Queensha.id – Jepara, (Edukasi)
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu program strategis pemerintah untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya anak sekolah. Namun, munculnya sejumlah dugaan kasus keracunan makanan di beberapa daerah menjadi perhatian serius dan harus dijadikan bahan evaluasi bersama.
Pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) menyatakan sebagian besar kasus yang terjadi berkaitan dengan pelanggaran standar operasional prosedur (SOP) dalam pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi makanan.
Pengamat sosial asal Jepara, Purnomo Wardoyo, mengatakan setiap dugaan keracunan harus dijadikan momentum memperkuat sistem pengawasan, bukan untuk menyalahkan seluruh pengelola SPPG.
“Mayoritas pengelola SPPG tentu bekerja dengan baik. Namun apabila terjadi dugaan keracunan, perlu evaluasi menyeluruh terhadap sistem, kedisiplinan SOP, kualitas bahan pangan, hingga pengawasan. Keselamatan penerima manfaat harus menjadi prioritas utama,” ujar Purnomo Wardoyo, Kamis (10/9/2026).
Menurutnya, terdapat sedikitnya 10 faktor yang patut menjadi perhatian.
1. Tidak Disiplinnya Penerapan SOP
Apabila SOP mengenai waktu memasak, penyimpanan, distribusi, maupun penyajian tidak dipatuhi, risiko pertumbuhan bakteri dapat meningkat. BGN sendiri menyebut sebagian besar kasus berkaitan dengan pelanggaran SOP.
2. Bahan Baku Kurang Segar
Daging, ayam, ikan, telur, maupun sayuran yang kualitasnya sudah menurun berpotensi menjadi sumber kontaminasi apabila tetap diolah.
3. Proses Memasak Terlalu Dini
Makanan yang dimasak terlalu jauh sebelum waktu konsumsi memiliki risiko mengalami penurunan kualitas apabila tidak disimpan pada suhu yang aman.
4. Penyimpanan Tidak Sesuai Standar
Suhu penyimpanan yang tidak sesuai memungkinkan bakteri berkembang lebih cepat sehingga makanan menjadi tidak aman dikonsumsi.
5. Distribusi Terlalu Lama
Semakin lama jeda antara makanan selesai dimasak hingga dikonsumsi, semakin besar risiko perubahan kualitas makanan apabila pengendalian suhu tidak memadai.
6. Kebersihan Peralatan Kurang Terjaga
Peralatan memasak maupun wadah distribusi yang tidak higienis dapat menyebabkan kontaminasi silang.
7. Higienitas Penjamah Makanan
Petugas yang tidak menerapkan kebersihan tangan, alat pelindung diri, maupun sanitasi yang baik dapat menjadi sumber kontaminasi.
8. Pengawasan Internal Lemah
Pengawasan yang tidak konsisten membuat kesalahan dalam proses produksi sulit terdeteksi sejak awal.
9. Kurangnya Pelatihan Berkala
Pengelola dapur memerlukan pembaruan pengetahuan mengenai keamanan pangan agar seluruh prosedur dijalankan sesuai standar.
10. Evaluasi dan Audit yang Belum Optimal
Setiap dugaan keracunan perlu diikuti investigasi laboratorium, evaluasi menyeluruh, serta perbaikan sistem agar kejadian serupa tidak terulang. Pedoman BGN juga mengatur penghentian distribusi makanan yang diduga menjadi sumber keracunan, penyimpanan sampel untuk pemeriksaan, serta koordinasi dengan dinas kesehatan.
Purnomo Wardoyo menegaskan bahwa program MBG memiliki tujuan mulia untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat. Oleh karena itu, seluruh pihak, mulai dari pemerintah, pengelola SPPG, pemasok bahan pangan, hingga sekolah, perlu memperkuat pengawasan terhadap keamanan pangan.
“Jangan sampai satu kelalaian merusak kepercayaan masyarakat terhadap program yang sebenarnya sangat baik. Yang harus diperbaiki adalah sistem pengawasan, kedisiplinan, dan budaya keamanan pangan,” pungkasnya.
***
Sumber: Queensha Jepara.
Penulis: Vico Rahman.

Tinggalkan Balasan