Queensha.id – Edukasi Sosial,
Kalimat “Aku bertahan demi anak” menjadi ungkapan yang sering terdengar dari banyak perempuan yang menghadapi persoalan rumah tangga. Di balik kalimat sederhana tersebut, tersimpan pergulatan batin yang sangat berat. Di satu sisi, seorang ibu ingin memberikan keluarga yang utuh bagi buah hatinya. Namun di sisi lain, ia harus menghadapi rasa sakit akibat perlakuan buruk pasangan.
Tidak sedikit perempuan yang bertahan dalam hubungan yang penuh konflik karena khawatir anak akan kehilangan sosok ayah. Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa mempertahankan rumah tangga yang dipenuhi kekerasan, penghinaan, atau pertengkaran terus-menerus juga dapat memberikan dampak buruk terhadap perkembangan anak.
Lalu, bagaimana sebenarnya persoalan ini dipandang dari sisi psikologi dan ajaran Islam?
1. Mengapa Banyak Ibu Memilih Bertahan Demi Anak?
Keputusan bertahan biasanya bukan karena tidak mampu mengambil keputusan, melainkan karena banyak pertimbangan.
Beberapa alasan yang sering muncul antara lain:
- Anak masih kecil.
- Takut anak kehilangan figur ayah.
- Bergantung secara ekonomi.
- Takut menjadi bahan pembicaraan masyarakat.
- Masih berharap pasangan berubah menjadi lebih baik.
- Memikirkan masa depan pendidikan anak.
Oleh sebab itu, keputusan seorang ibu untuk bertahan sering kali lahir dari rasa cinta yang besar kepada anak-anaknya.
2. Dampak Buruk Jika Rumah Tangga Dipenuhi Konflik Berkepanjangan
Namun demikian, apabila setiap hari anak menyaksikan pertengkaran, bentakan, penghinaan, atau bahkan kekerasan, kondisi tersebut justru dapat meninggalkan luka batin yang mendalam.
Anak dapat mengalami:
- Mudah cemas.
- Sulit percaya kepada orang lain.
- Prestasi belajar menurun.
- Menjadi pendiam atau agresif.
- Sulit mengendalikan emosi.
- Meniru perilaku buruk orang tua ketika dewasa.
Dengan kata lain, anak bukan hanya membutuhkan keluarga yang utuh, tetapi juga lingkungan yang aman, penuh kasih sayang, dan saling menghormati.
3. Kondisi Mental Ibu Sangat Berpengaruh terhadap Anak
Psikolog menjelaskan bahwa ibu merupakan figur utama dalam perkembangan emosi anak.
Ketika seorang ibu terus-menerus mengalami tekanan, penghinaan, atau ketakutan, kondisi tersebut dapat memengaruhi cara ia mengasuh anak.
Akibatnya, ibu mungkin menjadi:
- Mudah marah.
- Cepat lelah secara emosional.
- Sulit memberikan perhatian.
- Kehilangan semangat hidup.
- Mengalami stres hingga depresi.
Karena itu, menjaga kesehatan mental ibu bukanlah tindakan egois, melainkan bagian penting dari upaya melindungi masa depan anak.
4. Tidak Semua Masalah Rumah Tangga Harus Berakhir dengan Perceraian
Meskipun demikian, bukan berarti setiap konflik harus diselesaikan dengan perceraian.
Apabila masalah masih berupa:
- Kesalahpahaman.
- Komunikasi yang buruk.
- Perselisihan ringan.
- Masalah ekonomi.
Maka jalan terbaik adalah memperbaiki komunikasi, saling mengevaluasi diri, meminta nasihat keluarga yang bijaksana, atau mengikuti konseling pernikahan.
5. Namun Jika Terjadi Kekerasan, Jangan Menganggapnya Hal Biasa
Berbeda halnya apabila rumah tangga dipenuhi:
- Kekerasan fisik.
- Kekerasan psikis.
- Ancaman.
- Penghinaan terus-menerus.
- Perselingkuhan berulang tanpa penyesalan.
- Penelantaran istri dan anak.
Situasi seperti ini perlu ditangani secara serius. Keselamatan dan kesehatan seluruh anggota keluarga harus menjadi prioritas.
Pandangan Islam Tentang Bertahan Demi Anak
Islam sangat menjunjung tinggi keutuhan keluarga. Pernikahan bertujuan membangun rumah tangga yang penuh ketenangan (sakinah), kasih sayang (mawaddah), dan rahmat (rahmah), sebagaimana dijelaskan dalam Surah Ar-Rum ayat 21.
Karena itu, suami diperintahkan memperlakukan istri dengan baik. Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 19 agar para suami mempergauli istri secara patut (mu’asyarah bil ma’ruf).
1. Islam Menganjurkan Islah (Perdamaian)
Apabila terjadi perselisihan, Islam mengajarkan penyelesaian melalui dialog, saling memaafkan, musyawarah, dan menghadirkan penengah dari kedua belah pihak sebagaimana dijelaskan dalam Surah An-Nisa ayat 35.
2. Suami Tidak Boleh Menzalimi Istri
Rasulullah SAW bersabda bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling baik kepada keluarganya. Hadis ini menjadi pengingat bahwa suami tidak dibenarkan bersikap kasar, menghina, atau menyakiti istrinya.
3. Kesabaran Memiliki Nilai Besar, Tetapi Tidak Berarti Membiarkan Kezaliman
Islam memang memuliakan orang yang bersabar. Namun kesabaran bukan berarti membiarkan diri terus dizalimi tanpa ada upaya memperbaiki keadaan.
Apabila kezaliman terus terjadi dan semua ikhtiar telah dilakukan, Islam memberikan jalan keluar yang dibenarkan melalui perceraian sebagai solusi terakhir.
4. Perceraian Dibolehkan, Tetapi Menjadi Jalan Terakhir
Perceraian bukan tujuan utama dalam Islam. Namun ketika kehidupan rumah tangga justru menghadirkan mudarat yang lebih besar bagi suami, istri, maupun anak, maka perceraian dapat menjadi pilihan yang dibolehkan setelah berbagai upaya perdamaian dilakukan.
5. Kepentingan Anak Tetap Menjadi Prioritas
Baik tetap bersama maupun berpisah, orang tua tetap memiliki kewajiban mendidik, mencintai, dan memenuhi hak-hak anak.
Anak membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tuanya, meskipun mereka tidak lagi tinggal serumah.
Pesan untuk Para Suami
Suami hendaknya menyadari bahwa istri bukan sekadar pendamping hidup, melainkan amanah yang harus dijaga.
Ucapan yang lembut, penghargaan, perhatian, dan tanggung jawab merupakan fondasi rumah tangga yang harmonis. Sebaliknya, kemarahan yang tidak terkendali, penghinaan, maupun kekerasan hanya akan menghancurkan kepercayaan dan kebahagiaan keluarga.
Kalimat “bertahan demi anak” memang lahir dari kasih sayang seorang ibu. Namun, setiap keluarga memiliki kondisi yang berbeda. Rumah tangga yang penuh cinta, saling menghormati, dan aman bagi seluruh anggota keluarga adalah tujuan yang dianjurkan.
Dalam Islam, upaya memperbaiki hubungan harus diutamakan. Akan tetapi, jika terjadi kezaliman yang terus-menerus dan semua jalan damai telah ditempuh, Islam juga memberikan ruang untuk mengakhiri pernikahan secara baik sebagai pilihan terakhir. Yang terpenting, keputusan apa pun hendaknya mempertimbangkan keselamatan, kesehatan mental, serta masa depan anak dengan penuh kebijaksanaan.
***
Sumber: Queensha Jepara.
Penulis: Vico Rahman.

Tinggalkan Balasan