Queensha.id – Jakarta,

PT Gudang Garam Tbk (GGRM) mengungkapkan tantangan besar yang dihadapi industri rokok legal di Indonesia, terutama akibat tingginya beban cukai serta persaingan dengan peredaran rokok ilegal.

Manajemen Gudang Garam menyebut struktur biaya akibat cukai membuat produsen rokok resmi harus menghadapi tekanan dalam menentukan harga jual agar tetap kompetitif di pasar.

Direktur Gudang Garam, Heru Budiman, menjelaskan bahwa harga jual sigaret kretek mesin (SKM) 12 batang saat ini berada di kisaran Rp26.000 per bungkus. Dari angka tersebut, sekitar Rp19.000 harus disetorkan kepada negara sebagai cukai rokok.

Dengan kondisi tersebut, nilai penjualan bersih (net sales proceeds) yang diterima perusahaan hanya sekitar Rp7.000 per bungkus. Heru menegaskan angka tersebut bukan berarti keuntungan bersih perusahaan.

“Rokok SKM 12 batang, cukai yang kita bayarkan adalah Rp19.000. Jadi sekarang GGRM ini, hari ini kita menjual rokok kita di Rp26.000,” ujar Heru dalam Public Expose 2026, Kamis (10/9/2026).

Perbedaan Beban dengan Rokok Ilegal

Menurut Heru, produsen rokok legal memiliki beban yang jauh berbeda dibandingkan dengan pelaku usaha rokok ilegal yang tidak membayar cukai.

Ia memberikan gambaran bahwa rokok tanpa pita cukai dapat dijual dengan harga lebih rendah karena tidak memiliki kewajiban pembayaran kepada negara.

“Yang tidak memakai pita cukai, cukup misalnya ambil jual di Rp12.000. Karena dia tidak bayar cukai segala macam, net sales proceeds dia adalah Rp12.000,” jelas Heru.

Perbedaan struktur biaya tersebut membuat perusahaan rokok legal harus berhati-hati dalam menentukan harga jual. Jika selisih harga terlalu jauh, konsumen berpotensi berpindah ke produk yang lebih murah.

Kondisi perpindahan konsumen tersebut dikenal dengan istilah down trading, yaitu fenomena ketika masyarakat beralih dari produk resmi ke produk yang memiliki harga lebih rendah.

Gudang Garam Waspadai Perpindahan Konsumen

Heru mengatakan perusahaan harus menjaga keseimbangan antara harga jual, daya beli masyarakat, serta keberlangsungan bisnis.

Menurutnya, keberadaan produk murah yang tidak memenuhi aturan cukai menjadi salah satu faktor yang memengaruhi strategi harga perusahaan.

“Selama masih adanya alternatif murah itu tadi, yang alternatif murah pasti tidak memenuhi peraturan cukai. Kita harus mempertahankan ada batasnya supaya saya tidak mengalami negative cash flow,” ujarnya.

Tekanan tersebut menjadi tantangan bagi industri rokok nasional karena produsen legal harus tetap memenuhi kewajiban kepada negara sekaligus bersaing mempertahankan pasar.

Pemberantasan Rokok Ilegal Belum Berdampak Besar

Di sisi lain, Gudang Garam menilai upaya pemerintah dalam memberantas rokok ilegal masih belum memberikan dampak signifikan terhadap kinerja operasional perusahaan.

Direktur Gudang Garam, Istata Tasin Siddharta, mengatakan pihaknya belum dapat melihat hubungan langsung antara keberhasilan pemberantasan rokok ilegal dengan peningkatan kinerja perusahaan.

“Kalau intensifikasi pemberantasan rokok ilegal, kami terus terang tidak bisa menghubungkan kesuksesan pemberantasan rokok ilegal dengan operasional kami. Mungkin itu memang bagus dan kejadian, tapi kalau dari kami sebenarnya tidak merasakan dampak secara terlalu positif,” kata Istata.

Pendapatan Segmen SKM Mengalami Tekanan

Tekanan juga terlihat pada segmen sigaret kretek mesin (SKM) Gudang Garam. Pendapatan dari lini bisnis tersebut mengalami penurunan dalam lima tahun terakhir.

Istata menyebut strategi perusahaan ke depan akan sangat bergantung pada pilihan antara mempertahankan jumlah produksi dan penjualan atau menjaga tingkat keuntungan (profitability).

“Kalau kita melihat tekanan terhadap SKM GGRM, itu juga sebetulnya kembali lagi tergantung dari nanti policy kita mau seberapa jauh kita fokus ke volume atau seberapa jauh kita fokus ke profitability,” katanya.

Menurutnya, kondisi cukai yang relatif tidak banyak berubah dalam beberapa tahun terakhir masih memberikan ruang bagi perusahaan untuk mempertahankan volume penjualan SKM.

Namun, Gudang Garam belum dapat memastikan apakah penurunan volume penjualan telah mencapai titik terendah atau masih akan berlanjut.

Strategi Gudang Garam Bergantung Kondisi Pasar

Manajemen Gudang Garam menyatakan keputusan bisnis ke depan akan mempertimbangkan berbagai faktor, mulai dari biaya produksi, kondisi pasar, hingga daya beli konsumen.

Perusahaan masih melakukan evaluasi apakah harus mempertahankan volume penjualan atau lebih fokus menjaga profitabilitas.

“Namun sesuai dengan perkembangan cost structure kita nanti dan market ke depannya, kita tidak bisa memberikan suatu kepastian bahwa kita tidak akan mengorbankan volume lagi buat mempertahankan profit atau apakah kita akan mengorbankan profit buat menaikkan volume, itu kita akan tetap lihat ke depannya,” tutur Istata.

Tantangan Industri Rokok Legal di Indonesia

Persaingan antara rokok legal dan ilegal menjadi salah satu isu besar dalam industri hasil tembakau Indonesia. Produsen resmi harus memenuhi berbagai kewajiban, termasuk pembayaran cukai, aturan produksi, serta pengawasan pemerintah.

Sementara itu, peredaran rokok ilegal berpotensi mengganggu pasar karena menawarkan harga lebih murah tanpa mengikuti kewajiban perpajakan.

Pemerintah terus mendorong pemberantasan rokok ilegal karena selain merugikan industri resmi, peredaran produk tanpa cukai juga dapat mengurangi penerimaan negara dari sektor cukai hasil tembakau.

 

***

Sumber: Warta Ekonomi.

Penulis: Vico Rahman.