Queensha.id – Jepara,
Di tengah padatnya permukiman warga di Kelurahan Potroyudan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, terdapat sebuah situs unik yang hingga kini masih menjadi perbincangan masyarakat. Namanya Gunung Udel atau Gunung Wudel, sebuah gundukan tanah kecil yang dijuluki sebagai salah satu gunung terkecil di dunia.
Meski hanya memiliki tinggi sekitar 2,5 meter, Gunung Udel menyimpan beragam kisah sejarah, legenda, dan kepercayaan masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun. Keberadaannya bahkan disebut telah ada sejak 1917, berdasarkan tulisan atau penanda yang terdapat di lokasi.
Gundukan Kecil yang Menjadi Ikon Unik Jepara
Berbeda dengan gunung pada umumnya yang menjulang tinggi, Gunung Udel hanya berupa gundukan tanah kecil yang telah dilapisi semen dan batu. Bagian puncaknya dibuat menyerupai bentuk udel atau pusar, sehingga masyarakat setempat mengenalnya dengan nama Gunung Udel atau Gunung Wudel.
Keunikan bentuk tersebut menjadikan lokasi ini sebagai salah satu destinasi wisata sejarah yang menarik perhatian warga lokal maupun wisatawan yang penasaran dengan kisah di baliknya.
Saat dikonfirmasi awak media kepada Lurah Potroyudan, Siti Fatimah mengatakan, “Menurut cerita itu gunung buatan seseorang pada jaman dulu. Dibuat oleh tokoh masyarakat bernama Pak Jumadi, ” ujarnya, Kamis (22/10/2026).
Telah Ada Sejak Tahun 1917
Berdasarkan penanda yang terdapat di kawasan tersebut, Gunung Udel diperkirakan telah dikenal masyarakat sejak tahun 1917, jauh sebelum Indonesia meraih kemerdekaan.
Usia yang telah melampaui satu abad itu menjadikan Gunung Udel sebagai salah satu situs bersejarah lokal yang masih bertahan hingga sekarang dan menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Jepara.
Dikenal Sebagai “Kumbange Jalmo”
Dalam tradisi lisan masyarakat, Gunung Udel juga dikenal dengan sebutan Kumbange Jalmo.
Istilah tersebut dimaknai sebagai tempat atau titik berkumpulnya manusia. Meski maknanya beragam menurut penuturan warga, sebutan tersebut menunjukkan bahwa lokasi ini memiliki nilai budaya dan filosofi yang masih dipercaya oleh sebagian masyarakat hingga kini.
Beragam Versi Cerita Rakyat
Seperti banyak situs bersejarah lainnya, Gunung Udel memiliki beberapa versi cerita yang berkembang di tengah masyarakat.
Sebagian warga meyakini lokasi tersebut merupakan petilasan atau tempat singgah tokoh-tokoh besar pada masa Kerajaan Kalingga maupun Kesultanan Kalinyamat, seperti Ratu Shima atau Ratu Kalinyamat.
Namun, terdapat pula versi lain yang menyebutkan bahwa gundukan tersebut awalnya hanyalah bekas tumpukan sampah yang kemudian dirapikan, dibentuk, dan disemen hingga menjadi seperti sekarang.
Perbedaan cerita tersebut menjadi bagian dari kekayaan tradisi lisan yang hidup di tengah masyarakat Jepara.
Destinasi Wisata Unik di Tengah Kota
Saat ini Gunung Udel menjadi salah satu tujuan wisata unik yang sering dikunjungi masyarakat. Selain sekadar melihat bentuknya yang tidak biasa, sebagian warga juga datang untuk mengenang sejarah lokal maupun melakukan ziarah sesuai dengan kepercayaan masing-masing.
Lokasinya yang berada di kawasan perkotaan membuat situs ini mudah dijangkau dan menjadi salah satu daya tarik wisata sejarah yang berbeda dari destinasi lainnya di Kabupaten Jepara.
Pentingnya Pelestarian Situs Sejarah
Keberadaan Gunung Udel menjadi pengingat bahwa sejarah tidak selalu hadir dalam bentuk bangunan besar atau monumen megah. Situs sederhana pun dapat memiliki nilai budaya yang tinggi apabila menyimpan cerita, tradisi, dan identitas masyarakat.
Pelestarian situs seperti Gunung Udel perlu terus dilakukan melalui perawatan fisik, penyediaan informasi sejarah yang akurat, serta edukasi kepada generasi muda agar warisan budaya lokal tidak hilang ditelan perkembangan zaman.
Menurut Pandangan Pengamat Sosial
Pengamat sosial asal Jepara, Purnomo Wardoyo, mengatakan Gunung Udel merupakan bagian dari kekayaan sejarah lokal yang patut dijaga bersama.
“Terlepas dari berbagai versi cerita yang berkembang, Gunung Udel adalah warisan budaya masyarakat Jepara. Nilai terpentingnya bukan hanya pada bentuk fisiknya, tetapi juga pada cerita rakyat, identitas daerah, dan kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi. Situs seperti ini perlu dilestarikan dan dikaji secara ilmiah agar sejarah lokal tetap hidup serta mampu menjadi daya tarik wisata edukatif,” ujar Purnomo Wardoyo, Kamis (22/10/2026).
Menurutnya, pelestarian situs sejarah juga dapat memperkuat identitas daerah sekaligus mendukung sektor pariwisata berbasis budaya di Kabupaten Jepara.
Ia berharap situs-situs unik di Jepara tidak hanya dikenal karena keunikannya, tetapi juga mampu menjadi sarana pembelajaran tentang budaya, sejarah, dan kearifan lokal bagi masyarakat luas.
***
Sumber: Queensha Jepara.
Penulis: Vico Rahman.

Tinggalkan Balasan