Queensha.id – Edukasi Sosial,
Mengapa perempuan cenderung hidup lebih lama dibandingkan laki-laki? Pertanyaan ini telah lama menjadi perhatian para ilmuwan di berbagai belahan dunia.
Berdasarkan berbagai penelitian terbaru yang dikutip dari para ahli internasional, perempuan secara rata-rata memiliki usia harapan hidup sekitar lima tahun lebih panjang dibandingkan laki-laki. Bahkan di beberapa negara seperti Rusia, Ukraina, dan Vietnam, selisih usia harapan hidup antara perempuan dan laki-laki dapat mencapai lebih dari 10 tahun.
Meski fenomena ini telah lama diamati, para ilmuwan menegaskan bahwa penyebabnya tidak berasal dari satu faktor saja. Kombinasi faktor biologis, hormonal, evolusi, lingkungan, hingga gaya hidup menjadi bagian dari penjelasan mengapa perempuan memiliki peluang hidup lebih lama.
Faktor Kromosom Jadi Salah Satu Kunci
Peneliti dari Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology, Dr Johanna Staerk, menjelaskan bahwa perempuan memiliki dua kromosom X, sedangkan laki-laki memiliki satu kromosom X dan satu kromosom Y.
Menurutnya, kondisi tersebut memberikan keuntungan biologis bagi perempuan. Jika terdapat mutasi atau kerusakan pada salah satu kromosom X, masih terdapat salinan lain yang dapat membantu mengimbanginya.
Sebaliknya, laki-laki hanya memiliki satu kromosom X sehingga mutasi tertentu dapat memberikan dampak yang lebih besar terhadap kesehatan mereka.
“Pada mamalia, betina memiliki dua kromosom X, sementara jantan hanya memiliki satu kromosom X dan satu Y. Hal ini dapat memberikan keuntungan biologis dalam jangka panjang,” jelas Staerk dalam penelitiannya.
Peran Hormon Estrogen dalam Melindungi Tubuh
Selain faktor genetika, hormon juga memiliki pengaruh besar terhadap usia harapan hidup.
Profesor Consuelo BorrĂ¡s dari Universitas Valencia, Spanyol, menjelaskan bahwa hormon estrogen memiliki berbagai fungsi perlindungan bagi tubuh perempuan.
Estrogen membantu mengontrol kadar kolesterol, menjaga kesehatan tulang, meningkatkan fungsi sistem kekebalan tubuh, serta bertindak sebagai antioksidan yang melawan radikal bebas penyebab penuaan.
Karena itulah perempuan memiliki perlindungan biologis tambahan yang dapat membantu menjaga kesehatan tubuh dalam jangka panjang.
Namun perlindungan tersebut mulai berkurang ketika perempuan memasuki masa menopause, saat produksi estrogen menurun secara alami.
Testosteron Diduga Berperan pada Risiko Kesehatan Pria
Di sisi lain, hormon testosteron yang dominan pada laki-laki sering dikaitkan dengan kecenderungan perilaku berisiko lebih tinggi.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa laki-laki lebih sering terlibat dalam aktivitas berisiko, mulai dari pekerjaan berbahaya, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol berlebihan, hingga kecelakaan lalu lintas.
Beberapa penelitian bahkan menemukan bahwa penurunan kadar testosteron dapat berkaitan dengan peningkatan usia harapan hidup pada sejumlah spesies mamalia.
Meski demikian, para ilmuwan menegaskan bahwa hubungan antara testosteron dan umur panjang masih terus diteliti.
Faktor Sosial dan Gaya Hidup Juga Berpengaruh
Selain faktor biologis, gaya hidup memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perbedaan usia harapan hidup antara laki-laki dan perempuan.
Profesor Sarah Harper dari Oxford Institute of Population Ageing menjelaskan bahwa laki-laki secara umum lebih jarang memeriksakan kesehatan ke dokter dibandingkan perempuan.
Selain itu, pola makan yang kurang sehat, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, serta kecenderungan mengambil risiko turut meningkatkan angka kematian dini pada laki-laki.
Data global menunjukkan bahwa laki-laki lebih sering meninggal akibat kecelakaan lalu lintas, kekerasan, pembunuhan, hingga bunuh diri.
Namun para ahli menegaskan bahwa kondisi tersebut bukan sesuatu yang tidak bisa diubah. Kampanye kesehatan masyarakat, gaya hidup sehat, dan kesadaran terhadap pentingnya pemeriksaan kesehatan terbukti mampu memperkecil kesenjangan usia harapan hidup antara laki-laki dan perempuan.
Perempuan Hidup Lebih Lama, Tetapi Tidak Selalu Lebih Sehat
Menariknya, umur yang lebih panjang tidak selalu berarti hidup tanpa penyakit.
Penelitian menunjukkan bahwa perempuan lebih sering mengalami kondisi kesehatan yang tidak mematikan tetapi dapat mengurangi kualitas hidup, seperti nyeri punggung bawah, depresi, sakit kepala kronis, dan berbagai penyakit inflamasi.
Para ilmuwan menyebut fenomena ini sebagai paradoks kesehatan, di mana perempuan hidup lebih lama tetapi lebih sering mengalami gangguan kesehatan non-fatal dibandingkan laki-laki.
Pelajaran Penting untuk Semua Orang
Para pakar sepakat bahwa faktor biologis bukanlah satu-satunya penentu umur panjang seseorang.
Pola makan sehat, olahraga rutin, tidur yang cukup, pengelolaan stres, serta pemeriksaan kesehatan secara berkala tetap menjadi kunci utama untuk hidup lebih lama dan lebih sehat.
Baik perempuan maupun laki-laki memiliki kesempatan untuk meningkatkan kualitas hidup mereka melalui kebiasaan yang lebih sehat.
Pada akhirnya, umur panjang tidak hanya ditentukan oleh gen dan hormon, tetapi juga oleh pilihan hidup yang dilakukan setiap hari.
***
BBC.
Queensha Jepara, Senin, 1 Juni 2026.

Tinggalkan Balasan