Queensha.id – Edukasi Sosial,
Dalam bahasa Inggris, nasi dikenal dengan sebutan rice. Sementara dalam bahasa Jawa, nasi lebih akrab disebut sego. Meski terdengar sederhana, ternyata kata sego memiliki makna yang luas karena berkaitan dengan perjalanan panjang sebutir padi hingga akhirnya menjadi makanan pokok masyarakat Indonesia.
Bagi masyarakat Jawa, setiap perubahan bentuk pada padi hingga nasi memiliki nama tersendiri. Hal ini menunjukkan betapa kayanya kosakata bahasa Jawa yang lahir dari kehidupan agraris sejak zaman dahulu.
Perjalanan Sego dari Sawah hingga Meja Makan
Perjalanan nasi tidak berhenti ketika dipanen. Dalam tradisi masyarakat Jawa, setiap tahap memiliki istilah yang berbeda.
1. Padi
Segalanya berawal dari padi yang ditanam para petani di sawah. Setelah menguning dan dipanen, padi menjadi sumber utama bahan pangan masyarakat.
2. Beras
Padi kemudian digiling sehingga kulitnya terlepas dan menghasilkan beras, yaitu bahan utama yang siap dimasak menjadi nasi.
3. Menir
Saat proses penggilingan, tidak semua butiran beras utuh. Beras yang pecah menjadi potongan-potongan kecil disebut menir. Meski ukurannya lebih kecil, menir tetap dapat dimasak dan dikonsumsi.
4. Bubur
Apabila beras dimasak dengan air yang lebih banyak, hasilnya bukan lagi nasi melainkan bubur. Makanan ini sering disajikan untuk anak-anak, orang sakit, maupun sebagai menu sarapan.
5. Sego (Nasi)
Ketika beras dimasak dengan takaran air yang pas, jadilah sego atau nasi, makanan pokok yang hampir selalu hadir di meja makan masyarakat Indonesia.
6. Intep
Jika nasi dibiarkan hingga mengering atau mengeras, masyarakat Jawa mengenalnya dengan istilah intep. Dahulu, intep sering dimanfaatkan kembali dengan cara dikukus atau diolah menjadi makanan lain agar tidak terbuang sia-sia.
7. Upo
Ada istilah unik lainnya, yaitu upo. Sebutan ini merujuk pada butiran nasi yang tercecer atau jatuh saat dimakan. Dalam budaya Jawa, anak-anak sejak kecil diajarkan agar tidak menyia-nyiakan upo karena nasi merupakan hasil kerja keras para petani.
Filosofi Sego
Bagi masyarakat Jawa, sego bukan sekadar makanan pokok. Di balik setiap butir nasi terdapat proses panjang, mulai dari petani menanam padi, merawat tanaman selama berbulan-bulan, memanen, menggiling menjadi beras, hingga akhirnya tersaji di meja makan.
Karena itu, masyarakat Jawa sejak dahulu diajarkan untuk menghargai makanan dan tidak membuang nasi secara sembarangan.
Guyonan Mbah Prawiro
Mbah Prawiro, seorang sesepuh asal Semarang, menyampaikan guyonan yang sarat makna.
“Bahasa Inggrisnya nasi itu rice, tapi wong Jawa bilangnya sego. Lucunya, sego itu punya banyak saudara. Sebelum jadi sego namanya padi, digiling jadi beras, pecah jadi menir, kebanyakan air jadi bubur, dibiarkan kering jadi intep, jatuh dari piring jadi upo. Jadi jangan remehkan sego, perjalanan hidupnya saja panjang,” ujarnya sambil tertawa.
Menurut Mbah Prawiro, guyonan tersebut mengajarkan bahwa setiap proses kehidupan memiliki nilai. Seperti nasi yang mengalami banyak tahapan sebelum akhirnya dinikmati, manusia pun perlu menghargai setiap proses dalam meraih kesuksesan.
Edukasi untuk Generasi Muda
Di era modern, banyak istilah tradisional Jawa mulai jarang dikenal oleh generasi muda. Padahal, kosakata seperti menir, intep, maupun upo merupakan bagian dari kekayaan bahasa dan budaya yang patut dilestarikan.
Melalui pengenalan istilah-istilah tersebut, masyarakat diharapkan semakin menghargai hasil pertanian, mencintai budaya lokal, serta tidak menyia-nyiakan makanan yang telah melalui proses panjang sebelum sampai ke meja makan.
Pepatah Jawa pun mengingatkan: “Ajining pangan ana ing pangurmatan” artinya menghargai makanan adalah salah satu bentuk rasa syukur atas rezeki yang diberikan Tuhan.
***
Sumber: Queensha Jepara.
Penulis: Vico Rahman.

Tinggalkan Balasan