Queensha.id – Mojokerto,
Aksi kekerasan di jalan raya kembali memantik perhatian publik. Seorang wanita bernama Inge Marita (28) menjadi sorotan setelah videonya viral di media sosial, memperlihatkan dirinya memaki-maki dan melakukan kekerasan terhadap pengendara motor wanita, Lutvia Indriana (33), bahkan hingga menyakiti anak korban yang masih duduk di bangku sekolah dasar.
Peristiwa tersebut terjadi di Simpang 4 Sekarsari, Jalan Empunala, Kota Mojokerto, pada Selasa (14/4/2026) sekitar pukul 14.30 WIB.
Dipicu Insiden Lalu Lintas
Berdasarkan keterangan yang disampaikan Inge kepada pihak berwenang, insiden bermula saat dirinya mengemudi dari arah Jalan Gajah Mada dan hendak berbelok ke kanan. Di saat bersamaan, sepeda motor Yamaha NMax yang dikendarai Lutvia masuk di antara mobilnya dan kendaraan di depan.
Situasi tersebut memaksanya melakukan pengereman mendadak untuk menghindari tabrakan. Namun, alih-alih meredam situasi, kejadian itu justru memicu emosi yang berujung tindakan agresif.
“Iya saya khilaf, spontan karena tersulut emosi. Posisi saya sama anak di dalam mobil, saya khawatir terjadi sesuatu,” ujar Inge.
Tak Ada Benturan, Emosi Tetap Meledak
Meski mengaku khawatir terhadap keselamatan anaknya, fakta di lapangan menunjukkan tidak terjadi benturan keras dalam insiden tersebut. Inge juga memastikan bahwa anaknya dalam kondisi aman dan menggunakan sabuk pengaman.
Saat ditanya apakah emosinya dipicu trauma atau kondisi psikologis tertentu, ia membantah keras.
“Tidak ada trauma sebelumnya,” tegasnya.
Namun, pengakuan tersebut tidak meredam kritik publik. Banyak pihak menilai tindakan kekerasan, terlebih terhadap anak di bawah umur, tidak dapat dibenarkan dalam kondisi apa pun.
Berujung Proses Hukum
Aksi main hakim sendiri yang dilakukan Inge, termasuk dugaan menoyor anak korban, kini telah dilaporkan ke pihak kepolisian. Kasus ini pun memasuki proses hukum, dan pelaku terancam sanksi pidana atas tindakannya.
Peristiwa ini menjadi pengingat serius tentang pentingnya pengendalian emosi di jalan raya. Insiden kecil yang seharusnya bisa diselesaikan secara bijak justru berubah menjadi konflik yang berujung hukum dan trauma bagi korban.
Masyarakat diimbau untuk mengedepankan kesabaran serta keselamatan dalam berkendara, mengingat jalan raya bukan hanya ruang mobilitas, tetapi juga ruang bersama yang menuntut tanggung jawab dan kedewasaan sikap.
***
Detikjatim.
(19 April 2026)

Tinggalkan Balasan