Queensha.id – Edukasi Sosial,
Fenomena pelakor (perebut laki orang) sering menjadi perbincangan di tengah masyarakat. Istilah ini biasanya digunakan untuk menggambarkan seseorang yang menjalin hubungan dengan laki-laki yang masih memiliki ikatan pernikahan dengan perempuan lain.
Namun, di balik persoalan tersebut, terdapat persoalan yang jauh lebih besar, yaitu tentang akhlak, tanggung jawab, kesetiaan, serta bagaimana Islam memandang kehormatan sebuah rumah tangga.
Dalam ajaran Islam, pernikahan bukan sekadar hubungan antara laki-laki dan perempuan, melainkan sebuah akad suci yang memiliki tanggung jawab besar di hadapan Allah SWT.
Oleh karena itu, setiap orang diperintahkan untuk menjaga batasan, menghormati hak orang lain, dan tidak menjadi penyebab rusaknya keluarga.
1. Pelakor dan Larangan Mengganggu Rumah Tangga Orang Lain
Dalam Islam, seseorang tidak dibenarkan dengan sengaja mendekati atau menggoda pasangan orang lain hingga menyebabkan keretakan rumah tangga.
Sebab, tindakan tersebut dapat masuk dalam kategori merusak hubungan yang telah halal dan mengganggu kehormatan keluarga orang lain.
Rasulullah SAW memberikan peringatan keras tentang seseorang yang berusaha merusak hubungan suami istri.
Dalam sebuah hadis disebutkan:
“Bukan termasuk golongan kami orang yang merusak hubungan seorang wanita dengan suaminya.”
(HR. Abu Dawud)
Hadis tersebut menunjukkan bahwa Islam sangat menjaga keutuhan keluarga. Sebab, kehancuran sebuah rumah tangga tidak hanya berdampak kepada suami dan istri, tetapi juga anak-anak serta lingkungan sosial.
2. Cinta Tidak Boleh Dibangun di Atas Pengkhianatan
Banyak hubungan terlarang sering dibungkus dengan alasan:
“Kami saling mencintai.”
Namun, dalam pandangan Islam, cinta bukan hanya tentang perasaan. Cinta juga harus disertai dengan ketaatan kepada Allah, kejujuran, dan cara yang benar.
Jika sebuah hubungan dimulai dengan kebohongan, menyakiti pasangan sah, dan menghancurkan keluarga, maka hubungan tersebut telah kehilangan nilai kemuliaannya.
Islam mengajarkan bahwa tujuan cinta dalam pernikahan adalah menghadirkan:
- ketenangan (sakinah),
- kasih sayang (mawaddah),
- dan rahmat (rahmah).
Sebagaimana firman Allah SWT:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri supaya kamu mendapatkan ketenangan hati kepadanya dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.”
(QS. Ar-Rum: 21)
Artinya, cinta yang baik adalah cinta yang membawa ketenangan, bukan cinta yang menghadirkan penderitaan bagi orang lain.
3. Menyalahkan Istri Sah Adalah Sikap yang Tidak Bijaksana
Dalam beberapa kasus perselingkuhan, muncul anggapan:
“Suaminya selingkuh karena istrinya tidak bisa menjaga diri.”
Pandangan seperti ini tidak sepenuhnya benar.
Sebab, setiap manusia memiliki tanggung jawab atas perbuatannya sendiri.
Dalam Islam, seorang suami tetap memiliki kewajiban menjaga pandangan, menjaga hati, dan menjaga kehormatan dirinya.
Allah SWT berfirman:
“Katakanlah kepada orang-orang yang beriman agar mereka menundukkan pandangannya dan menjaga kemaluannya.”
(QS. An-Nur: 30)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa laki-laki maupun perempuan memiliki kewajiban menjaga kehormatan diri.
Jika seorang suami memilih berkhianat, maka keputusan tersebut adalah tanggung jawab dirinya sendiri, bukan semata-mata kesalahan istrinya.
4. Istri yang Berjuang Sering Tidak Terlihat
Dalam kehidupan rumah tangga, banyak istri yang mengorbankan banyak hal.
Mereka mungkin tidak selalu tampil sempurna seperti ketika awal pernikahan.
Namun, mereka memiliki perjuangan yang tidak terlihat:
- mengandung dan melahirkan anak,
- mengurus rumah,
- mendampingi suami,
- mengatur kebutuhan keluarga,
- bertahan ketika kondisi ekonomi sulit.
Karena itu, membandingkan istri sah dengan orang ketiga hanya berdasarkan penampilan adalah tindakan yang tidak adil.
Islam mengajarkan agar manusia menghargai pasangan bukan hanya dari fisik, tetapi juga dari akhlak dan pengorbanannya.
5. Mengapa Hubungan dengan Suami Orang Sering Disebut Kebahagiaan Semu?
Sebagian orang mungkin merasa bahagia ketika berhasil mendapatkan seseorang yang sebelumnya menjadi pasangan orang lain.
Namun, perlu dipahami bahwa kebahagiaan yang dibangun dari penderitaan orang lain sering membawa banyak persoalan.
Secara sosial, hubungan tersebut dapat menghadirkan:
- hilangnya kepercayaan,
- konflik keluarga,
- luka bagi anak-anak,
- tekanan psikologis,
- pandangan negatif masyarakat.
Selain itu, dalam perspektif agama, seseorang perlu mempertanggungjawabkan setiap perbuatannya di hadapan Allah SWT.
Sebab, Allah mengetahui sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia.
6. Suami yang Berselingkuh Juga Memiliki Tanggung Jawab Besar
Persoalan perselingkuhan bukan hanya tentang pihak ketiga.
Seorang suami yang membuka pintu hubungan terlarang juga melakukan kesalahan karena telah mengabaikan amanah pernikahan.
Dalam Islam, suami memiliki tanggung jawab sebagai pemimpin keluarga (qawwam).
Allah SWT berfirman:
“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita…”
(QS. An-Nisa: 34)
Kepemimpinan tersebut bukan berarti berkuasa semaunya, tetapi berarti:
- melindungi keluarga,
- memberikan nafkah,
- menjaga kehormatan,
- berlaku adil,
- dan bertanggung jawab.
7. Jika Memang Tidak Bahagia, Islam Memberikan Jalan yang Benar
Islam tidak mengajarkan seseorang untuk bertahan dalam hubungan yang penuh kemudaratan tanpa solusi.
Jika sebuah rumah tangga mengalami masalah berat, Islam memberikan jalan yang terhormat:
- memperbaiki komunikasi,
- melakukan musyawarah,
- meminta bantuan keluarga atau pihak yang dipercaya,
- melakukan mediasi,
- jika tidak bisa dipertahankan, perceraian dapat ditempuh melalui cara yang baik.
Namun, selama masih terikat pernikahan yang sah, seseorang wajib menjaga batasan dan tidak mencari kebahagiaan dengan cara yang merugikan orang lain.
8. Perempuan Mulia Tidak Mengambil Hak Perempuan Lain
Dalam Islam, kemuliaan seorang perempuan tidak diukur dari kemampuannya mendapatkan seorang laki-laki, tetapi dari ketakwaan dan akhlaknya.
Perempuan yang memiliki rasa takut kepada Allah akan memahami bahwa kebahagiaan tidak perlu dibangun dengan mengambil hak orang lain.
Sebab, sesuatu yang diperoleh melalui jalan yang salah tidak akan memberikan ketenangan hati.
9. Bahagia Sejati Tidak Datang dari Pengkhianatan
Rumah tangga adalah amanah dari Allah SWT.
Karena itu, setiap orang harus menjaga dirinya agar tidak menjadi penyebab hancurnya keluarga orang lain.
Cinta yang benar tidak membutuhkan kebohongan.
Kasih sayang yang mulia tidak membutuhkan air mata orang lain.
Dan kebahagiaan sejati bukan tentang berhasil memiliki seseorang, tetapi tentang mendapatkan sesuatu dengan cara yang diridhai Allah SWT.
Sebab, sesuatu yang dimulai dengan pengkhianatan sering kali kehilangan keberkahan.
***
Sumber: Queensha Jepara.
Penulis: Vico Rahman.
- akhlak perempuan
- akhlak perempuan dalam Islam
- bahaya perselingkuhan
- dosa merusak rumah tangga orang lain
- edukasi pernikahan
- hukum merebut suami orang menurut Islam
- hukum perselingkuhan
- hukum perselingkuhan dalam Islam
- Islam dan rumah tangga
- istri sah dan pelakor
- keluarga sakinah
- menjaga rumah tangga dalam Islam
- pelakor
- pelakor dalam Islam
- pernikahan Islam
- Suami Istri
- suami wajib menjaga pernikahan

Tinggalkan Balasan