Queensha.id – Jember,

 

Di balik hamparan persawahan Desa Purwoasri, Kecamatan Gumukmas, Kabupaten Jember, Jawa Timur, berdiri sebuah situs bersejarah yang menyimpan jejak kejayaan Kerajaan Majapahit, yakni Candi Deres atau yang juga dikenal sebagai Candi Retjo.

Meski kini hanya menyisakan reruntuhan yang dililit akar pohon beringin, situs tersebut menjadi saksi bisu perjalanan panjang Prabu Hayam Wuruk, salah satu raja terbesar dalam sejarah Nusantara.

Para arkeolog menduga Candi Deres dibangun pada abad ke-14, tepatnya pada masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk. Keberadaannya diyakini berkaitan dengan perjalanan kerajaan atau tirtayatra yang dilakukan sang raja pada tahun 1359 M.

Perjalanan tersebut bahkan tercatat dalam Kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca, pujangga istana Majapahit yang dipercaya turut mendampingi Hayam Wuruk saat mengelilingi berbagai wilayah di Jawa Timur dengan jarak mencapai sekitar 1.700 kilometer.

 

Reruntuhan yang Dililit Akar Beringin

Saat ini kondisi Candi Deres sudah tidak utuh. Bangunan yang tersisa hanya bagian pondasi serta sebagian kecil tubuh candi yang menyatu dengan akar-akar pohon beringin berukuran besar.

Material penyusunnya berupa bata merah khas Majapahit dengan ukuran besar dan teknik pembakaran yang maju pada zamannya. Beberapa bata masih memperlihatkan motif sulur yang menjadi ciri seni arsitektur era Majapahit.

Kerusakan bangunan diduga disebabkan oleh faktor usia, bencana alam, hingga aksi vandalisme yang terjadi pada masa lalu.

 

Ditemukan Kembali pada Era 1980-an

Keberadaan Candi Deres kembali diketahui pada era 1980-an dan mulai diekskavasi oleh Balai Arkeologi Yogyakarta pada 1985.

Selain struktur bangunan, para peneliti juga menemukan sejumlah artefak seperti pecahan gerabah, batu kuno, serta sisa arca yang memperkuat dugaan bahwa kawasan tersebut pernah menjadi bagian penting dalam jaringan peradaban Majapahit.

Kini, Candi Deres telah ditetapkan sebagai salah satu cagar budaya yang terus dilestarikan sebagai destinasi wisata sejarah sekaligus sarana edukasi.

 

Pandangan Pakar Sejarah Indonesia

Sejumlah sejarawan Indonesia menilai peninggalan seperti Candi Deres memiliki nilai penting dalam merekonstruksi sejarah Nusantara, khususnya perkembangan politik, budaya, dan arsitektur pada masa Majapahit.

Pakar sejarah juga menegaskan bahwa Negarakertagama merupakan salah satu sumber primer yang sangat berharga untuk memahami perjalanan pemerintahan Hayam Wuruk. Meski demikian, keterkaitan langsung antara Candi Deres dengan rute perjalanan tersebut masih memerlukan kajian arkeologis yang berkelanjutan sehingga tidak semua dugaan dapat dipastikan sebagai fakta sejarah.

Bagi kalangan akademisi, pelestarian situs purbakala menjadi bagian penting untuk menjaga identitas budaya bangsa sekaligus memperkaya penelitian sejarah Indonesia.

 

Pandangan Islam terhadap Candi Bersejarah

Dalam perspektif Islam, keberadaan candi sebagai peninggalan sejarah dipandang sebagai bagian dari jejak peradaban masa lampau yang dapat dijadikan bahan pembelajaran.

Al-Qur’an sendiri berulang kali mengajak manusia untuk memperhatikan bekas-bekas peradaban terdahulu sebagai pelajaran tentang perjalanan umat manusia, sebagaimana disebutkan dalam Surah Ar-Rum ayat 9 dan Surah Al-Ankabut ayat 20.

Para ulama pada umumnya menjelaskan bahwa mempelajari, meneliti, dan melestarikan situs sejarah diperbolehkan selama bertujuan untuk ilmu pengetahuan, pendidikan, dan menjaga warisan budaya, serta tidak disertai praktik yang bertentangan dengan akidah Islam seperti penyembahan, meminta berkah kepada benda, atau ritual yang mengandung unsur syirik.

Dengan demikian, Candi Deres dapat dipandang sebagai warisan sejarah yang memiliki nilai edukatif dan budaya, sekaligus menjadi pengingat akan besarnya peradaban Nusantara di masa lalu. Pelestarian situs semacam ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menghargai sejarah tanpa mengesampingkan nilai-nilai keimanan dan ajaran agama.

 

***

Sumber: Redmist.

Penulis: Vico Rahman.