Queensha.id – Surabaya,
Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Airlangga (Unair) menjadi sorotan publik setelah menggalang petisi daring yang menyerukan penghentian sementara Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hingga Senin (8/6/2026) pagi, petisi tersebut telah mengumpulkan lebih dari 26 ribu tanda tangan terverifikasi dari masyarakat.
Informasi tersebut turut ramai diperbincangkan di media sosial setelah akun Facebook Melihat Indonesia membagikan narasi terkait langkah BEM Unair yang meminta pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program unggulan nasional tersebut.
Petisi itu diumumkan melalui akun Instagram resmi BEM Unair dan ditandatangani langsung oleh Presiden BEM Unair, Rizqi Senja.
BEM Unair Soroti Polemik di Badan Gizi Nasional
Menurut Rizqi Senja, munculnya berbagai polemik yang melibatkan Badan Gizi Nasional (BGN) menjadi salah satu alasan utama pihaknya mempertanyakan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis.
Ia menilai dinamika yang terjadi di internal lembaga tersebut, termasuk pergantian pimpinan dan proses hukum yang tengah berlangsung, menjadi perhatian serius yang perlu dijawab secara terbuka oleh pemerintah.
“Pada akhirnya ketika Kepala BGN dicopot dan muncul berbagai persoalan yang sedang diselidiki, itu menjadi indikasi yang cukup sentral untuk melihat bahwa program ini perlu dievaluasi secara serius,” ujarnya.
Menurut BEM Unair, evaluasi menyeluruh diperlukan agar pelaksanaan program benar-benar berjalan sesuai tujuan awal dan tidak menimbulkan persoalan baru di kemudian hari.
Petisi Jadi Bentuk Aspirasi Publik
Rizqi Senja menjelaskan bahwa petisi tersebut dibuat sebagai wadah untuk mengukur sejauh mana perhatian dan dukungan masyarakat terhadap tuntutan evaluasi Program MBG.
Melalui petisi tersebut, BEM Unair ingin menyampaikan pesan kepada pemerintah bahwa sebagian masyarakat menginginkan adanya peninjauan ulang terhadap kebijakan yang saat ini sedang berjalan.
“BEM Unair ingin memberikan ultimatum kepada pemerintah bahwa memang MBG ini perlu mendapatkan perhatian serius. Karena itu kami membuat petisi agar dapat melihat seberapa besar masyarakat yang peduli terhadap persoalan ini,” katanya.
Kritik Terhadap Implementasi Program MBG
Sejak awal, BEM Unair diketahui termasuk kelompok mahasiswa yang secara terbuka menyampaikan kritik terhadap Program Makan Bergizi Gratis.
Menurut Rizqi Senja, terdapat sejumlah aspek yang dinilai perlu menjadi perhatian pemerintah, mulai dari implementasi di lapangan hingga penggunaan anggaran negara.
Ia menyoroti berbagai isu yang berkembang di masyarakat terkait efektivitas pelaksanaan program, pembengkakan anggaran, penggunaan APBN, serta dugaan ketidaksesuaian dalam proses pengadaan barang dan jasa.
“Sejak awal kami memang menolak MBG karena banyak persoalan yang kami lihat, baik dari implementasi, penggunaan anggaran, maupun berbagai isu yang berkembang terkait pelaksanaannya,” ungkapnya.
Usulkan Fokus MBG untuk Daerah 3T
Meskipun menyampaikan kritik terhadap pelaksanaan program secara nasional, BEM Unair juga menawarkan alternatif solusi kepada pemerintah.
Menurut mereka, apabila Program Makan Bergizi Gratis tetap dilanjutkan, maka pelaksanaannya sebaiknya diprioritaskan untuk daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Wilayah-wilayah tersebut dinilai memiliki tingkat kerawanan gizi yang lebih tinggi sehingga membutuhkan intervensi pemerintah secara lebih intensif.
“Jika pemerintah ingin benar-benar fokus pada pemenuhan gizi anak-anak Indonesia, maka program tersebut bisa lebih diprioritaskan kepada daerah 3T yang memang membutuhkan,” ujar Rizqi Senja.
Dukungan Petisi Terus Bertambah
Berdasarkan data yang disampaikan hingga Senin pagi, jumlah dukungan terhadap petisi tersebut telah mencapai 26.727 tanda tangan terverifikasi dan masih terus bertambah.
Angka tersebut menunjukkan tingginya perhatian masyarakat terhadap Program Makan Bergizi Gratis yang saat ini menjadi salah satu program strategis pemerintah.
BEM Unair menyatakan akan terus mengawal aspirasi yang telah disampaikan melalui petisi tersebut serta mendorong pemerintah melakukan evaluasi secara komprehensif.
Program MBG Masih Menjadi Perdebatan Publik
Program Makan Bergizi Gratis merupakan salah satu program nasional yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia melalui penyediaan makanan bergizi secara rutin.
Di satu sisi, program ini mendapat dukungan karena dianggap mampu membantu pemenuhan kebutuhan gizi dan menekan angka stunting. Namun di sisi lain, sejumlah kalangan menilai perlu adanya pengawasan ketat, transparansi anggaran, serta evaluasi berkala agar pelaksanaannya tepat sasaran.
Perdebatan mengenai Program Makan Bergizi Gratis pun masih terus berlangsung di ruang publik. Berbagai masukan dari masyarakat, akademisi, mahasiswa, maupun lembaga terkait diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan pemerintah dalam menyempurnakan pelaksanaan program tersebut ke depan.
Dengan terus bertambahnya dukungan terhadap petisi yang digagas BEM Unair, isu evaluasi Program MBG diperkirakan masih akan menjadi perhatian publik dalam beberapa waktu mendatang.
***
Sumber: Melihat Indonesia.
Queensha Jepara (Selasa, 9 Juni 2026)

Tinggalkan Balasan