Queensha.id – Opini Publik,
Sebuah tulisan opini berjudul “Aku Malu Jadi Penduduk Indonesia” yang ditulis Guru Besar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sutawi, menjadi perhatian publik. Artikel yang dimuat Kompas.com pada Jumat (10/7/2026) tersebut mengajak masyarakat merenungkan kondisi bangsa di tengah maraknya pemberitaan mengenai dugaan korupsi dan menurunnya kepercayaan publik terhadap institusi negara.
Dalam tulisannya, Sutawi menegaskan bahwa rasa malunya bukan karena Indonesia masih menghadapi kemiskinan, pengangguran, maupun belum menjadi negara maju. Menurutnya, yang paling memprihatinkan adalah ketika masyarakat hampir setiap hari disuguhi pemberitaan mengenai dugaan korupsi, penyalahgunaan kewenangan, dan krisis integritas yang melibatkan berbagai lembaga negara.
Ia menilai Indonesia sejatinya merupakan bangsa yang kaya sumber daya alam, memiliki bonus demografi, serta masyarakat yang religius dan ramah. Namun, seluruh potensi tersebut akan sulit membawa bangsa maju apabila integritas para penyelenggara negara terus dipertanyakan.
Dugaan Korupsi Program MBG Jadi Sorotan
Dalam kolom tersebut, Sutawi juga menyinggung perhatian publik terhadap dugaan penyimpangan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG), sebuah program yang dirancang pemerintah untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia.
Menurutnya, program yang seharusnya menjadi investasi bagi masa depan generasi bangsa justru dibayangi dugaan korupsi. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa seluruh pihak yang telah ditetapkan sebagai tersangka tetap memiliki hak atas asas praduga tak bersalah hingga terdapat putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap.
Sutawi menilai persoalan yang paling melukai masyarakat bukan hanya besarnya potensi kerugian negara, tetapi karena dugaan penyimpangan tersebut menyentuh program yang diperuntukkan bagi pemenuhan gizi anak-anak Indonesia.
Kepercayaan Publik Lebih Berharga dari Uang
Dalam pandangannya, kerugian terbesar akibat korupsi bukan hanya hilangnya uang negara, melainkan runtuhnya kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara.
Ia menyebut uang negara masih dapat dipulihkan melalui berbagai kebijakan ekonomi, sedangkan kepercayaan publik membutuhkan waktu panjang untuk dibangun, namun bisa runtuh hanya dalam waktu singkat.
Karena itu, menurutnya, seluruh institusi penegak hukum harus bekerja secara profesional, transparan, saling menghormati kewenangan, dan menjunjung tinggi supremasi hukum.
Indonesia Tidak Kekurangan Orang Baik
Meski menyampaikan kritik keras, Sutawi menegaskan dirinya tetap optimistis terhadap masa depan Indonesia.
Ia mengaku masih mengenal banyak aparat penegak hukum, guru, dosen, tenaga kesehatan, aparatur sipil negara, hingga prajurit yang bekerja dengan penuh integritas dan pengabdian.
Menurutnya, justru karena masih banyak orang baik, setiap dugaan pelanggaran harus diproses secara terbuka dan adil tanpa pandang bulu demi menjaga marwah institusi.
Rasa Malu Harus Menjadi Alarm Moral
Di bagian penutup tulisannya, Sutawi berharap rasa malu tidak berubah menjadi keputusasaan.
Sebaliknya, ia mengajak seluruh elemen bangsa menjadikan rasa malu sebagai alarm moral untuk memperbaiki tata kelola pemerintahan, memperkuat integritas, serta menghadirkan keteladanan di ruang publik.
Ia berharap suatu hari nanti dapat menulis judul yang berbeda, yakni “Bangga Aku Jadi Penduduk Indonesia”, ketika hukum benar-benar ditegakkan secara adil, integritas menjadi budaya, dan kepercayaan masyarakat kembali pulih.
Menurutnya, Indonesia tidak kekurangan sumber daya alam, orang pintar, orang saleh, maupun peraturan perundang-undangan. Yang paling langka saat ini adalah keteladanan, padahal keteladanan merupakan fondasi utama dalam membangun bangsa yang maju dan dipercaya rakyat.
***
Kompas.
(Redaksi/Queensha.id)

Tinggalkan Balasan