Queensha.id – Edukasi Sosial,

 

Hubungan suami istri dalam Islam bukan hanya persoalan biologis, tetapi juga merupakan bagian dari ibadah, kasih sayang, dan tanggung jawab bersama. Salah satu hadits yang sering menjadi perdebatan adalah sabda Rasulullah Saw:

“Apabila seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidur, lalu istrinya menolak sehingga suaminya bermalam dalam keadaan marah kepadanya, maka malaikat melaknatnya hingga pagi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sebagian orang menganggap hadits ini tidak adil terhadap perempuan. Benarkah demikian? Jika dipahami secara utuh berdasarkan Al-Qur’an, hadits, dan penjelasan ulama, Islam justru mengatur hak dan kewajiban kedua belah pihak secara seimbang.

1. Mengapa Rasulullah Saw Menyebut Istri dalam Hadits Ini?

Hadits tersebut turun dalam konteks menjaga keharmonisan rumah tangga dan mencegah perselingkuhan atau perbuatan zina. Pada masa itu, sebagian perempuan menolak ajakan suami bukan karena uzur syar’i, melainkan sebagai bentuk kemarahan atau hukuman kepada suami.

Karena itu, Rasulullah Saw memberikan peringatan agar hak pasangan tidak diabaikan.

Namun, para ulama menegaskan bahwa hadits ini tidak boleh dipahami sebagai pembenaran untuk memaksa istri berhubungan intim dalam kondisi yang membahayakan atau menyakitinya.

2. Apa Makna “Dilaknat Malaikat”?

Kata “laknat” dalam hadits tidak berarti istri otomatis menjadi kafir atau pasti masuk neraka.

Mayoritas ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah doa malaikat agar orang yang sengaja menolak tanpa alasan yang dibenarkan dijauhkan dari rahmat Allah selama ia tetap dalam sikap tersebut.

Ini merupakan bentuk peringatan agar pasangan tidak menjadikan hubungan intim sebagai alat balas dendam atau senjata dalam konflik rumah tangga.

3. Kapan Hadits Ini Berlaku?

Hadits ini berlaku apabila:

  • Istri menolak tanpa alasan yang dibenarkan.
  • Penolakan dilakukan untuk menyakiti atau menghukum suami.
  • Tidak ada uzur syar’i maupun kondisi yang menghalangi.

Jika istri mengalami:

  • sakit,
  • haid,
  • nifas,
  • kelelahan berat,
  • gangguan kesehatan,
  • trauma,
  • atau kondisi psikologis,

maka ia tidak termasuk dalam ancaman hadits tersebut menurut penjelasan para ulama.

4. Apakah Suami Boleh Memaksa Istri?

Tidak.

Islam memerintahkan suami mempergauli istrinya dengan cara yang baik sebagaimana firman Allah dalam Surah An-Nisa ayat 19.

Karena itu, hubungan intim harus dibangun atas dasar kasih sayang, kelembutan, dan komunikasi yang baik, bukan paksaan atau kekerasan.

5. Apakah Suami Memiliki Kewajiban Memenuhi Kebutuhan Istri?

Ya.

Para ulama menjelaskan bahwa kebutuhan biologis istri juga merupakan hak yang wajib dipenuhi suami.

Imam Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa sebagaimana suami memiliki hak memperoleh pelayanan biologis, istri pun memiliki hak yang sama untuk dipenuhi kebutuhannya secara layak.

6. Mengapa Tidak Ada Hadits “Suami Dilaknat Malaikat”?

Tidak semua bentuk pelanggaran disebutkan dengan redaksi yang sama.

Al-Qur’an memberi peringatan keras kepada suami agar tidak menzalimi, menyakiti, atau menelantarkan istrinya.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 231 agar suami tidak mempertahankan istri hanya untuk menyusahkannya, karena hal itu merupakan kezaliman.

Dengan demikian, meskipun redaksi ancamannya berbeda, suami tetap memiliki tanggung jawab besar di hadapan Allah.

7. Bagaimana Jika Suami Menolak Hubungan Intim?

Jika penolakan terjadi sesekali karena sakit, kelelahan, atau alasan yang dibenarkan, maka tidak menjadi dosa.

Namun apabila suami terus-menerus menolak tanpa alasan hingga menelantarkan kebutuhan biologis istrinya dan menyebabkan penderitaan, maka ia dapat berdosa karena tidak menunaikan kewajibannya.

Dalam fikih, persoalan seperti ini dapat menjadi bagian dari sengketa rumah tangga yang harus diselesaikan secara adil.

8. Islam Mengajarkan Kesalingan

Rumah tangga tidak dibangun atas dominasi salah satu pihak.

Islam mengajarkan:

  • saling melayani,
  • saling menghormati,
  • saling memahami,
  • saling memenuhi hak,
  • saling menjaga kehormatan.

Hubungan intim bukan sekadar memenuhi syahwat, melainkan memperkuat cinta, kasih sayang, dan ketenangan dalam keluarga.

9. Jangan Gunakan Hadits Sebagai Alat Menekan Pasangan

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menggunakan hadits ini untuk mengancam istri.

Padahal Rasulullah Saw adalah teladan dalam kelembutan. Beliau tidak mengajarkan kekerasan atau pemaksaan dalam hubungan suami istri.

Sebaliknya, suami dan istri dianjurkan membangun komunikasi apabila salah satu sedang lelah, sakit, atau menghadapi masalah.

10. Hikmah Terbesar dari Ajaran Ini

Islam ingin menjaga keluarga dari keretakan.

Hak suami dijaga.

Hak istri juga dijaga.

Tidak ada yang lebih tinggi di antara keduanya dalam hal kemuliaan di hadapan Allah selain ketakwaannya.

Rumah tangga yang harmonis lahir ketika suami dan istri sama-sama memahami bahwa pernikahan adalah amanah, bukan ajang mencari kemenangan atas pasangan.

Hadits tentang “laknat malaikat” bukanlah bentuk diskriminasi terhadap perempuan, melainkan peringatan agar hak pasangan tidak diabaikan tanpa alasan yang dibenarkan. Di sisi lain, Islam juga memberikan tanggung jawab besar kepada suami untuk memperlakukan istri dengan baik, memenuhi hak-haknya, dan tidak menzaliminya.

Karena itu, keseimbangan hak dan kewajiban menjadi fondasi utama rumah tangga Islami. Hubungan intim bukan sekadar urusan biologis, melainkan ibadah yang harus dijalankan dengan cinta, kasih sayang, saling menghormati, dan komunikasi yang sehat. Dengan memahami ajaran Islam secara utuh, pasangan suami istri dapat membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.

 

***

Sumber: Queensha Jepara.

Penulis: Vico Rahman.