Queensha.id – Kisah Islami,
Peristiwa penyembelihan Nabi Ismail oleh ayahnya, Nabi Ibrahim AS, menjadi salah satu kisah paling agung dalam sejarah Islam. Kisah ini bukan hanya tentang pengorbanan, tetapi juga ujian keimanan, ketaatan, dan keikhlasan yang luar biasa kepada Allah SWT.
Hingga kini, peristiwa tersebut terus dikenang oleh umat Islam di seluruh dunia melalui ibadah kurban pada Hari Raya Idul Adha.
Dalam Al-Qur’an, kisah monumental ini diabadikan dalam Surat Ash-Shaffat ayat 102 hingga 107. Allah SWT menggambarkan bagaimana Nabi Ibrahim mendapat wahyu melalui mimpi untuk menyembelih putra tercintanya, Nabi Ismail AS.
Awal Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail
Nabi Ibrahim AS dikenal sebagai sosok nabi yang sangat taat kepada Allah SWT. Setelah sekian lama tidak memiliki keturunan, Allah akhirnya menganugerahkan seorang putra bernama Nabi Ismail AS.
Namun, ketika Ismail tumbuh menjadi anak yang mulai membantu ayahnya, datanglah ujian terbesar dari Allah SWT.
Dalam mimpi, Nabi Ibrahim melihat dirinya menyembelih sang anak. Karena mimpi para nabi merupakan wahyu, maka perintah itu wajib dilaksanakan.
Allah SWT berfirman dalam Surat Ash-Shaffat ayat 102:
Ayat tersebut menjelaskan bagaimana Nabi Ibrahim dengan penuh hati-hati menyampaikan mimpi itu kepada putranya.
Dialog Mengharukan antara Ayah dan Anak
Yang membuat kisah ini begitu agung adalah jawaban Nabi Ismail AS. Ia tidak memberontak, tidak menangis, dan tidak menolak.
Dengan penuh keimanan, Nabi Ismail berkata kepada ayahnya:
“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Jawaban tersebut menunjukkan ketakwaan luar biasa dari seorang anak kepada Allah SWT dan baktinya kepada orang tua.
Menurut tafsir para ulama, inilah salah satu bentuk kesabaran tertinggi dalam sejarah manusia.
Godaan Iblis di Perjalanan Mina
Dalam berbagai riwayat dan penjelasan ulama, disebutkan bahwa iblis berusaha menggoda Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, dan Siti Hajar agar membatalkan perintah Allah SWT.
Namun godaan itu ditolak dengan melempar batu kerikil. Peristiwa inilah yang kemudian menjadi dasar simbolik ibadah lempar jumrah saat pelaksanaan haji di Mina.
Makna dari peristiwa tersebut adalah bahwa manusia harus melawan bisikan setan ketika menjalankan perintah Allah SWT.
Detik-Detik Penyembelihan yang Menggetarkan
Saat Nabi Ibrahim membaringkan Nabi Ismail dan mengarahkan pisaunya, keduanya telah benar-benar pasrah kepada Allah SWT.
Namun Allah tidak benar-benar menghendaki Nabi Ismail disembelih. Ujian itu hanyalah pembuktian cinta dan ketaatan mereka kepada Sang Pencipta.
Allah kemudian menggantikan Nabi Ismail dengan seekor domba besar dari surga.
Dalam Surat Ash-Shaffat ayat 107 disebutkan:
Artinya: “Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”
Pandangan Ulama Besar tentang Kisah Nabi Ismail
Para ulama besar Islam menjelaskan bahwa kisah ini bukan sekadar cerita pengorbanan fisik, tetapi simbol ketundukan total kepada Allah SWT.
Imam Ibnu Katsir
Dalam tafsirnya, Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail telah mencapai derajat kepasrahan tertinggi kepada Allah SWT. Karena itulah Allah mengganti Ismail dengan domba sebagai bentuk rahmat dan kemuliaan.
Imam Al-Qurthubi
Imam Al-Qurthubi menilai bahwa peristiwa ini menjadi dasar syariat kurban bagi umat Islam. Kurban bukan sekadar menyembelih hewan, melainkan membunuh sifat ego, kesombongan, dan cinta dunia yang berlebihan.
Tafsir Kementerian Agama RI
Tafsir Kemenag RI menjelaskan bahwa ujian tersebut adalah batu ujian paling berat bagi Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Namun di balik ujian itu terdapat hikmah besar bagi umat manusia hingga akhir zaman.
Hikmah Besar di Balik Idul Adha
Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail mengajarkan banyak pelajaran penting bagi kehidupan modern saat ini, di antaranya:
- Keikhlasan menjalankan perintah Allah
- Kesabaran menghadapi ujian hidup
- Pentingnya pengorbanan demi kebaikan
- Ketaatan anak kepada orang tua
- Keteguhan iman dalam menghadapi godaan
Idul Adha juga mengajarkan kepedulian sosial melalui pembagian daging kurban kepada masyarakat yang membutuhkan.
Karena itu, ibadah kurban bukan hanya ritual tahunan, tetapi juga momentum memperkuat solidaritas dan kemanusiaan.
Kisah yang Terus Hidup Sepanjang Zaman
Hingga hari ini, jutaan umat Islam di seluruh dunia memperingati pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail melalui penyembelihan hewan kurban setiap 10 Dzulhijjah.
Kisah ini menjadi bukti bahwa cinta kepada Allah SWT harus berada di atas segala-galanya.
Di tengah kehidupan modern yang penuh ujian, teladan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail tetap relevan sebagai pengingat bahwa keimanan sejati membutuhkan keikhlasan, kesabaran, dan pengorbanan yang tulus.
***
Queensha Jepara, 27 Mei 2026.

Tinggalkan Balasan