Queensha.id – Edukasi Sosial,
Sebuah unggahan dari akun Facebook Tanya Islam Yuk menjadi perhatian masyarakat karena membahas tentang bagaimana Islam memandang kedudukan perempuan, kehormatan diri, serta tantangan wanita di tengah perkembangan zaman.
Dalam narasi tersebut disampaikan bahwa Islam hadir bukan untuk menjadikan perempuan sebagai manusia kelas dua. Sebaliknya, Islam memberikan kedudukan terhormat kepada perempuan sebagai ibu, istri, anak, dan manusia yang memiliki hak serta tanggung jawab di hadapan Allah SWT.
Namun, di era modern, muncul berbagai perdebatan mengenai makna kebebasan perempuan. Sebagian masyarakat mempertanyakan bagaimana menjaga keseimbangan antara hak individu, ekspresi diri, dan nilai agama.
Islam Datang Memuliakan Perempuan
Sebelum Islam datang, dalam beberapa masyarakat kuno perempuan sering mengalami perlakuan tidak adil. Islam kemudian membawa ajaran yang menempatkan perempuan sebagai manusia yang memiliki kehormatan dan hak.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT menegaskan bahwa manusia laki-laki maupun perempuan memiliki kedudukan yang sama dalam mendapatkan kemuliaan berdasarkan ketakwaannya.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa ukuran kemuliaan manusia bukan berdasarkan jenis kelamin, kekayaan, kecantikan, atau status sosial, tetapi berdasarkan ketakwaan dan amal kebaikannya.
Perempuan Tidak Dinilai Hanya dari Penampilan
Salah satu pembahasan yang sering muncul di zaman media sosial adalah bagaimana perempuan menampilkan dirinya di ruang publik.
Perkembangan teknologi membuat banyak orang mencari perhatian melalui jumlah pengikut, komentar, dan tanda suka (likes). Kondisi tersebut terkadang membuat seseorang merasa nilai dirinya bergantung pada bagaimana orang lain melihat penampilannya.
Dalam perspektif Islam, perempuan memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada sekadar fisik.
Seorang perempuan dihormati karena:
- Akhlaknya.
- Ilmunya.
- Kebaikannya.
- Perannya dalam keluarga.
- Kontribusinya kepada masyarakat.
- Ketakwaannya kepada Allah SWT.
Islam mengajarkan bahwa kecantikan adalah anugerah, tetapi bukan satu-satunya ukuran harga diri seseorang.
Aurat dan Kehormatan dalam Pandangan Islam
Dalam ajaran Islam, menjaga aurat merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah SWT.
Para ulama menjelaskan bahwa aturan mengenai pakaian bukan bertujuan merendahkan perempuan, melainkan sebagai bentuk penjagaan kehormatan, identitas, dan hubungan sosial yang sehat.
Namun, para ulama juga mengingatkan bahwa menjaga pakaian harus berjalan bersama dengan menjaga akhlak.
Seseorang tidak dapat menilai seluruh kepribadian manusia hanya dari tampilan luar. Ada orang yang pakaiannya baik tetapi akhlaknya belum baik, dan ada pula orang yang masih dalam proses memperbaiki diri.
Karena itu, Islam mengajarkan agar manusia memperbaiki diri sekaligus tidak mudah menghina orang lain.
Kebebasan Perempuan Menurut Islam
Dalam masyarakat modern, kebebasan sering diartikan sebagai kemampuan seseorang menentukan pilihan hidupnya sendiri.
Islam mengakui adanya kehormatan dan hak perempuan, tetapi kebebasan dalam Islam selalu berjalan bersama tanggung jawab.
Artinya, setiap pilihan manusia memiliki konsekuensi moral.
Islam tidak melarang perempuan untuk:
- Belajar.
- Bekerja.
- Berkarya.
- Berbisnis.
- Berkontribusi dalam masyarakat.
Namun Islam juga mengajarkan agar setiap aktivitas dilakukan dengan menjaga nilai agama dan kehormatan diri.
Jangan Menjadikan Tubuh Sebagai Ukuran Nilai Diri
Salah satu kritik yang muncul di era modern adalah ketika perempuan merasa harus mendapatkan pengakuan melalui penampilan fisik.
Media sosial dan industri kecantikan sering membentuk standar tertentu tentang perempuan ideal:
- Harus cantik.
- Harus langsing.
- Harus terlihat menarik.
- Harus mendapatkan perhatian.
Padahal, nilai manusia tidak seharusnya bergantung pada penilaian orang lain.
Dalam Islam, tubuh adalah amanah yang harus dijaga, bukan alat untuk mendapatkan penghargaan manusia.
Pandangan Ulama tentang Kehormatan Perempuan
Para ulama menjelaskan bahwa Islam memerintahkan umatnya menjaga kehormatan laki-laki dan perempuan.
Buya Hamka dalam berbagai pemikirannya menekankan pentingnya kemuliaan manusia melalui akhlak dan kepribadian, bukan sekadar penampilan lahiriah.
Sementara M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa ajaran Islam bertujuan menghadirkan kemaslahatan manusia. Aturan agama bukan untuk membatasi kehormatan manusia, tetapi memberikan arah agar kehidupan berjalan dengan nilai yang baik.
Para ulama juga mengingatkan bahwa nasihat dalam Islam harus dilakukan dengan cara yang bijaksana, bukan dengan mencela atau merendahkan seseorang.
Mengkritik Perilaku Bukan Menghina Manusia
Dalam kehidupan sosial, perbedaan pandangan adalah hal yang wajar.
Ketika seseorang dianggap melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan nilai agama, Islam mengajarkan pentingnya memberikan nasihat dengan kasih sayang.
Menyampaikan kebaikan tidak boleh berubah menjadi:
- Menghina.
- Mempermalukan.
- Menyebarkan aib.
- Merasa diri paling suci.
Sebab manusia tidak ada yang sempurna dan setiap orang memiliki perjalanan untuk memperbaiki dirinya.
Tantangan Perempuan di Era Digital
Perempuan masa kini menghadapi berbagai tantangan baru.
Di satu sisi, perempuan mendapatkan banyak kesempatan untuk berkembang. Namun di sisi lain, mereka juga menghadapi tekanan sosial dari berbagai arah.
Tekanan tersebut dapat berupa:
- Standar kecantikan yang tidak realistis.
- Keinginan mendapatkan pengakuan.
- Perbandingan hidup melalui media sosial.
- Penilaian masyarakat yang berlebihan.
Karena itu, penting bagi perempuan untuk memiliki keyakinan bahwa harga dirinya tidak ditentukan oleh komentar manusia.
Islam datang untuk mengangkat derajat perempuan dan memberikan kehormatan yang tinggi. Perempuan bukan sekadar dinilai dari kecantikan atau penampilannya, tetapi dari iman, akhlak, ilmu, dan manfaatnya bagi kehidupan.
Di sisi lain, menjaga kehormatan bukan berarti menghina atau menghakimi perempuan yang sedang berproses memperbaiki diri.
Islam mengajarkan keseimbangan: menghormati hak manusia, menjaga nilai agama, serta memberikan nasihat dengan penuh kasih sayang.
Pada akhirnya, kehormatan seseorang bukan diukur dari seberapa banyak manusia mengaguminya, tetapi dari bagaimana hubungannya dengan Allah SWT dan bagaimana ia memberikan manfaat bagi sesama.
***
Sumber: TIY.
Penulis: Vico Rahman.

Tinggalkan Balasan