Queensha.id – Edukasi Sosial,
Perselingkuhan bukanlah sebuah kecelakaan atau kesalahan yang terjadi tanpa kesadaran. Dalam banyak kasus, perselingkuhan merupakan keputusan yang diambil seseorang meskipun mengetahui risiko yang akan dihadapi. Karena itu, ketika sebuah hubungan berakhir akibat perselingkuhan, konsekuensi tersebut menjadi bagian dari pilihan yang telah dibuat pelaku.
Di sisi lain, pihak yang diselingkuhi sering kali mengalami luka batin yang mendalam. Namun demikian, para psikolog menegaskan bahwa keputusan untuk memaafkan maupun mengakhiri hubungan sama-sama merupakan pilihan yang sah. Tidak ada keputusan yang benar untuk semua orang karena setiap hubungan memiliki kondisi yang berbeda.
Berikut penjelasan mengenai 10 alasan mengapa perselingkuhan membawa konsekuensi besar menurut perspektif psikologi.
1. Perselingkuhan Merupakan Pilihan yang Disadari
Seseorang yang berselingkuh umumnya mengetahui bahwa tindakannya melanggar komitmen yang telah disepakati bersama. Oleh sebab itu, perselingkuhan tidak dapat dianggap sebagai kesalahan kecil, melainkan keputusan yang memiliki dampak besar terhadap pasangan dan keluarga.
2. Kepercayaan yang Rusak Sangat Sulit Dibangun Kembali
Selain itu, kepercayaan merupakan fondasi utama sebuah hubungan. Sekali kepercayaan hancur, proses untuk membangunnya kembali membutuhkan waktu yang sangat panjang, bahkan tidak sedikit pasangan yang gagal memulihkannya.
3. Berpisah Menjadi Salah Satu Konsekuensi yang Wajar
Lebih lanjut, banyak hubungan akhirnya berujung pada perceraian atau perpisahan setelah perselingkuhan terungkap. Hal tersebut bukan semata-mata karena kemarahan sesaat, melainkan akibat hilangnya rasa aman dan kepercayaan.
4. Korban Perselingkuhan Dapat Mengalami Trauma Psikologis
Tidak hanya itu, korban perselingkuhan dapat mengalami stres berat, kecemasan, depresi, bahkan gejala trauma akibat merasa dikhianati oleh orang yang paling dipercaya.
5. Anak Turut Menanggung Dampaknya
Apabila pasangan telah memiliki anak, dampak perselingkuhan sering kali ikut dirasakan oleh mereka. Konflik berkepanjangan dapat memengaruhi kondisi emosional, rasa aman, dan perkembangan psikologis anak.
6. Memaafkan Bukanlah Kewajiban
Di sisi lain, psikologi menjelaskan bahwa memaafkan merupakan hak korban, bukan kewajiban. Ada pasangan yang memilih memperbaiki hubungan, namun ada pula yang memilih berpisah demi kesehatan mentalnya. Kedua pilihan tersebut membutuhkan keberanian dan proses yang tidak mudah.
7. Penyesalan Biasanya Datang Setelah Akibat Terjadi
Sering kali pelaku baru merasakan penyesalan ketika kehilangan pasangan, keluarga, maupun kepercayaan orang-orang terdekat. Namun demikian, penyesalan tidak selalu mampu menghapus luka yang telah ditimbulkan.
8. Komitmen Menjadi Kunci Utama Hubungan
Menurut psikolog, hubungan yang sehat dibangun oleh komitmen, komunikasi, dan rasa tanggung jawab. Ketika komitmen diabaikan, peluang terjadinya perselingkuhan akan semakin besar.
9. Fokus pada Diri Sendiri Lebih Penting daripada Membalas Dendam
Bagi korban perselingkuhan, menjaga kesehatan mental, memperkuat hubungan dengan keluarga, dan mendekatkan diri kepada Tuhan merupakan langkah yang jauh lebih bermanfaat daripada terus tenggelam dalam kebencian. Psikolog juga menyarankan mencari dukungan keluarga atau bantuan profesional apabila trauma terasa berat.
10. Setiap Orang Bertanggung Jawab atas Pilihannya
Pada akhirnya, setiap keputusan memiliki konsekuensi. Orang yang memilih setia juga memilih menjaga kepercayaan. Sebaliknya, orang yang memilih berselingkuh harus siap menghadapi risiko kehilangan pasangan, keluarga, serta kepercayaan yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Pandangan Pakar Psikologi Indonesia
Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Prof. Dr. Nurul Hartini, menjelaskan bahwa perselingkuhan merupakan bentuk pelanggaran komitmen dalam hubungan. Menurutnya, sekecil apa pun bentuk ketidaksetiaan dapat menimbulkan stres psikologis yang serius bagi pasangan. Ia juga menekankan bahwa membangun kembali kepercayaan setelah dikhianati merupakan proses yang sangat sulit sehingga menjaga komitmen menjadi langkah terbaik untuk mempertahankan keutuhan rumah tangga.
Sementara itu, Psikolog Klinis Winda Maharani menjelaskan bahwa hubungan yang sehat tidak hanya dibangun atas dasar rasa cinta atau ketertarikan, tetapi juga komitmen, kepercayaan, dan tanggung jawab. Menurutnya, komunikasi yang terbuka serta konseling pranikah maupun pernikahan dapat menjadi langkah preventif untuk mengurangi risiko perselingkuhan.
***
Sumber: Queensha Jepara.
Penulis: Vico Rahman.

Tinggalkan Balasan