Queensha.id – Media Sosial,
Jagat media sosial kembali dihebohkan dengan narasi yang menyebut terdapat sebuah gua di Tasikmalaya, Jawa Barat, yang dipercaya memiliki “jalur tikus” menuju Kota Suci Mekah. Bahkan, klaim yang beredar menyebut seseorang cukup berjalan kaki sekitar 1,5 jam untuk tiba di Tanah Suci melalui jalur tersebut.
Narasi tersebut semakin ramai karena disertai cerita bahwa banyak warga mempercayainya hingga disebut-sebut berdampak terhadap penurunan minat masyarakat menggunakan jasa biro perjalanan umrah maupun haji.
Lantas, benarkah cerita tersebut?
Berasal dari Cerita Mistis yang Sudah Lama Beredar
Berdasarkan penelusuran dari berbagai sumber yang beredar di internet dan media sosial, kisah mengenai gua yang konon memiliki akses langsung menuju Mekah bukanlah cerita baru. Cerita tersebut telah lama berkembang sebagai bagian dari kisah mistis atau cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun di sebagian masyarakat.
Namun hingga saat ini tidak ada bukti ilmiah, penelitian geologi, maupun keterangan resmi dari pemerintah, ulama, atau otoritas Arab Saudi yang membenarkan adanya jalur bawah tanah dari Indonesia menuju Kota Mekah.
Secara Ilmiah Mustahil
Jika ditinjau dari sisi ilmu pengetahuan, klaim tersebut sangat sulit diterima.
Indonesia dan Arab Saudi dipisahkan oleh ribuan kilometer lautan dan beberapa negara. Jarak udara dari Indonesia menuju Mekah mencapai sekitar 8.000 hingga 9.000 kilometer, sehingga secara geologis tidak mungkin terdapat lorong alami yang dapat ditempuh hanya dalam waktu 1,5 jam berjalan kaki.
Selain itu, tidak pernah ditemukan hasil survei geologi internasional yang menunjukkan keberadaan terowongan semacam itu.
Benarkah Travel Umrah Terancam Bangkrut?
Narasi yang menyebut biro travel umrah di Tasikmalaya terancam gulung tikar akibat masyarakat memilih berjalan melalui gua juga belum memiliki bukti yang dapat diverifikasi.
Hingga kini tidak ditemukan laporan resmi dari asosiasi penyelenggara perjalanan ibadah umrah maupun pemerintah yang menyatakan adanya penurunan bisnis karena alasan tersebut.
Dengan demikian, klaim tersebut lebih merupakan cerita yang berkembang di media sosial daripada fakta yang didukung data.
Perspektif Islam
Dalam ajaran Islam, ibadah haji dan umrah memiliki tata cara yang jelas.
Jemaah wajib memasuki wilayah Arab Saudi melalui prosedur resmi yang ditetapkan pemerintah setempat, termasuk menggunakan dokumen perjalanan dan visa yang sah.
Islam juga mengajarkan agar umat berhati-hati menerima informasi.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 6 agar orang beriman melakukan tabayyun atau memeriksa kebenaran suatu berita sebelum mempercayai dan menyebarkannya.
Masyarakat Diimbau Tidak Mudah Percaya
Fenomena viral seperti ini menunjukkan pentingnya literasi digital. Tidak semua informasi yang ramai di media sosial dapat dijadikan fakta.
Sebelum mempercayai atau menyebarkan sebuah kabar, masyarakat sebaiknya memeriksa sumber informasi, mencari konfirmasi dari pihak berwenang, serta membandingkannya dengan data yang dapat dipertanggungjawabkan.
Klaim adanya jalur tikus menuju Mekah melalui sebuah gua di Tasikmalaya yang bisa ditempuh hanya 1,5 jam berjalan kaki tidak memiliki bukti ilmiah maupun dasar fakta yang dapat diverifikasi. Cerita tersebut lebih tepat dikategorikan sebagai mitos atau legenda yang berkembang di masyarakat.
Demikian pula narasi bahwa banyak biro travel umrah terancam bangkrut akibat masyarakat memilih jalur tersebut, hingga kini belum didukung bukti resmi dan patut disikapi secara kritis.
***
Sumber: Queensha Jepara/TIY.
Penulis: Vico Rahman.

Tinggalkan Balasan