Queensha.id – Wisata Jepara,
Kabupaten Jepara tidak hanya dikenal sebagai Kota Ukir dan memiliki deretan pantai yang indah. Di wilayah lereng Pegunungan Muria, tepatnya di Desa Tempur, Kecamatan Keling, terdapat dua destinasi wisata alam yang semakin populer, yakni Puncak Candi Angin dan Puncak Gajah Mungkur.
Kedua destinasi tersebut menawarkan pengalaman berbeda bagi wisatawan. Puncak Candi Angin memadukan wisata sejarah dan alam, sedangkan Puncak Gajah Mungkur menjadi pilihan favorit pendaki pemula yang ingin menikmati panorama pegunungan tanpa harus menempuh jalur ekstrem.
Puncak Candi Angin, Perpaduan Wisata Sejarah dan Alam
Puncak Candi Angin berada di kawasan Desa Tempur dengan ketinggian sekitar 1.200–1.400 meter di atas permukaan laut. Di kawasan ini terdapat situs Candi Angin dan Candi Bubrah yang hingga kini masih menjadi objek penelitian arkeologi dan diyakini memiliki nilai sejarah penting.
Selain menikmati panorama alam Pegunungan Muria, pengunjung juga dapat menyaksikan reruntuhan cagar budaya yang menjadi daya tarik utama kawasan tersebut.
Saat cuaca cerah, hamparan perbukitan hijau, lembah, serta kabut tipis yang menyelimuti pegunungan menghadirkan pemandangan yang memanjakan mata, terutama saat matahari terbit.
Puncak Gajah Mungkur, Ramah bagi Pendaki Pemula
Tak jauh dari kawasan Candi Angin terdapat Puncak Gajah Mungkur, destinasi pendakian yang berada di sekitar 1.000 mdpl.
Jalur menuju puncak relatif lebih mudah sehingga cocok bagi pendaki pemula maupun wisata keluarga yang ingin menikmati suasana pegunungan tanpa medan yang terlalu berat. Dari atas puncak, wisatawan dapat menikmati panorama Desa Tempur, hamparan hutan, persawahan, hingga gugusan Pegunungan Muria.
Fasilitas Puncak Candi Angin
Pengelola wisata bersama masyarakat Desa Tempur telah menyediakan berbagai fasilitas pendukung, di antaranya:
– Area parkir kendaraan.
– Basecamp pendakian.
– Toilet umum.
– Pos informasi.
– Jalur pendakian yang telah ditata.
– Shelter atau tempat beristirahat.
– Warung makan milik warga.
– Area untuk berfoto.
– Camping ground di beberapa titik.
– Petugas pengelola wisata.
Fasilitas Puncak Gajah Mungkur
Di kawasan Puncak Gajah Mungkur, wisatawan juga dapat memanfaatkan berbagai fasilitas seperti:
– Area parkir.
– Jalur trekking yang relatif mudah.
– Camping ground.
– Toilet umum.
– Mushola.
– Warung makan dan kedai kopi.
– Spot foto panorama alam.
– Area istirahat.
– Pemandu lokal bila diperlukan.
Daya Tarik yang Membuat Wisatawan Betah
Tidak hanya menawarkan udara yang sejuk, kedua destinasi ini memiliki berbagai keunggulan, antara lain:
– Panorama sunrise dan lautan kabut.
– Keindahan hutan tropis Pegunungan Muria.
– Wisata sejarah Candi Angin dan Candi Bubrah.
– Cocok untuk camping dan fotografi.
– Udara bersih jauh dari kebisingan kota.
– Budaya masyarakat Desa Tempur yang masih terjaga.
– Jalur pendakian yang menantang namun aman bila mengikuti petunjuk pengelola.
Tips Berkunjung
Wisatawan disarankan datang pada musim kemarau atau saat cuaca cerah, menggunakan alas kaki khusus trekking, membawa air minum yang cukup, menjaga kebersihan kawasan wisata, serta mematuhi arahan petugas demi keselamatan bersama.
Pengamat sosial asal Jepara, Purnomo Wardoyo, mengatakan bahwa keberadaan Puncak Candi Angin dan Puncak Gajah Mungkur bukan hanya memiliki nilai wisata, tetapi juga menjadi aset budaya dan ekonomi masyarakat.
Menurutnya, pengembangan destinasi wisata harus tetap mengedepankan prinsip pelestarian lingkungan dan menjaga situs sejarah agar tetap lestari untuk generasi mendatang.
“Puncak Candi Angin dan Puncak Gajah Mungkur merupakan kekayaan alam sekaligus warisan sejarah yang dimiliki Jepara. Pengembangannya perlu melibatkan masyarakat sekitar agar manfaat ekonominya dirasakan langsung, namun tetap menjaga kelestarian alam, budaya, dan nilai sejarahnya,” ujar Purnomo Wardoyo, Selasa (27/10/2026).
Dengan perpaduan keindahan alam, sejarah, serta budaya lokal, kedua destinasi ini menjadi pilihan menarik bagi wisatawan yang ingin menikmati sisi lain Kabupaten Jepara selain wisata pantai. Selain menjadi lokasi rekreasi, kawasan tersebut juga berpotensi menjadi sarana edukasi mengenai sejarah, konservasi alam, dan pemberdayaan masyarakat desa.
***
Sumber: BS/Queensha Jepara.

Tinggalkan Balasan