Queensha.id – Jepara,
Polemik mengenai hiburan orkes dangdut di Kabupaten Jepara terus bergulir. Setelah sejumlah musisi yaitu Gus Lucky dan Fredy Vano sebagai pelaku seni menginisiasi rencana dialog terbuka, M. Abdullah Badri akhirnya angkat bicara untuk meluruskan berbagai anggapan yang berkembang di tengah masyarakat.
Menanggapi ajakan pertemuan dari sejumlah musisi orkes Jepara, Abdullah Badri mengaku tidak mempermasalahkan adanya ruang diskusi. Namun, ia menegaskan bahwa selama ini dirinya hanya menyampaikan syariat dasar terkait kemungkaran yang kerap terjadi dalam sejumlah penyelenggaraan orkes.
“Aku hanya ngomong syariat dasar, lha kok sik do kocyar kacir ngono. Haha,” ujar Abdullah Badri, Senin (29/6/2026).
Soroti Peredaran Miras di Lokasi Orkes
Saat ditanya mengenai akar persoalan yang menurutnya perlu menjadi perhatian, Abdullah Badri menyoroti masih adanya peredaran minuman keras di sejumlah kegiatan hiburan rakyat.
Ia mengungkapkan, dalam waktu dekat berencana mengirimkan surat kepada Satpol PP dan Polres Jepara agar melakukan razia minuman keras setiap kali terdapat penyelenggaraan orkes.
“Nah, itu belum saya lakukan. Waktu dekat, saya surat Satpol PP dan Polres. Minta razia miras tiap ada orkesan.”
Menurutnya, fokus utama yang disampaikan bukanlah penolakan terhadap seni musik maupun hiburan rakyat, melainkan terhadap praktik-praktik yang dinilai melanggar norma agama dan ketertiban umum.
“Saya tidak menolak orkes mutlak. Tapi, jangan ada miras. Marai gendeng tenan. Maka dari itulah, wallahu a’lam,” katanya.
Bantah Menyerang Musisi
Abdullah Badri juga membantah tudingan yang menyebut dirinya menyerang para musisi orkes. Ia menegaskan kritik yang disampaikannya selama ini ditujukan kepada penyelenggara kegiatan, pihak yang memberikan perizinan, serta berbagai perilaku yang dianggap tidak sesuai dengan norma ketika penyelenggaraan orkes berlangsung.
“Aku gak pernah nyerang musisi manapun sesuai tuduhan mereka. Tapi aku kritik mereka merasa terdampak. Yang aku kritik justru penyelenggara, pengijin, dan kelakuan amoral ojing tiap orkesan,” jelasnya.
Diharapkan Jadi Awal Dialog yang Sehat
Pernyataan Abdullah Badri menjadi babak baru dalam polemik orkes dangdut di Jepara. Sebelumnya, sejumlah musisi senior dan pelaku seni mengusulkan pertemuan secara langsung sebagai forum tabayun atau klarifikasi agar seluruh pihak dapat menyampaikan pandangan masing-masing dalam suasana yang kondusif.
Dialog tersebut diharapkan mampu menghadirkan solusi yang bijaksana, sehingga hiburan rakyat tetap dapat berlangsung dengan mengedepankan ketertiban, bebas dari minuman keras, serta menghormati nilai-nilai agama dan norma sosial yang berlaku di Kabupaten Jepara.
***
Sumber: Abdallah Badri.
Penulis: Vico Rahman.

Tinggalkan Balasan