Queensha.id – Jepara,
Sebanyak 1.130 hektare lahan persawahan di Kabupaten Jepara berada dalam kondisi terancam gagal panen akibat kebocoran karet Bendungan Bongpes di Desa Gerdu, Kecamatan Pecangaan, Jepara. Kerusakan tersebut menyebabkan air laut masuk ke saluran irigasi dan menggenangi lahan pertanian dengan air asin.
Kondisi ini menjadi perhatian serius karena mayoritas sawah yang bergantung pada aliran Sungai SWD II kini mengalami penurunan kualitas air irigasi. Tanaman padi yang semestinya memperoleh air tawar justru terpapar air asin yang dapat menghambat pertumbuhan hingga menyebabkan tanaman mengering dan mati.
Air Asin Ancam 13 Desa di Empat Kecamatan
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Jepara, Mudhofir, mengatakan lahan yang terdampak tersebar di 13 desa yang berada di empat kecamatan, termasuk Kecamatan Pecangaan dan Kalinyamatan.
Menurutnya, apabila intrusi air laut tidak segera dihentikan, potensi kerugian petani akan semakin besar karena tanaman padi memasuki fase penting menjelang panen.
“Lahan sawah yang terancam gagal panen akibat kemasukan air asin tersebar di 13 desa yang mencakup empat kecamatan,” ujar Mudhofir.
Penanganan Darurat Dilakukan
Sebagai langkah cepat, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana bersama Pemerintah Kabupaten Jepara dan masyarakat melakukan penanggulangan darurat di titik kebocoran.
Ribuan karung berisi pasir dan tanah dipasang untuk menahan masuknya air laut ke saluran irigasi. Upaya tersebut diharapkan mampu menyelamatkan ribuan hektare sawah yang masih dapat dipertahankan hingga musim panen berakhir.
“Target utama kami adalah menyelamatkan 1.130 hektare lahan sawah masyarakat agar sisa musim tanam ini tetap bisa dipanen,” kata Mudhofir.
Petani Khawatir Hasil Panen Turun Drastis
Dampak kebocoran bendungan sudah mulai dirasakan para petani. Supadi (70), petani asal Desa Batukali, Kecamatan Kalinyamatan, mengaku tanaman padinya mulai menguning setelah dialiri air asin.
Padahal, tanaman tersebut baru berusia sekitar 60 hari dan masih membutuhkan beberapa kali pengairan menggunakan air tawar sebelum memasuki masa panen.
“Kalau tidak segera dibendung total, air asin akan terus masuk ke sawah warga,” ujar Supadi.
Ia memperkirakan hasil panennya bisa turun drastis, bahkan hanya mencapai sekitar 30 persen dari hasil normal apabila kondisi tersebut terus berlanjut.
Perbaikan Permanen Direncanakan 2027
Untuk solusi jangka panjang, Pemerintah Kabupaten Jepara telah berkoordinasi dengan pemerintah provinsi dan pemerintah pusat terkait rencana rehabilitasi Bendungan Bongpes.
Karena membutuhkan anggaran yang besar, perbaikan permanen terhadap fasilitas bendungan tersebut direncanakan masuk dalam program pembangunan pada 2027 hingga 2028.
Sementara menunggu pelaksanaan proyek tersebut, perlindungan lahan pertanian masih mengandalkan tanggul darurat yang dibangun di lokasi kebocoran.
Ancaman terhadap Ketahanan Pangan
Kebocoran Bendungan Bongpes tidak hanya berdampak pada petani, tetapi juga berpotensi memengaruhi ketahanan pangan daerah apabila gagal panen terjadi dalam skala luas.
Karena itu, pemerintah bersama masyarakat terus berupaya mempercepat penanganan darurat agar intrusi air laut dapat dihentikan dan sistem irigasi kembali berfungsi secara normal.
Dengan perbaikan yang tepat dan dukungan seluruh pihak, diharapkan ribuan hektare lahan pertanian di Jepara dapat terselamatkan sehingga para petani tetap memperoleh hasil panen yang optimal pada musim tanam tahun ini.
***
Sumber: Tj.
Penulis: Vico Rahman.

Tinggalkan Balasan