Queensha.id – Inspirasi Hidup,

 

Di tengah maraknya budaya pamer kekayaan atau flexing di era digital, sebuah falsafah Jawa kuno kembali terasa relevan: “Sugih Tanpa Banda”—kaya tanpa harta. Ungkapan ini bukan sekadar pepatah, melainkan cerminan nilai hidup yang menekankan kedalaman batin di atas kemewahan materi.

Falsafah tersebut termaktub dalam Serat Wedhatama karya KGPAA Mangkunegara IV pada abad ke-19. Dalam ajarannya, kekayaan sejati tidak diukur dari harta benda, melainkan dari kelapangan hati, kedalaman ilmu, keluhuran budi, dan luasnya relasi sosial.

Konsep ini menempatkan manusia bukan sebagai pemilik materi, tetapi sebagai pribadi yang “selesai dengan dirinya sendiri” yaitu tidak lagi terjebak pada ambisi duniawi yang berlebihan.

 

Keteladanan dari Kesederhanaan

Nilai sugih tanpa banda bukan hanya konsep, tetapi telah dipraktikkan oleh sejumlah tokoh. Salah satu contoh yang kerap dikisahkan adalah Tuti Sutiawati, istri Wakil Presiden RI periode 1993–1998, Try Sutrisno.

Dalam sebuah kisah yang kembali viral, Bu Tuti memilih menggunakan transportasi umum untuk menghadiri kegiatan resmi, meski memiliki akses terhadap fasilitas negara. Ia berjalan kaki, naik oplet, hingga becak merupakan sebuah sikap yang mencerminkan integritas dan kesadaran batas antara hak pribadi dan fasilitas publik.

Kesederhanaan itu bahkan mengundang perhatian Benny Murdani, yang kemudian berinisiatif menyediakan kendaraan untuk menunjang aktivitasnya. Namun, esensi cerita ini bukan pada fasilitas, melainkan pada sikap hidup yang tidak merasa “berhak” atas sesuatu yang bukan miliknya.

 

Dari Vatikan hingga Swedia

Nilai serupa juga tercermin dalam kepemimpinan global. Paus Fransiskus, misalnya, menolak tinggal di Istana Apostolik yang megah. Ia memilih menetap di Domus Sanctae Marthae—hunian yang lebih sederhana dan terbuka.

Langkah ini bukan sekadar simbol, tetapi pesan kuat tentang kesederhanaan, kesetaraan, dan kedekatan dengan masyarakat.

Di Eropa Utara, gaya hidup sederhana juga menjadi budaya. Mantan Perdana Menteri Swedia, Stefan Lofven, dikenal kerap berangkat kerja menggunakan sepeda. Di gedung parlemen Swedia, sepeda bukan pemandangan asing yang melainkan bagian dari etos hidup egaliter dan kesadaran lingkungan.
Nilai ini sejalan dengan prinsip Jawa lainnya: “ojo dumeh” yaitu jangan merasa lebih hanya karena memiliki kekuasaan atau jabatan.

 

Antitesis: Ketika Gaya Lebih Penting dari Nilai

Sayangnya, realitas hari ini justru menunjukkan arah sebaliknya. Gaya hidup berlebihan, pesta mewah, hingga penggunaan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi masih kerap menjadi sorotan.

Fenomena iring-iringan kendaraan dengan sirine “tot-tot” dan strobo yang menyilaukan, hingga pesta ulang tahun pejabat dengan biaya fantastis, menjadi simbol kontras dari nilai kesederhanaan.
Dalam falsafah Jawa, kondisi ini disebut sebagai “mlarat mungguh bandane” seperti halnya kaya harta, tetapi miskin nilai.

Gaya hidup berlebihan (lebay) dianggap berpotensi membuat seseorang “keblinger” yang kehilangan arah dan jatuh dalam kesalahan.

 

Kembali ke Jalan Tengah

Falsafah Jawa menawarkan jalan tengah: “nrima lan tepa slira” (menerima dan tenggang rasa), serta “urip kudu sakmadya” yakni hidup secukupnya, tidak berlebihan.

Nilai ini bukan ajakan untuk anti-kemajuan, melainkan pengingat agar manusia tidak kehilangan kendali di tengah kemewahan.

Di era ketika citra sering lebih diutamakan daripada substansi, sugih tanpa banda hadir sebagai kritik sekaligus solusi. Bahwa kekayaan sejati tidak selalu terlihat, tetapi dirasakan yakni dalam sikap, dalam pilihan, dan dalam cara seseorang memaknai hidup.

 

***
(19 April 2026)