Queensha.id – Bantul, DIY,
Jika biasanya pesawat digunakan untuk mengantarkan penumpang menuju berbagai kota dan negara, pemandangan berbeda justru terjadi di Sekolah Tinggi Teknik Kedirgantaraan (STTKD) Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin (8/6/2026).
Deretan pesawat Boeing, Cessna, dan Hercules yang selama ini menjadi sarana pendidikan kedirgantaraan mendadak berubah fungsi menjadi tempat paling sakral bagi puluhan pasangan yang hendak memulai kehidupan baru.
Sebanyak 20 pasangan resmi mengikat janji suci pernikahan melalui program “Nikah Bareng Ning Montor Mabur”, atau yang dalam Bahasa Indonesia berarti Nikah Bareng di Pesawat Terbang.
Suasana yang biasanya dipenuhi aktivitas pembelajaran dunia penerbangan berubah menjadi momen haru penuh kebahagiaan ketika para mempelai mengucapkan ijab kabul di dalam kabin pesawat.
Sensasi Menikah Ribuan Meter di Atas Langit, Meski Pesawat Tidak Mengudara
Meski pesawat tidak benar-benar terbang, suasana yang dirasakan para pasangan tetap memberikan pengalaman yang sulit dilupakan.
Kabin Boeing yang biasanya dipenuhi kursi penumpang berubah menjadi ruang akad nikah.
Pesawat Hercules yang identik dengan operasi militer dan logistik kini menjadi saksi lahirnya keluarga baru.
Sementara pesawat Cessna yang terkenal sebagai pesawat latih turut menghadirkan nuansa berbeda dalam prosesi sakral tersebut.
Konsep unik ini sukses menarik perhatian masyarakat karena menghadirkan pengalaman akad nikah yang jauh dari kesan biasa.
Banyak peserta mengaku tidak pernah membayangkan dapat mengucapkan janji sehidup semati di dalam pesawat yang selama ini hanya mereka lihat dari kejauhan.
Kolaborasi Sosial yang Menginspirasi
Program Nikah Bareng merupakan agenda tahunan hasil kolaborasi antara Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) DIY dan Forum Ta’aruf Indonesia (Fortais).
Pada tahun 2026, Yayasan Citra Dirgantara dan STTKD Bantul turut mendukung kegiatan tersebut dengan menyediakan lokasi yang unik dan edukatif.
Prosesi akad dipandu langsung oleh para penghulu dari Kantor Urusan Agama (KUA) Kapanewon Sewon, Bantul.
Kehadiran berbagai pihak menunjukkan bahwa pernikahan bukan hanya urusan dua insan, tetapi juga bagian dari upaya membangun ketahanan sosial dan keluarga di tengah masyarakat.
Pernikahan Bukan Sekadar Seremonial
Pelaksana Tugas Kepala Bidang Urusan Agama Islam Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY, Nurhuda, menegaskan bahwa keluarga merupakan fondasi utama dalam pembangunan bangsa.
Menurutnya, keluarga adalah madrasatul ula, atau sekolah pertama bagi anak-anak sebelum mengenal dunia luar.
Dari keluargalah lahir generasi masa depan yang akan menentukan arah bangsa.
Karena itu, pasangan yang baru menikah tidak cukup hanya memiliki rasa cinta, tetapi juga perlu membekali diri dengan ilmu agama, komunikasi yang baik, kesabaran, tanggung jawab, dan pemahaman tentang kehidupan rumah tangga.
“Keluarga adalah institusi terkecil dalam masyarakat, namun memiliki peran yang sangat besar. Maju dan mundurnya suatu bangsa dimulai dari ketahanan keluarganya,” ujarnya.
Pentingnya Legalitas Pernikahan
Selain menyoroti pentingnya membangun keluarga yang harmonis, Nurhuda juga mengingatkan bahwa setiap pernikahan harus dicatat secara resmi sesuai aturan yang berlaku.
Pencatatan nikah memberikan kepastian hukum bagi suami, istri, maupun anak-anak yang lahir dari pernikahan tersebut.
Legalitas pernikahan juga menjadi bentuk perlindungan negara terhadap hak-hak keluarga sehingga seluruh anggota keluarga memiliki kedudukan hukum yang jelas.
Ketika Pesawat Menjadi Simbol Perjalanan Baru
Ada filosofi menarik di balik pelaksanaan akad nikah di dalam pesawat.
Pesawat merupakan alat transportasi yang membawa seseorang menuju tujuan baru.
Begitu pula pernikahan.
Akad nikah bukanlah garis akhir dari sebuah perjalanan cinta, melainkan awal perjalanan panjang yang penuh tantangan, pengorbanan, dan kebahagiaan.
Setiap rumah tangga akan menghadapi cuaca kehidupan yang berbeda-beda.
Kadang cerah, kadang berawan, bahkan sesekali menghadapi turbulensi.
Namun selama pasangan mampu saling percaya, menjaga komunikasi, dan berpegang pada nilai agama, perjalanan rumah tangga akan tetap berada pada jalur yang benar.
Program “Nikah Bareng Ning Montor Mabur” tahun 2026 pun bukan hanya menghadirkan momen unik dan berkesan, tetapi juga mengingatkan bahwa membangun keluarga yang kokoh adalah investasi terbesar untuk masa depan bangsa.
Dan pada hari itu, di dalam kabin Boeing, Cessna, dan Hercules yang biasanya menjadi simbol dunia penerbangan, puluhan pasangan memulai penerbangan terpenting dalam hidup mereka: penerbangan menuju kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah.
***
Queensha Jepara (Selasa, 9 Juni 2026)

Tinggalkan Balasan