Queensha.id – Edukasi Sosial,
Rumah tangga merupakan ikatan yang dibangun atas dasar cinta, komitmen, tanggung jawab, dan kepercayaan. Namun dalam perjalanan pernikahan, tidak sedikit pasangan menghadapi rasa kecewa, konflik, bahkan ketidakpuasan.
Ketidakpuasan tersebut dapat berasal dari berbagai aspek, seperti komunikasi yang buruk, kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi, masalah ekonomi, hubungan intim yang tidak harmonis, hingga kurangnya perhatian satu sama lain.
Penting dipahami bahwa ketidakpuasan bukanlah pembenaran untuk berselingkuh. Perselingkuhan tetap merupakan keputusan pribadi yang membawa konsekuensi besar bagi pasangan, anak, maupun keluarga besar.
1. Mengapa Ketidakpuasan Bisa Terjadi?
Setiap rumah tangga pasti mengalami fase naik turun.
Beberapa penyebabnya antara lain:
- Komunikasi yang semakin renggang.
- Kesibukan pekerjaan.
- Konflik yang terus dipendam.
- Hilangnya rasa saling menghargai.
- Masalah ekonomi.
- Kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi.
- Kurangnya kedekatan spiritual.
Apabila masalah-masalah tersebut tidak segera diselesaikan, hubungan menjadi semakin rapuh.
2. Mengapa Sebagian Orang Memilih Berselingkuh?
Menurut berbagai penelitian psikologi keluarga, perselingkuhan biasanya dipengaruhi kombinasi beberapa faktor, antara lain:
- Mencari perhatian baru.
- Merasa dihargai oleh orang lain.
- Terlena dengan rayuan.
- Mencari sensasi.
- Lemahnya komitmen.
- Kurangnya pengendalian diri.
- Kesempatan yang terbuka melalui media sosial maupun lingkungan kerja.
Namun para ahli menegaskan bahwa tidak semua orang yang tidak puas dalam rumah tangga akan berselingkuh. Banyak pasangan justru memilih berdiskusi, mengikuti konseling, atau memperbaiki hubungan bersama.
3. Mengapa Orang Baru Sering Terlihat Lebih Menarik?
Dalam psikologi dikenal adanya kecenderungan bahwa hubungan baru sering tampak lebih menyenangkan karena belum menghadapi tantangan kehidupan sehari-hari.
Seseorang hanya melihat:
- perhatian,
- pujian,
- romantisme,
- dan sisi terbaik pasangan baru.
Sebaliknya, dalam rumah tangga lama seseorang sudah menghadapi tanggung jawab, mengurus anak, pekerjaan, ekonomi, hingga berbagai konflik kehidupan.
Karena itu, hubungan baru sering terlihat “lebih indah”, padahal belum tentu mampu bertahan menghadapi realitas kehidupan.
4. Mengapa Banyak Orang Menyesal Setelah Berselingkuh?
Penyesalan dapat muncul karena:
- kehilangan keluarga;
- kehilangan kepercayaan anak;
- perceraian;
- konflik berkepanjangan;
- tekanan psikologis;
- masalah ekonomi;
- penyesalan spiritual.
Tidak sedikit pelaku perselingkuhan baru menyadari nilai keluarganya setelah semuanya terlambat.
5. Mengapa Istri Sering Marah?
Dalam banyak kasus, kemarahan pasangan muncul karena:
- merasa dikhianati;
- kehilangan rasa aman;
- kecewa terhadap pasangan;
- takut kehilangan keluarga;
- memikirkan masa depan anak.
Meski demikian, psikologi menganjurkan agar konflik tetap diselesaikan melalui komunikasi yang sehat, bukan kekerasan verbal maupun fisik.
Pandangan Pakar Psikologi Indonesia
Psikolog keluarga Indonesia seperti menjelaskan bahwa perselingkuhan umumnya tidak terjadi hanya karena satu penyebab. Faktor komunikasi yang buruk, kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi, lemahnya komitmen, serta kesempatan dapat saling berkaitan. Karena itu, penyelesaiannya bukan sekadar mencari siapa yang salah, melainkan memperbaiki pola komunikasi, membangun kembali kepercayaan, dan bila diperlukan mengikuti konseling pernikahan.
Psikolog juga mengingatkan bahwa menyalahkan sepenuhnya pihak ketiga sering kali tidak menyelesaikan akar persoalan. Tanggung jawab utama atas keputusan berselingkuh tetap berada pada orang yang melanggar komitmen pernikahan.
Pandangan Islam
Dalam Islam, pernikahan adalah amanah yang harus dijaga.
Al-Qur’an memerintahkan suami dan istri untuk hidup dengan cara yang baik (mu’asyarah bil ma’ruf), saling menghormati, saling menjaga kehormatan, serta menyelesaikan perselisihan melalui musyawarah.
Islam juga melarang segala bentuk pendekatan menuju zina. Larangan tersebut bukan hanya terhadap perzinaan, tetapi juga terhadap perbuatan yang dapat mengarah kepadanya, seperti hubungan yang tidak pantas dengan lawan jenis, menjaga pandangan, dan menjaga batas pergaulan.
Apabila rumah tangga mengalami masalah, Islam menganjurkan:
- memperbanyak komunikasi yang baik;
- saling memaafkan;
- memperbaiki ibadah;
- meminta nasihat keluarga yang bijaksana;
- melakukan mediasi atau konsultasi bila diperlukan;
- menjadikan perceraian sebagai pilihan terakhir apabila semua upaya damai telah ditempuh.
Cara Menjaga Rumah Tangga Tetap Harmonis
Beberapa langkah yang dapat dilakukan pasangan antara lain:
- Meluangkan waktu berkualitas bersama.
- Menjaga komunikasi yang terbuka.
- Saling menghargai dan mengucapkan terima kasih.
- Menyelesaikan konflik tanpa saling merendahkan.
- Menjaga kesetiaan dan kepercayaan.
- Menjaga ibadah serta nilai-nilai agama dalam keluarga.
- Tidak membandingkan pasangan dengan orang lain.
- Menghindari hubungan yang berpotensi menimbulkan perselingkuhan.
- Bila masalah berat, mencari bantuan konselor atau psikolog.
- Mengingat kembali tujuan awal membangun keluarga.
Ketidakpuasan dalam rumah tangga merupakan persoalan yang dapat dialami banyak pasangan. Namun, kondisi tersebut tidak dapat dijadikan alasan untuk melakukan perselingkuhan.
Dari sudut pandang psikologi, masalah rumah tangga lebih baik diselesaikan melalui komunikasi, komitmen, dan bantuan profesional bila diperlukan. Sementara dalam Islam, kesetiaan, amanah, dan penyelesaian konflik secara bijaksana menjadi landasan untuk menjaga keutuhan keluarga. Dengan saling memahami, menghormati, dan memperbaiki diri, peluang mempertahankan rumah tangga yang harmonis akan jauh lebih besar.
***
Sumber: Queensha Jepara.
Penulis: Vico Rahman.

Tinggalkan Balasan