Queensha.id – Edukasi Sosial,

 

Dalam kehidupan rumah tangga, komunikasi merupakan salah satu fondasi utama untuk membangun keluarga yang harmonis. Namun, tidak sedikit istri yang merasa sedih ketika suaminya lebih terbuka kepada ibunya mengenai persoalan pekerjaan, penghasilan, maupun masalah keuangan dibandingkan kepada istrinya sendiri.

Fenomena ini tidak selalu berarti sang suami tidak mencintai istrinya. Ada banyak faktor psikologis, kebiasaan sejak kecil, hingga kurangnya komunikasi yang dapat menjadi penyebabnya. Meski demikian, jika dibiarkan berlarut-larut, kondisi ini dapat memicu kesalahpahaman dan mengganggu keharmonisan rumah tangga.

1. Terbiasa Bergantung kepada Ibu Sejak Kecil

Banyak laki-laki sejak kecil terbiasa menceritakan segala persoalan kepada ibunya. Kebiasaan tersebut terbawa hingga setelah menikah.

Solusi: Suami perlu mulai membangun kebiasaan berdiskusi dengan istri. Istri pun perlu menjadi pendengar yang baik tanpa langsung menghakimi.

2. Takut Istri Terlalu Khawatir

Ada suami yang menyimpan masalah pekerjaan karena tidak ingin istrinya ikut stres.

Padahal, niat baik ini justru sering menimbulkan kesalahpahaman karena istri merasa tidak dipercaya.

Solusi: Sampaikan masalah secara jujur dengan bahasa yang tenang dan tetap memberi harapan bahwa persoalan sedang diupayakan penyelesaiannya.

3. Merasa Ibunya Lebih Berpengalaman

Seorang ibu biasanya telah melewati banyak pengalaman hidup sehingga anak laki-lakinya merasa lebih nyaman meminta nasihat.

Solusi: Nasihat ibu boleh didengarkan, tetapi keputusan rumah tangga tetap sebaiknya dimusyawarahkan bersama istri.

4. Hubungan Komunikasi dengan Istri Kurang Baik

Jika setiap kali bercerita berakhir dengan pertengkaran, suami bisa memilih diam atau mencari tempat curhat lain.

Solusi: Bangun komunikasi yang penuh empati, saling menghargai, dan fokus mencari solusi, bukan saling menyalahkan.

5. Istri Kurang Memahami Kondisi Pekerjaan Suami

Ada pekerjaan yang penuh tekanan sehingga suami merasa istrinya sulit memahami situasi tersebut.

Solusi: Luangkan waktu saling mengenal dunia kerja masing-masing agar tumbuh rasa saling memahami.

6. Masih Sangat Bergantung Secara Emosional kepada Orang Tua

Setelah menikah, sebagian laki-laki belum sepenuhnya mandiri secara emosional sehingga setiap masalah kembali kepada ibunya.

Solusi: Belajar menjadi kepala keluarga yang mandiri tanpa memutus hubungan baik dengan orang tua.

7. Takut Dianggap Gagal oleh Istri

Sebagian suami merasa malu jika harus mengakui kondisi keuangan sedang sulit.

Solusi: Istri hendaknya memberi dukungan, bukan membandingkan suami dengan orang lain.

8. Kurangnya Kepercayaan dalam Mengelola Keuangan Bersama

Jika sebelumnya sering terjadi konflik mengenai uang, suami bisa memilih merahasiakan kondisi keuangannya.

Solusi: Buat anggaran keluarga secara terbuka, jujur, dan disepakati bersama.

9. Campur Tangan Orang Tua yang Terlalu Besar

Tidak semua orang tua bermaksud buruk. Namun jika terlalu ikut mengatur urusan rumah tangga anak, konflik dapat muncul.

Solusi: Tetap hormati orang tua, tetapi berikan batas yang sehat antara keluarga inti dan keluarga besar.

10. Belum Memahami Hak dan Tanggung Jawab Setelah Menikah

Sebagian pasangan belum menyadari bahwa setelah akad nikah, suami dan istri menjadi satu tim dalam membangun keluarga.

Solusi: Perbanyak belajar tentang hak, kewajiban, dan komunikasi dalam rumah tangga melalui kajian, buku, atau konseling keluarga.

Pandangan Islam

Islam mengajarkan agar seorang anak tetap berbakti kepada kedua orang tuanya, terutama ibu yang memiliki kedudukan sangat mulia. Namun, setelah menikah, suami juga memikul amanah sebagai pemimpin keluarga.

Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 34 bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya. Kepemimpinan ini bukan berarti otoriter, tetapi bertanggung jawab dalam melindungi, menafkahi, dan bermusyawarah dengan istri.

Al-Qur’an juga memerintahkan agar urusan keluarga diselesaikan dengan musyawarah. Karena itu, persoalan pekerjaan, penghasilan, maupun keuangan yang berkaitan langsung dengan kehidupan rumah tangga pada dasarnya lebih tepat dibicarakan terlebih dahulu bersama istri.

Dalam Islam, berbakti kepada ibu tetap menjadi kewajiban sepanjang hayat. Seorang suami boleh meminta nasihat kepada ibunya selama tidak menimbulkan kezaliman kepada istrinya atau membuka aib rumah tangga tanpa alasan yang dibenarkan.

Rasulullah SAW juga mencontohkan kehidupan rumah tangga yang penuh dialog, kelembutan, dan saling menghargai dengan para istrinya. Ini menunjukkan pentingnya komunikasi yang baik antara suami dan istri.

Keseimbangan yang Dianjurkan Islam

Islam mengajarkan keseimbangan:

  • Tetap berbakti kepada ibu dan menghormati orang tua.
  • Menjadikan istri sebagai sahabat, tempat bermusyawarah, dan pendamping hidup.
  • Tidak membandingkan ibu dan istri karena keduanya memiliki kedudukan dan hak yang berbeda.
  • Menjaga rahasia rumah tangga serta menyelesaikan persoalan keluarga dengan hikmah.
  • Mengutamakan musyawarah dalam keputusan yang menyangkut kehidupan keluarga.

Suami yang lebih sering membicarakan masalah pekerjaan atau keuangan kepada ibunya tidak selalu berarti tidak menyayangi istrinya. Hal itu bisa dipengaruhi kebiasaan sejak kecil, faktor psikologis, atau komunikasi yang belum terbangun dengan baik.

Namun, dalam rumah tangga yang sehat, suami dan istri hendaknya saling terbuka, saling mendukung, dan menjadikan komunikasi sebagai jalan untuk menyelesaikan persoalan. Islam mengajarkan keseimbangan antara berbakti kepada orang tua dan memenuhi hak pasangan, sehingga keharmonisan keluarga tetap terjaga.

 

***

Sumber: Queensha Jepara.

Penulis: Vico Rahman.