Queensha.id – Jepara,
Gagasan Nation Character Building (NCB) atau membangun karakter bangsa kembali mendapat perhatian sebagai salah satu pendekatan untuk memperkuat persatuan, integritas, dan semangat gotong royong di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
Konsep tersebut dikemas melalui Lembaga Keemasan Bangsa (LKB) dengan mengedepankan pembentukan karakter yang dimulai dari lingkungan terkecil, yakni keluarga, kemudian berkembang ke masyarakat dan kehidupan berbangsa.
Dalam konsep tersebut, pembangunan karakter diawali dengan penguatan nilai tauhid, integritas, serta kepatuhan terhadap ajaran agama dan aturan yang berlaku. Nilai-nilai tersebut diharapkan menjadi fondasi dalam membangun masyarakat yang saling menghormati dan bertanggung jawab.
Selain itu, konsep Nation Character Building juga mengajak masyarakat untuk menumbuhkan rasa saling menyayangi dan memperkuat persaudaraan sebagai sesama warga negara. Terlepas dari latar belakang suku, agama, maupun generasi, setiap warga negara dinilai memiliki kebutuhan yang sama, seperti sandang, pangan, papan, pendidikan, keamanan, serta kesempatan memperoleh pekerjaan yang layak.
Dalam pandangan tersebut, perbedaan diposisikan sebagai sebuah aset yang memperkaya kehidupan berbangsa. Sementara urusan keyakinan disebut sebagai ranah pribadi yang menjadi tanggung jawab masing-masing individu di hadapan Tuhan, sehingga harus dihormati tanpa adanya campur tangan pihak lain.
Di sisi lain, nilai kemanusiaan diwujudkan melalui semangat gotong royong lintas etnis, lintas agama, dan lintas generasi. Dengan mengedepankan kasih sayang, akal budi, kesadaran, serta rasa kekeluargaan, masyarakat diharapkan mampu menyelesaikan berbagai persoalan tanpa harus terjebak dalam konflik sosial.
Pengamat sosial asal Jepara, , menilai pembangunan karakter bangsa merupakan investasi jangka panjang yang tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah maupun lembaga pendidikan.
“Karakter bangsa harus dibangun secara bersama-sama. Keluarga menjadi sekolah pertama, kemudian diperkuat oleh lingkungan, sekolah, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga pemerintah. Jika nilai integritas, toleransi, gotong royong, dan kepedulian sosial terus ditanamkan, maka persatuan bangsa akan semakin kokoh menghadapi berbagai tantangan zaman,” ujar Purnomo Wardoyo, Senin (6/7/2026).
Menurutnya, Indonesia memiliki modal sosial yang besar berupa keberagaman budaya, suku, bahasa, dan agama. Apabila keberagaman tersebut dikelola dengan semangat persaudaraan dan saling menghormati, maka akan menjadi kekuatan utama dalam mewujudkan pembangunan nasional yang berkelanjutan.
Dengan semangat Nation Character Building, masyarakat diharapkan mampu menjadikan perbedaan sebagai kekuatan bersama serta terus menjaga persatuan demi terwujudnya Indonesia yang damai, maju, dan berkeadilan, sejalan dengan semangat “Jayalah Nusantara.”
***
Sumber: Kontributor Singgih Jepara.
Penulis: Vico Rahman.

Tinggalkan Balasan