Queensha.id – Edukasi Sosial,
Menghadapi anak yang sering membangkang, tantrum, mudah marah, hingga sulit mengikuti arahan memang menjadi tantangan besar bagi banyak orang tua. Tidak sedikit ayah dan ibu yang merasa kewalahan ketika anak mulai berteriak, menangis berlebihan, bahkan melawan saat dinasihati.
Namun para ahli mengingatkan, perilaku anak yang susah diatur tidak selalu muncul karena kenakalan semata. Dalam banyak kasus, kondisi tersebut justru dipengaruhi faktor emosional, psikologis, pola asuh, hingga lingkungan keluarga yang kurang disadari.
Anak-anak yang masih berada dalam tahap perkembangan umumnya belum mampu mengungkapkan apa yang mereka rasakan dengan baik. Akibatnya, emosi yang terpendam sering muncul dalam bentuk tantrum, agresif, atau perilaku membangkang.
Karena itu, penting bagi orang tua memahami akar masalah sebelum memberikan hukuman atau label negatif kepada anak.
1. Anak Belum Mampu Mengatur Emosi
Salah satu penyebab paling umum anak susah diatur adalah ketidakmampuan mengontrol emosi.
Anak kecil belum memiliki kemampuan matang untuk mengelola rasa kecewa, marah, sedih, atau frustrasi. Saat keinginannya tidak terpenuhi, mereka bisa menangis histeris, berteriak, melempar barang, hingga menolak mendengarkan orang tua.
Perilaku tersebut sebenarnya adalah bentuk luapan emosi yang belum mampu mereka kendalikan sendiri.
Orang tua dianjurkan membantu anak mengenali emosinya secara perlahan, bukan justru membentak atau mempermalukan mereka.
2. Gangguan Kecemasan Bisa Membuat Anak Memberontak
Banyak orang mengira anak yang mengalami kecemasan hanya terlihat pendiam atau pemalu. Padahal kenyataannya, anxiety atau gangguan kecemasan juga bisa membuat anak menjadi mudah marah dan sulit diatur.
Anak yang merasa tertekan sering meluapkan ketakutannya lewat tantrum atau perilaku agresif.
Contohnya, anak yang mengalami tekanan di sekolah bisa tiba-tiba menolak berangkat, membanting barang, atau mudah tersinggung di rumah.
Perilaku tersebut sering dianggap kenakalan, padahal sebenarnya anak sedang merasa tidak aman.
3. Kurang Mendapat Perhatian Positif
Sebagian anak melakukan perilaku negatif hanya untuk mencari perhatian orang tua.
Bahkan dimarahi pun terkadang dianggap lebih baik daripada diabaikan.
Jika anak hanya diperhatikan ketika berbuat salah, mereka akan belajar bahwa perilaku buruk adalah cara paling efektif mendapatkan respons.
Karena itu, psikolog anak menyarankan orang tua lebih sering memberikan pujian dan perhatian saat anak menunjukkan perilaku positif.
4. Perubahan Besar dalam Hidup Anak
Perubahan dalam kehidupan anak juga dapat memengaruhi emosi dan perilaku mereka.
Situasi seperti pindah rumah, masuk sekolah baru, kelahiran adik, perceraian orang tua, atau pergantian pengasuh sering membuat anak merasa tidak nyaman.
Karena belum mampu memahami perubahan tersebut dengan baik, anak bisa menjadi lebih sensitif, mudah marah, hingga sulit mengikuti aturan.
Pendampingan dan rasa aman dari orang tua sangat dibutuhkan agar anak mampu beradaptasi secara sehat.
5. Trauma dan Pengalaman Buruk
Trauma masa kecil juga menjadi salah satu penyebab anak sulit diatur.
Anak yang pernah mengalami kekerasan, penelantaran, atau hidup dalam lingkungan keluarga yang penuh konflik biasanya lebih sulit mengendalikan emosi.
Mereka cenderung mudah marah, defensif, agresif, dan sulit percaya kepada orang lain.
Tanpa pendampingan yang tepat, kondisi tersebut dapat memengaruhi perkembangan emosional anak hingga dewasa.
6. Pola Asuh yang Kurang Tepat
Pola asuh memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan perilaku anak.
Tanpa disadari, banyak orang tua justru lebih fokus pada kesalahan anak dibandingkan perilaku baik mereka.
Akibatnya, anak belajar bahwa perilaku negatif lebih efektif untuk mendapatkan perhatian.
Selain itu, aturan yang berubah-ubah dan disiplin yang tidak konsisten juga membuat anak bingung menentukan batas perilaku yang benar.
Para ahli menyarankan orang tua tetap tegas namun tenang dalam mendidik anak, serta memberikan konsekuensi yang mendidik tanpa kekerasan.
7. Lingkungan Keluarga yang Tidak Stabil
Lingkungan rumah sangat memengaruhi kondisi psikologis anak.
Konflik keluarga, pertengkaran orang tua, suasana rumah yang penuh tekanan, hingga komunikasi yang buruk dapat membuat anak menjadi lebih emosional.
Anak juga cenderung meniru cara orang dewasa menghadapi masalah.
Jika mereka terbiasa melihat kemarahan, bentakan, atau kekerasan, anak bisa menganggap perilaku tersebut sebagai hal yang normal.
Karena itu, menciptakan rumah yang aman, hangat, dan penuh perhatian menjadi salah satu kunci penting dalam membentuk perilaku anak yang sehat.
Orang Tua Diminta Lebih Empati
Psikolog mengingatkan bahwa menghadapi anak yang susah diatur membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan empati.
Alih-alih langsung menghukum, orang tua sebaiknya mencoba memahami apa yang sebenarnya sedang dirasakan anak.
Dengan pendekatan yang tepat, anak akan lebih mudah belajar mengontrol emosi, memahami aturan, dan tumbuh menjadi pribadi yang sehat secara mental maupun emosional.
***
Queensha Jepara, Senin (18 Mei 2026).

Tinggalkan Balasan