Queensha.id – Jepara,

 

Duka mendalam menyelimuti keluarga Siti Rohmah (51), calon jemaah haji asal Desa Margoyoso, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara. Impian suci yang telah ia tunggu selama 14 tahun harus pupus seketika setelah dirinya meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas pada Minggu (12/4/2026) malam.

Rohmah tertabrak sepeda motor hanya beberapa hari menjelang keberangkatannya ke Tanah Suci. Kepergiannya tak hanya meninggalkan luka bagi keluarga, tetapi juga menyisakan kisah pilu tentang harapan panjang yang tak pernah sampai.

Suaminya, Ahmad Saidi, yang selama ini setia menanti momen berhaji bersama, kini harus merelakan kepergian sang istri dalam kondisi yang begitu mendadak.

Penantian 14 Tahun yang Berakhir Duka
Berdasarkan informasi yang dihimpun, Rohmah telah mendaftarkan diri sebagai calon jemaah haji sejak akhir tahun 2012. Setelah lebih dari satu dekade menunggu antrean, namanya akhirnya masuk dalam daftar keberangkatan tahun 2026.

Namun takdir berkata lain. Rencana suci yang telah disusun matang bersama keluarga kini sirna hanya dalam hitungan hari.

 

Dilema Keluarga: Pelimpahan atau Penarikan Dana

Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Jepara, Siti Zuliyati, mengungkapkan bahwa hingga kini pihak keluarga belum menentukan langkah lanjutan terkait status keberangkatan almarhumah.

“Ada dua opsi yang bisa diambil, yakni pelimpahan porsi haji kepada ahli waris atau penarikan setoran Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih),” jelasnya.

Namun kedua pilihan tersebut bukan tanpa konsekuensi.

 

Proses Rumit, Waktu Tak Memihak

Jika keluarga memilih pelimpahan, ahli waris harus melalui proses administrasi yang cukup panjang. Sementara itu, Rohmah sendiri dijadwalkan berangkat dalam kloter 39 pada 5 Mei 2026.
Dengan waktu yang tersisa sangat terbatas, peluang ahli waris untuk berangkat menggantikan tahun ini dinilai hampir mustahil.

Sebaliknya, jika dana Bipih ditarik, kursi yang telah tersedia akan dialihkan kepada calon jemaah cadangan. Namun kursi tersebut tidak otomatis diberikan kepada warga Jepara, melainkan berdasarkan antrean se-Jawa Tengah.

 

Keputusan yang Menunggu Kepastian

Hingga kini, keluarga masih dalam suasana duka dan belum memberikan keputusan resmi. Di tengah kesedihan, mereka dihadapkan pada pilihan administratif yang tak mudah.

Pihak terkait berharap keluarga segera menentukan sikap agar proses pengelolaan kuota haji dapat berjalan sesuai jadwal.

Tragedi ini menjadi pengingat pahit bahwa di balik panjangnya antrean ibadah haji, tersimpan kisah-kisah perjuangan, harapan, dan tak jarang tragedi kehilangan yang menyayat hati. Sebuah perjalanan suci yang bagi Siti Rohmah, harus berakhir sebelum sempat dimulai.

 

***