Queensha.id – Edukasi Sosial,

 

Di tengah era komunikasi yang serba cepat, fenomena “omong tinggi” atau kebiasaan berbicara berlebihan semakin mudah ditemui. Tidak hanya di lingkungan pergaulan sehari-hari, tetapi juga merambah ke ruang digital seperti media sosial. Banyak individu tampak gemar menceritakan berbagai hal dengan bumbu berlebihan, seolah ingin terlihat lebih hebat dari kenyataan.

Perilaku ini bukan sekadar kebiasaan berbicara, melainkan cerminan dari dorongan psikologis untuk diakui, dihargai, bahkan dipuji oleh orang lain.

Mengagungkan Diri Sendiri

Salah satu ciri paling mencolok adalah kecenderungan mengagungkan diri. Individu dengan karakter ini sering menempatkan dirinya sebagai tokoh utama dalam setiap cerita, bahkan dalam situasi yang sebenarnya biasa saja. Prestasi kecil bisa dikemas menjadi pencapaian besar, seolah-olah dirinya selalu berada di atas rata-rata.

Mereka cenderung sulit menerima posisi biasa. Dalam setiap percakapan, selalu ada upaya untuk menunjukkan bahwa dirinya lebih unggul, lebih berpengalaman, atau lebih “penting” dibanding orang lain.

Cerita yang Dilebih-lebihkan

Ciri berikutnya adalah kebiasaan melebih-lebihkan cerita. Fakta yang sederhana sering dibumbui dengan detail yang tidak perlu, bahkan terkadang menjurus pada dramatisasi berlebihan. Tujuannya jelas yaitu menarik perhatian dan menciptakan kesan mendalam bagi pendengar.

Dalam jangka panjang, perilaku ini bisa menimbulkan ketidakpercayaan. Orang-orang di sekitarnya mulai mempertanyakan kebenaran setiap cerita yang disampaikan.

Memamerkan Diri Lewat Narasi

Alih-alih menunjukkan pencapaian secara nyata, individu ini lebih memilih “memamerkan” melalui cerita. Mereka menggambarkan diri sebagai sosok yang sukses, berpengaruh, atau memiliki koneksi luas, meskipun realitasnya belum tentu demikian.

Fenomena ini juga sering terlihat di media sosial, di mana narasi kehidupan dikemas sedemikian rupa agar tampak sempurna dan mengundang kekaguman.

Menghebatkan Orang Lain Secara Berlebihan

Menariknya, tidak hanya diri sendiri yang dilebih-lebihkan. Orang lain dalam cerita mereka juga sering digambarkan secara luar biasa yaitu terutama jika orang tersebut berkaitan dengan dirinya.

 

Misalnya, menyebut teman biasa sebagai “orang penting” atau “tokoh besar”, demi ikut terangkat citranya.

Strategi ini kerap digunakan untuk membangun kesan bahwa dirinya berada dalam lingkaran orang-orang hebat.

Dampak Sosial yang Tersembunyi

Sekilas, perilaku ini mungkin tampak sepele. Namun, jika terus dibiarkan, dapat merusak kepercayaan sosial. Lingkungan sekitar bisa menjadi jenuh, bahkan menjauh karena merasa cerita yang disampaikan tidak lagi autentik.

Lebih jauh, kebiasaan ini juga bisa menjadi tanda kurangnya rasa percaya diri. Di balik cerita yang tinggi, sering kali tersembunyi kebutuhan akan pengakuan yang belum terpenuhi.

 

Pandangan Ulama Indonesia: Antara Riya dan Kejujuran

Sejumlah ulama terkemuka di Indonesia menilai bahwa kebiasaan “omong tinggi” dan melebih-lebihkan cerita tidak hanya berdampak sosial, tetapi juga memiliki konsekuensi moral dan spiritual.

Quraish Shihab menegaskan bahwa Islam sangat menekankan kejujuran dalam berbicara. Dalam berbagai tafsirnya, ia menjelaskan bahwa ucapan yang dilebih-lebihkan hingga keluar dari kebenaran dapat masuk dalam kategori dusta, meskipun disampaikan dengan tujuan menarik perhatian.

Sementara itu, Abdul Somad atau yang dikenal sebagai Ustaz Abdul Somad (UAS), kerap mengingatkan bahwa kebiasaan memamerkan diri melalui cerita bisa mendekati sifat riya yakni melakukan sesuatu demi dilihat dan dipuji orang lain.

 

Menurutnya, riya bukan hanya dalam tindakan, tetapi juga bisa muncul dalam ucapan.

Pandangan serupa juga disampaikan oleh Yahya Cholil Staquf, Ketua Umum PBNU. Ia menekankan pentingnya menjaga integritas dalam komunikasi publik. Dalam konteks masyarakat modern, menurutnya, kejujuran adalah fondasi utama untuk membangun kepercayaan sosial yang sehat.

Dalam perspektif keislaman, perilaku melebih-lebihkan cerita juga berkaitan dengan larangan berkata tanpa dasar yang jelas. Islam mendorong umatnya untuk berbicara seperlunya, benar, dan tidak berlebihan.

Berbicara dan berbagi cerita adalah hal wajar dalam kehidupan sosial. Namun, ketika cerita mulai dipenuhi dengan berlebihan, pencitraan, dan pengagungan diri, nilai kejujuran menjadi taruhannya.

Baik dari sisi sosial maupun pandangan agama, keaslian dan kejujuran tetap menjadi nilai utama yang tidak tergantikan. Di tengah masyarakat yang semakin kritis, kepercayaan bukan dibangun dari cerita yang tinggi, melainkan dari kebenaran yang konsisten.

 

***
(29 Maret 2026)