Queensha.id – Edukasi Sosial,

 

Di tengah derasnya arus informasi dan gaya hidup serba pamer, banyak orang tanpa sadar terjebak dalam perlombaan yang tidak pernah mereka mulai sendiri. Melihat pencapaian orang lain di media sosial, membandingkan kehidupan, hingga merasa tertinggal karena semua itu perlahan menggerus rasa syukur.

Pesan sederhana namun tajam datang dari Purnomo Wardoyo. Ia mengingatkan bahwa kelelahan hidup hari ini sering kali bukan karena beban nyata, melainkan karena terlalu sibuk mengukur diri dengan standar orang lain.

“Kadang kita terlalu lelah karena sibuk melihat pencapaian orang lain, sampai lupa cara menikmati hidup kita sendiri,” ujarnya.

 

Bahagia Itu Sederhana, Tapi Sering Dilupakan

Dalam pandangannya, kebahagiaan sejatinya bukan sesuatu yang sulit diraih. Namun, manusia kerap mempersulitnya sendiri dengan membandingkan apa yang dimiliki dengan milik orang lain.

Padahal, dalam nilai Islam, rasa cukup atau qana’ah menjadi salah satu kunci ketenangan hidup. Orang yang mampu merasa cukup akan lebih mudah bersyukur dan terhindar dari rasa iri yang melelahkan.

“Yang kita miliki hari ini adalah yang harus kita syukuri,” tegasnya.

 

Media Sosial dan Ilusi Kehidupan Sempurna

Fenomena ini semakin diperparah oleh media sosial, di mana kehidupan sering ditampilkan dalam versi terbaiknya saja. Liburan mewah, karier gemilang, hingga gaya hidup ideal adalah semua terlihat sempurna, namun belum tentu mencerminkan realita utuh.

Dalam perspektif Sosiologi, kondisi ini disebut sebagai “social comparison”, di mana seseorang menilai dirinya berdasarkan pencapaian orang lain. Jika tidak dikendalikan, hal ini dapat memicu stres, rendah diri, bahkan kehilangan arah hidup.

 

Jangan Sibuk Mengurusi Hidup Orang

Purnomo juga menyoroti kebiasaan lain yang tak kalah berbahaya yaitu terlalu sibuk mengomentari kehidupan orang lain.
Menurutnya, energi yang seharusnya digunakan untuk memperbaiki diri justru habis untuk menilai, membandingkan, bahkan menghakimi orang lain.

 

“Jangan terlalu sibuk mengurusi kehidupan orang. Kita sering lupa, hidup kita sendiri saja belum tentu sudah kita jalani dengan baik,” ujarnya, Jum’at (20/3/2026).

 

Kembali ke Diri Sendiri

Ia mengajak masyarakat untuk kembali fokus pada diri sendiri—menata hidup, memperbaiki hati, dan menikmati proses yang dijalani.

Kebahagiaan tidak selalu datang dari pencapaian besar, tetapi dari hal-hal sederhana: keluarga yang utuh, kesehatan, dan ketenangan batin.

 

Antara Syukur dan Kedamaian

Pada akhirnya, pesan ini menjadi pengingat bahwa hidup bukan tentang siapa yang paling cepat atau paling tinggi, melainkan siapa yang paling mampu menikmati perjalanan.

Berhenti membandingkan bukan berarti berhenti berkembang, tetapi memilih untuk tumbuh dengan cara yang lebih sehat.

Karena bisa jadi, yang kita cari selama ini bukanlah kehidupan orang lain melainkan ketenangan dalam diri sendiri.

 

***
(20 Maret 2026)