Queensha.id – Edukasi Sosial,

 

Perselingkuhan merupakan salah satu penyebab terbesar hancurnya rumah tangga. Namun, dalam banyak kasus justru muncul fenomena yang membingungkan, yaitu suami yang telah berselingkuh tetapi tetap menolak bercerai.

Banyak istri kemudian bertanya, apakah sikap tersebut berarti suami masih mencintai keluarganya? Ataukah ada alasan lain di balik penolakannya?

Dalam Islam, perselingkuhan merupakan dosa besar karena termasuk bentuk pengkhianatan terhadap amanah pernikahan. Sementara itu, mempertahankan hubungan yang dipenuhi kebohongan tanpa adanya taubat dan perubahan juga dapat menimbulkan kezaliman terhadap pasangan.

Berikut penjelasan lengkap mengenai berbagai kemungkinan penyebabnya beserta solusi menurut pandangan Islam.

1. Masih Mencintai Istri? Belum Tentu

Sebagian orang menganggap suami yang tidak mau bercerai berarti masih mencintai istrinya. Namun kenyataannya, tidak selalu demikian.

Cinta sejati ditunjukkan melalui kesetiaan, tanggung jawab, kejujuran, dan perlindungan terhadap pasangan. Jika seseorang terus-menerus berselingkuh tanpa penyesalan, maka cintanya patut dipertanyakan.

Solusi: Nilailah pasangan dari perubahan perilakunya, bukan sekadar ucapannya. Dalam Islam, taubat harus dibuktikan dengan meninggalkan maksiat, menyesal, dan tidak mengulanginya.

2. Egoisme yang Tinggi

Sering kali penyebab utama bukan cinta, melainkan ego.

Suami ingin mempertahankan istri sebagai penanggung jawab rumah tangga sekaligus tetap menikmati hubungan dengan wanita lain. Ia ingin memperoleh semua keuntungan tanpa kehilangan apa pun.

Solusi: Islam mengajarkan keadilan dan tanggung jawab. Istri berhak meminta perubahan nyata. Jika kezaliman terus berlangsung, penyelesaian melalui keluarga, mediator, atau jalur hukum dapat dipertimbangkan.

3. Takut Kehilangan Anak

Ada pula suami yang menolak cerai karena khawatir hubungan dengan anak menjadi renggang.

Sayangnya, sebagian menjadikan anak sebagai alat untuk menekan istri agar tetap bertahan meski rumah tangga sudah tidak sehat.

Solusi: Anak membutuhkan ayah yang bertanggung jawab, bukan sekadar ayah yang masih berstatus suami tetapi terus menyakiti ibunya.

4. Takut Kehilangan Kenyamanan

Banyak suami masih menikmati kenyamanan rumah.

Makanan tersedia, pakaian diurus, rumah bersih, dan anak-anak terawat. Di sisi lain, kebutuhan emosional atau biologis dipenuhi melalui perselingkuhan.

Solusi: Islam melarang mengambil manfaat dengan cara menzalimi pasangan. Rumah tangga harus dibangun atas dasar kasih sayang (mawaddah wa rahmah), bukan eksploitasi.

5. Takut Kehilangan Harta

Perceraian sering berkaitan dengan pembagian harta, nafkah, maupun tanggung jawab lainnya.

Karena alasan itulah sebagian suami memilih mempertahankan status pernikahan.

Solusi: Rezeki berada di tangan Allah SWT. Jangan mempertahankan kezaliman hanya demi materi.

6. Menjaga Citra di Masyarakat

Sebagian pria takut dicap gagal membina rumah tangga.

Akibatnya, mereka memilih mempertahankan status menikah meskipun diam-diam menjalani perselingkuhan.

Solusi: Dalam Islam, menjaga nama baik tidak boleh dilakukan dengan menutupi kemaksiatan yang terus berlangsung. Yang terpenting adalah memperbaiki diri.

7. Belum Siap Menanggung Konsekuensi

Perceraian membawa konsekuensi berupa nafkah anak, pembagian waktu, hingga tanggung jawab hukum.

Karena itu, sebagian pria memilih bertahan meski tetap berselingkuh.

Solusi: Setiap muslim harus bertanggung jawab atas seluruh perbuatannya, baik di dunia maupun di akhirat.

8. Menganggap Istri Tidak Akan Pergi

Ada suami yang merasa istrinya akan terus memaafkan.

Apalagi jika istri bergantung secara ekonomi, memiliki anak kecil, atau takut menghadapi perceraian.

Solusi: Istri perlu memiliki keberanian menjaga harga diri, memperkuat kemandirian ekonomi, serta meminta bantuan keluarga atau pihak yang dipercaya.

9. Tidak Benar-Benar Bertaubat

Seseorang yang belum bertaubat biasanya hanya berhenti sementara, kemudian mengulangi lagi.

Dalam Islam, taubat memiliki syarat: meninggalkan dosa, menyesal, bertekad tidak mengulanginya, serta memperbaiki kesalahan.

Solusi: Lihatlah perubahan dalam jangka panjang, bukan hanya janji sesaat.

10. Menganggap Perselingkuhan Hal Biasa

Sebagian orang menganggap selingkuh hanyalah kesalahan kecil.

Padahal Islam sangat menjaga kehormatan, kesucian keluarga, dan melarang segala jalan menuju zina.

Allah SWT berfirman:

“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra: 32).

Perselingkuhan sering diawali dari hal-hal yang dilarang, seperti hubungan emosional dengan lawan jenis, komunikasi yang tidak pantas, hingga akhirnya mengarah kepada perzinaan.

Solusi: Perkuat iman, menjaga pandangan, membatasi hubungan yang tidak perlu dengan lawan jenis, serta memperbanyak ibadah.

Pandangan Islam tentang Suami yang Berselingkuh

Islam memandang perselingkuhan sebagai perbuatan haram karena merupakan bentuk pengkhianatan terhadap akad nikah.

Beberapa prinsip penting dalam Islam antara lain:

  • Pernikahan adalah amanah yang harus dijaga.
  • Suami wajib memperlakukan istri dengan baik (mu’asyarah bil ma’ruf).
  • Pengkhianatan merupakan dosa.
  • Taubat wajib dilakukan dengan sungguh-sungguh.
  • Jika konflik terus berlangsung, Islam menganjurkan menghadirkan hakam (juru damai) dari kedua keluarga sebagaimana dijelaskan dalam QS. An-Nisa ayat 35.
  • Perceraian memang halal, tetapi merupakan jalan terakhir setelah berbagai upaya perbaikan dilakukan.

Apakah Benar “Sekali Selingkuh Pasti Akan Mengulang”?

Kalimat tersebut sering diucapkan masyarakat. Namun, tidak bisa dijadikan hukum mutlak.

Dalam Islam, setiap manusia memiliki kesempatan untuk bertaubat dengan taubat nasuha. Ada orang yang benar-benar berubah dan tidak mengulanginya lagi. Sebaliknya, ada pula yang terus mengulangi karena tidak sungguh-sungguh bertaubat.

Karena itu, keputusan mempertahankan atau mengakhiri rumah tangga sebaiknya didasarkan pada bukti perubahan, penyesalan yang nyata, serta komitmen memperbaiki diri, bukan hanya janji.

Suami yang berselingkuh tetapi menolak bercerai belum tentu masih mencintai istrinya. Alasan yang melatarbelakanginya bisa beragam, mulai dari egoisme, kenyamanan, anak, ekonomi, hingga menjaga citra.

Dalam pandangan Islam, perselingkuhan adalah dosa yang wajib ditinggalkan. Jalan terbaik adalah taubat yang sungguh-sungguh, memperbaiki hubungan, dan memenuhi hak pasangan. Namun, apabila pengkhianatan terus berulang serta menimbulkan kezaliman tanpa adanya perubahan nyata, Islam juga memberikan jalan keluar melalui penyelesaian keluarga, mediasi, hingga perceraian sebagai pilihan terakhir.

Yang terpenting, setiap keputusan hendaknya diambil dengan mempertimbangkan syariat, kemaslahatan keluarga, serta keselamatan agama dan martabat seluruh pihak.

 

***

Sumber: Queensha Jepara.

Penulis: Vico Rahman.