Queensha.id – Jepara,
Kabupaten Jepara tidak hanya dikenal sebagai Kota Ukir, tetapi juga mulai mengukuhkan diri sebagai salah satu daerah penghasil kopi berkualitas di Jawa Tengah. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai merek kopi lokal dan sentra produksi kopi terus bermunculan, terutama dari kawasan lereng Gunung Muria.
Pemerintah Kabupaten Jepara bahkan mendorong para pelaku usaha agar mencantumkan asal desa penghasil kopi pada kemasan sebagai upaya memperkuat identitas produk sekaligus mengenalkan potensi desa-desa penghasil kopi kepada pasar yang lebih luas.
Kopi Tempur Jadi Ikon Kopi Jepara
Hingga saat ini, Kopi Tempur dari Desa Tempur, Kecamatan Keling, menjadi nama yang paling dikenal. Desa tersebut merupakan salah satu sentra penghasil kopi robusta dan arabika di Jepara, bahkan tengah diusulkan memperoleh Indikasi Geografis (IG) sebagai bentuk perlindungan terhadap kekhasan produk daerah.
Selain dipasarkan dalam bentuk biji kopi dan bubuk kopi, banyak pelaku UMKM di Desa Tempur telah membangun merek dagang masing-masing. Pemerintah justru mendorong agar merek tersebut tetap dipertahankan, namun dilengkapi dengan identitas asal kopi pada kemasan.
Sentra Kopi Terus Berkembang
Selain Desa Tempur, sejumlah wilayah di Jepara juga mulai dikenal sebagai penghasil kopi, di antaranya:
– Kopi Tempur (Kecamatan Keling)
– Kopi Sumanding
– Kopi Batealit
Ketiga kawasan tersebut menjadi fokus pengembangan pemerintah daerah agar mampu memperluas pasar kopi khas Jepara, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Merek Kopi Lokal Semakin Beragam
Seiring meningkatnya jumlah UMKM, muncul berbagai merek kopi yang diproduksi oleh pelaku usaha lokal. Sebagian menggunakan nama desa asal, sementara lainnya memakai merek dagang sendiri untuk memperkuat pemasaran.
DKPP Jepara menegaskan bahwa penggunaan merek dagang tetap dipersilakan. Yang ingin diperkuat adalah informasi asal kopi sehingga konsumen mengetahui dari mana biji kopi tersebut berasal.
Potensi Ekonomi Desa
Pengembangan kopi dinilai mampu menjadi penggerak ekonomi masyarakat desa. Selain memberikan nilai tambah bagi hasil panen petani, industri kopi juga membuka peluang usaha di bidang pengolahan, pengemasan, kedai kopi, hingga wisata edukasi berbasis perkebunan.
Desa Tempur sendiri dikenal menghasilkan ratusan ton kopi setiap tahun dan menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat setempat.
Kopi Jepara Harus Menjadi Identitas Daerah
Pengamat sosial asal Jepara, Purnomo Wardoyo, menilai perkembangan industri kopi lokal merupakan peluang besar untuk meningkatkan perekonomian masyarakat sekaligus memperkuat identitas daerah.
“Selama ini Jepara identik dengan ukiran dan mebel. Padahal kita juga memiliki kopi yang kualitasnya sangat baik. Kalau semua pelaku usaha mencantumkan asal desa pada kemasan, masyarakat luar akan semakin mengenal desa-desa penghasil kopi di Jepara. Ini bukan hanya soal menjual kopi, tetapi juga membangun kebanggaan terhadap potensi lokal,” ujar Purnomo, Minggu (19/7/2026).
Menurutnya, sinergi antara petani, UMKM, pemerintah daerah, dan pelaku pariwisata akan menjadi kunci agar Kopi Jepara mampu bersaing di pasar nasional bahkan internasional.
Ia berharap semakin banyak generasi muda yang tertarik mengembangkan industri kopi, mulai dari budidaya, pengolahan, hingga pemasaran digital, sehingga kopi dapat menjadi salah satu ikon baru Kabupaten Jepara di samping ukiran dan pariwisata.
***
Sumber: Queensha Jepara.
Penulis: Vico Rahman.

Tinggalkan Balasan