran ini menjadi pengingat bahwa selalu ada tempat kembali yakni kepada Allah, yang tak pernah lelah mendengar setiap rintihan hamba-Nya.

 

***
(13 April 2026)