Queensha.id – Edukasi Sosial,
Perkembangan media sosial saat ini memberikan peluang besar bagi masyarakat untuk menjadi kreator konten. Melalui berbagai program monetisasi, termasuk dari platform seperti Facebook, pengguna akun dapat memperoleh penghasilan dari konten yang dibuat.
Namun, di balik peluang tersebut, muncul fenomena baru dalam dunia informasi digital. Sebagian konten kreator terkadang mengubah cara penyampaian informasi agar terlihat lebih menarik, bahkan tidak jarang membuat fakta yang sebenarnya sederhana menjadi lebih dramatis.
Fenomena ini sering disebut sebagai perubahan “info biru menjadi info merah”, yaitu ketika sebuah informasi yang awalnya bersifat biasa atau informatif kemudian dikemas menjadi informasi yang lebih heboh, emosional, dan mengundang perhatian publik.
Ketika Fakta Diubah Menjadi Sensasi
Salah satu contoh yang ramai diperbincangkan adalah kasus pembunuhan di Madiun, Jawa Timur.
Dalam informasi yang beredar, korban sebenarnya diduga meninggal dunia akibat tindakan kekerasan berupa cekikan. Setelah korban meninggal, pelaku kemudian melakukan tindakan lain untuk menghilangkan jejak, termasuk memutilasi dan menggiling jasad korban.
Akan tetapi, dalam beberapa penyampaian di media sosial, muncul narasi yang seolah-olah menyebut korban “dibunuh dengan cara digiling”.
Padahal, jika dilihat berdasarkan kronologi kejadian, proses penggilingan bukanlah penyebab utama kematian, melainkan tindakan setelah korban meninggal dunia.
Perbedaan penyampaian informasi tersebut menjadi contoh bagaimana sebuah fakta dapat berubah makna ketika dikemas dengan judul atau narasi yang lebih ekstrem.
Mengapa Konten Sensasional Lebih Mudah Viral?
Di era digital, perhatian publik menjadi sesuatu yang sangat berharga. Oleh karena itu, sebagian kreator konten berusaha membuat judul yang kuat agar pengguna media sosial tertarik untuk mengklik, membaca, dan membagikan informasi tersebut.
Selain itu, algoritma media sosial juga cenderung memberikan jangkauan lebih besar kepada konten yang mendapatkan banyak interaksi, seperti komentar, tanda suka, dan berbagi.
Akibatnya, informasi yang memiliki unsur mengejutkan, mengerikan, atau kontroversial sering kali lebih cepat menyebar dibandingkan informasi yang disampaikan secara biasa.
Namun demikian, cara tersebut dapat menimbulkan persoalan apabila mengorbankan akurasi dan kebenaran informasi.
Perbedaan Kreativitas Konten dan Memelintir Fakta
Menurut pengamat sosial asal Jepara, Purnomo Wardoyo, kreativitas dalam membuat konten merupakan hal yang positif selama tetap berada dalam batas etika dan tidak mengubah fakta.
“Konten yang menarik memang membutuhkan cara penyampaian yang kreatif. Akan tetapi, kreativitas tidak boleh menghilangkan nilai kebenaran sebuah informasi,” ujar Purnomo, Jum’at (30/10/2026).
Menurutnya, terdapat perbedaan antara mengemas informasi agar menarik dengan memelintir informasi agar menjadi sensasi.
Pertama, dalam penyampaian kreatif, seorang kreator tetap mempertahankan fakta utama. Judul dibuat menarik, tetapi isi berita tetap sesuai dengan kejadian sebenarnya.
Kedua, dalam informasi yang dipelintir, terdapat perubahan makna yang membuat publik memahami kejadian secara berbeda dari fakta awal.
“Jika sebuah informasi sengaja dibuat lebih menyeramkan atau lebih heboh agar mendapatkan keuntungan, maka masyarakat bisa menerima pemahaman yang keliru,” jelasnya.
Dampak Informasi yang Dipelintir
Lebih lanjut, Purnomo Wardoyo menjelaskan bahwa penyebaran informasi yang tidak sesuai fakta dapat memberikan beberapa dampak negatif.
Pertama, masyarakat bisa mendapatkan persepsi yang salah terhadap sebuah kejadian.
Kedua, keluarga korban atau pihak terkait dapat mengalami dampak psikologis akibat pemberitaan yang berlebihan.
Ketiga, kebiasaan mengutamakan viral dibandingkan kebenaran dapat menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap media dan informasi digital.
Oleh karena itu, menurutnya, masyarakat perlu memiliki kemampuan literasi digital agar tidak mudah percaya terhadap informasi yang hanya mengandalkan judul sensasional.
Pentingnya Etika Dalam Membuat Konten Digital
Pada akhirnya, menjadi kreator konten bukan hanya tentang bagaimana mendapatkan jumlah tayangan yang tinggi, tetapi juga bagaimana memberikan manfaat kepada masyarakat.
Konten yang baik adalah konten yang mampu menarik perhatian sekaligus memberikan informasi yang benar, edukatif, dan bertanggung jawab.
Sebab, di tengah derasnya arus informasi media sosial, kecepatan bukanlah satu-satunya ukuran keberhasilan. Akurasi, verifikasi, dan kejujuran tetap menjadi nilai utama dalam dunia informasi.
***
Sumber: Queensha Jepara.

Tinggalkan Balasan