Queensha.id – Edukasi Sosial,

 

Sebuah unggahan dari akun Facebook Rahma Fitri menarik perhatian warganet setelah membagikan pesan tentang pentingnya ketegasan orang tua dalam mendidik anak.

Dalam unggahan tersebut tertulis:

“Didiklah anakmu terus walaupun ia menangis dengan keras. Karena lebih baik anakmu menangis karena dibentuk menjadi manusia yang hebat daripada kamu menangis kelak nanti karena tingkah lakunya yang buruk.”

Pesan singkat tersebut mengandung makna bahwa proses pendidikan anak tidak selalu berjalan mudah. Ada kalanya anak merasa kecewa, sedih, atau menangis ketika orang tua menegakkan aturan demi membentuk karakter yang baik.

 

Tangisan Anak Bukan Berarti Orang Tua Harus Menyerah

Banyak orang tua merasa tidak tega ketika melihat anak menangis. Akibatnya, tidak sedikit yang akhirnya mengabulkan semua keinginan anak agar tangisnya berhenti.

Padahal, para ahli pengasuhan menjelaskan bahwa tidak semua tangisan merupakan tanda bahwa orang tua harus mengalah. Selama aturan yang diberikan bertujuan mendidik, dilakukan dengan penuh kasih sayang, serta tidak disertai kekerasan, tangisan anak merupakan bagian dari proses belajar mengenal batasan dan disiplin.

Anak yang dibiasakan memahami aturan sejak dini umumnya akan belajar bertanggung jawab, menghargai orang lain, dan mampu mengendalikan diri ketika dewasa.

 

Pandangan Islam tentang Mendidik Anak

Dalam Islam, mendidik anak merupakan amanah besar yang dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Allah SWT berfirman dalam Surah At-Tahrim ayat 6:

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”

Ayat tersebut menjadi dasar bahwa orang tua memiliki kewajiban membimbing anak menuju akhlak yang baik, keimanan yang kuat, dan perilaku yang diridai Allah SWT.

 

Ketegasan Harus Disertai Kasih Sayang

Para ulama menjelaskan bahwa Islam mengajarkan keseimbangan antara kasih sayang (rahmah) dan ketegasan (tarbiyah).

Mendidik bukan berarti membentak, menghina, atau melakukan kekerasan fisik. Sebaliknya, pendidikan yang dianjurkan adalah memberikan teladan, nasihat, pembiasaan ibadah, serta aturan yang jelas dengan penuh kelembutan.

Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok yang sangat penyayang kepada anak-anak, namun tetap mengajarkan disiplin dan akhlak mulia.

 

Jangan Memanjakan Anak Secara Berlebihan

Sejumlah ulama juga mengingatkan agar orang tua tidak selalu menuruti semua keinginan anak.

Jika setiap tangisan selalu diikuti dengan pemenuhan keinginan, anak berisiko tumbuh menjadi pribadi yang sulit menerima penolakan, kurang sabar, dan merasa semua keinginannya harus dipenuhi.

Sebaliknya, ketika anak diajarkan bersabar, menghormati aturan, serta memahami konsekuensi dari setiap tindakan, ia akan lebih siap menghadapi kehidupan di masa depan.

 

Tujuan Pendidikan adalah Membentuk Akhlak

Dalam Islam, keberhasilan orang tua tidak hanya diukur dari kecerdasan akademik anak, tetapi juga dari akhlak dan keimanannya.

Karena itu, pendidikan sejak usia dini hendaknya mencakup pembiasaan salat, membaca Al-Qur’an, berkata jujur, menghormati orang tua, bersikap sopan, serta memiliki rasa tanggung jawab.

Proses tersebut tentu membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan doa dari kedua orang tua.

Unggahan Rahma Fitri menjadi pengingat bahwa mendidik anak memang tidak selalu mudah. Ada kalanya anak menangis ketika diberi batasan atau diarahkan menuju kebiasaan yang baik. Namun dalam pandangan Islam, ketegasan yang dilakukan dengan penuh kasih sayang, tanpa kekerasan, dan bertujuan membentuk akhlak mulia merupakan bagian dari amanah orang tua.

Dengan pendidikan yang benar sejak dini, diharapkan anak tumbuh menjadi pribadi yang beriman, berakhlak baik, bertanggung jawab, serta mampu memberikan kebahagiaan bagi keluarga dan bermanfaat bagi masyarakat.

 

***

Sumber: Queensha Jepara.

Penulis: Vico Rahman.