Queensha.id – Edukasi Sosial,
Perselingkuhan merupakan salah satu penyebab terbesar retaknya rumah tangga. Namun, banyak pakar hubungan menilai bahwa perselingkuhan umumnya tidak terjadi secara tiba-tiba. Kebiasaan kecil yang dibiarkan, batas yang mulai longgar, hingga komunikasi yang memburuk dapat menjadi pintu masuk munculnya orang ketiga.
Meski tidak semua orang yang memiliki karakter tertentu pasti akan berselingkuh, mengenali ciri-ciri yang berpotensi meningkatkan risiko perselingkuhan dapat menjadi bahan introspeksi bagi pasangan. Berikut penjelasan mengenai 10 ciri suami yang dinilai lebih rentan melakukan perselingkuhan.
1. Butuh Validasi Berlebihan
Suami dengan karakter ini selalu ingin mendapatkan pengakuan dan pujian dari orang lain. Ketika merasa kurang dihargai, ia mudah merasa tersanjung jika ada perempuan lain yang memberikan perhatian.
Validasi dari luar membuatnya merasa lebih percaya diri. Jika tidak mampu mengendalikan diri, perhatian kecil dari lawan jenis dapat berkembang menjadi hubungan emosional yang lebih dalam. Oleh karena itu, rasa percaya diri sebaiknya dibangun dari dalam diri, bukan bergantung pada penilaian orang lain.
2. Memiliki Batas yang Longgar dengan Lawan Jenis
Menganggap chat hingga larut malam, saling mengirim emoji romantis, curhat persoalan rumah tangga, atau bercanda secara berlebihan dengan perempuan lain sebagai sesuatu yang biasa merupakan tanda kurangnya batas dalam hubungan.
Padahal, hubungan yang sehat memerlukan batas yang jelas agar tidak menimbulkan kesalahpahaman maupun membuka peluang munculnya kedekatan emosional di luar pernikahan.
3. Tidak Tahan Menghadapi Kesepian Emosional
Dalam setiap rumah tangga pasti ada masa ketika pasangan merasa kurang diperhatikan. Namun, suami yang tidak mampu mengelola rasa sepi emosional cenderung mencari pelarian kepada orang lain dibanding menyelesaikan masalah bersama istri.
Padahal, komunikasi terbuka menjadi solusi utama agar setiap persoalan dapat diselesaikan tanpa melibatkan pihak ketiga.
4. Pandai Menyembunyikan Kebiasaan
Ciri lainnya adalah memiliki kehidupan yang berbeda antara di rumah dan di luar rumah. Ia tampak biasa di depan keluarga, tetapi diam-diam menyembunyikan aktivitas tertentu, termasuk komunikasi dengan perempuan lain.
Kebiasaan menghapus riwayat percakapan, merahasiakan kata sandi tanpa alasan jelas, atau selalu menutupi penggunaan ponsel bisa menjadi sinyal bahwa transparansi dalam hubungan mulai berkurang. Namun, hal-hal tersebut tidak otomatis berarti seseorang berselingkuh dan tetap perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas.
5. Ego Tinggi, Empati Rendah
Suami dengan ego tinggi cenderung lebih sibuk membela dirinya daripada memahami perasaan pasangan. Ketika istri merasa kecewa atau terluka, ia justru mencari alasan pembenaran.
Kurangnya empati membuat konflik rumah tangga semakin sulit diselesaikan karena salah satu pihak merasa tidak pernah didengar.
6. Enggan Membangun Komunikasi Sehat
Komunikasi merupakan fondasi utama dalam rumah tangga. Suami yang menghindari diskusi mendalam dengan istri tetapi justru lebih terbuka kepada perempuan lain berisiko membangun kedekatan emosional di luar hubungan pernikahan.
Hubungan emosional sering kali menjadi awal sebelum terjadinya perselingkuhan secara fisik.
7. Mudah Bosan dan Sulit Setia pada Proses
Pernikahan bukan hanya tentang kebahagiaan sesaat, tetapi juga proses panjang yang membutuhkan komitmen.
Seseorang yang mudah bosan cenderung mencari sensasi baru tanpa berusaha memperbaiki hubungan yang sudah ada. Ia lebih tertarik pada hal-hal baru dibanding merawat cinta yang telah dibangun bersama pasangan.
8. Selalu Merasa Paling Tidak Dimengerti
Suami dengan karakter ini sering menganggap dirinya sebagai korban yang tidak pernah dipahami oleh istri.
Padahal, dalam banyak kasus, persoalan muncul bukan karena pasangan tidak mau mengerti, melainkan karena dirinya sendiri kurang mau mendengar, berdialog, dan memahami sudut pandang pasangan.
9. Tidak Bertanggung Jawab pada Luka Kecil
Perselingkuhan sering diawali dari hal-hal yang dianggap sepele. Ketika istri kecewa, sedih, atau merasa diabaikan, ia menganggap semuanya akan hilang dengan sendirinya.
Padahal, luka kecil yang terus diabaikan akan menumpuk menjadi jurang besar dalam hubungan rumah tangga. Kepedulian terhadap perasaan pasangan menjadi salah satu bentuk tanggung jawab dalam menjaga keutuhan keluarga.
10. Merasa Berhak Bahagia dengan Caranya Sendiri
Karakter terakhir adalah merasa kebahagiaan pribadi menjadi alasan untuk melakukan apa pun, termasuk tindakan yang melukai pasangan dan anak-anak.
Pola pikir seperti ini membuat seseorang mengutamakan kepentingan pribadi dibanding komitmen yang telah diikrarkan dalam pernikahan. Padahal, kebahagiaan sejati dalam rumah tangga dibangun melalui tanggung jawab, kejujuran, saling menghormati, dan kesetiaan.
Pandangan Pengamat Sosial Jepara Purnomo Wardoyo
Pengamat sosial asal Jepara, Purnomo Wardoyo, menilai bahwa perselingkuhan bukan hanya persoalan moral individu, tetapi juga berkaitan dengan lemahnya kemampuan mengelola komunikasi, komitmen, dan pengendalian diri.
Menurutnya, kemajuan teknologi membuat interaksi dengan lawan jenis semakin mudah. Tanpa batas yang jelas, hubungan yang awalnya hanya sebatas pertemanan dapat berkembang menjadi kedekatan emosional hingga berujung perselingkuhan.
“Pernikahan membutuhkan kesadaran bahwa kesetiaan bukan sekadar janji saat akad atau pemberkatan, tetapi keputusan yang harus dijaga setiap hari. Perselingkuhan biasanya diawali dari kebiasaan kecil yang dibiarkan, bukan langsung dari niat besar,” ujar Purnomo Wardoyo, Jum’at (28/8/2026).
Ia juga mengingatkan bahwa keluarga merupakan fondasi utama masyarakat. Ketika hubungan suami istri dipenuhi keterbukaan, saling menghargai, dan komunikasi yang sehat, risiko munculnya konflik maupun perselingkuhan dapat diminimalkan.
Tidak semua suami yang memiliki salah satu dari ciri-ciri di atas pasti akan berselingkuh. Namun, karakter-karakter tersebut dapat menjadi bahan evaluasi bagi setiap pasangan agar lebih menjaga komunikasi, membangun kepercayaan, serta memperkuat komitmen dalam rumah tangga.
Perselingkuhan jarang dimulai dari langkah besar. Ia sering tumbuh dari batas yang mulai longgar, perhatian yang dialihkan kepada orang lain, dan kesetiaan yang perlahan tidak lagi dijaga. Karena itu, menjaga hubungan setiap hari merupakan investasi terbaik demi keutuhan keluarga.
***
Sumber: Queensha Jepara.
Penulis: Vico Rahman.

Tinggalkan Balasan