Queensha.id – Jepara,

 

Wisata religi adalah kegiatan mengunjungi tempat-tempat yang memiliki nilai keagamaan dan sejarah, seperti makam para wali, ulama, masjid bersejarah, pesantren, atau situs penyebaran agama. Tujuannya bukan untuk menyembah tempat tersebut, melainkan untuk beribadah, berdoa kepada Allah SWT, mengenang jasa para tokoh agama, serta mengambil pelajaran dari perjuangan mereka.

 

Manfaat Wisata Religi

  • Meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
  • Mengenang jasa para ulama dan wali yang berperan dalam menyebarkan agama Islam.
  • Menambah wawasan sejarah tentang perkembangan Islam dan budaya di suatu daerah.
  • Menjadi sarana muhasabah (introspeksi diri) dengan mengingat kematian dan kehidupan akhirat.
  • Mempererat silaturahmi antarumat Islam melalui kegiatan ziarah dan pengajian.
  • Mendorong pelestarian situs sejarah dan budaya, sehingga warisan para pendahulu tetap terjaga untuk generasi mendatang.
  • Mendukung perekonomian masyarakat, terutama di kawasan wisata religi melalui sektor UMKM, kuliner, dan jasa.

Dalam ajaran Islam, ziarah kubur dianjurkan sebagai pengingat kematian dan akhirat. Rasulullah SAW bersabda:

“Dahulu aku melarang kalian berziarah kubur. Sekarang berziarahlah, karena ziarah kubur dapat mengingatkan kalian kepada akhirat.” (HR. Muslim)

Karena itu, wisata religi hendaknya dilakukan dengan niat yang benar, menjaga adab, berdoa hanya kepada Allah SWT, serta menjadikan perjalanan tersebut sebagai sarana memperkuat iman dan meneladani akhlak para ulama dan orang-orang saleh.

 

Kabupaten Jepara tidak hanya dikenal sebagai Kota Ukir dan tanah kelahiran R.A. Kartini. Di balik sejarah panjangnya, Jepara juga menyimpan ratusan makam para wali, ulama, habib, tokoh penyebar agama Islam, hingga cikal bakal berdirinya desa-desa yang tersebar di 16 kecamatan.

 

Sebagian besar makam tersebut hingga kini masih ramai diziarahi masyarakat, terutama menjelang bulan Ramadan, bulan Muharam (Suro), dan menjelang pelaksanaan haul.

Data yang pernah dihimpun oleh PCNU Jepara bersama Tim Sarkub (Sarjana Kuburan) dan Jam’iyyatul Qurra wal Huffadz (JQH) NU Jepara pada tahun 2016 mencatat sedikitnya 131 nama wali dan tokoh cikal bakal desa di Kabupaten Jepara. Jumlah tersebut diyakini masih dapat bertambah seiring berkembangnya penelitian sejarah dan tradisi lisan masyarakat.

Keberadaan makam-makam tersebut bukan sekadar menjadi situs religi, tetapi juga menjadi bukti perjalanan dakwah Islam yang berkembang di pesisir utara Jawa sejak masa Kesultanan Demak hingga era Ratu Kalinyamat.

 

Jepara Menjadi Jalur Penting Penyebaran Islam

Secara historis, Jepara merupakan salah satu pelabuhan penting di pesisir utara Pulau Jawa. Banyak ulama dari Arab, Gujarat, Persia hingga para wali Nusantara singgah di wilayah ini.

Tidak sedikit di antara mereka kemudian menetap, berdakwah, mendirikan pesantren, membuka permukiman baru, hingga menjadi cikal bakal lahirnya sebuah desa.

Karena itu, hampir setiap desa di Jepara memiliki tokoh yang dihormati sebagai pendiri kampung atau penyebar agama Islam.

Kecamatan Bangsri

Kecamatan Bangsri menjadi salah satu wilayah yang memiliki banyak situs makam wali.

Desa Bangsri

  • Ki Ageng Gede Bangsri (terdapat dua versi lokasi makam).

Tokoh ini dipercaya sebagai salah satu sesepuh yang membuka kawasan Bangsri. Sejumlah versi sejarah menyebut beliau masih memiliki hubungan dengan tokoh-tokoh penyebar Islam di wilayah pesisir Jepara.

Desa Banjar Agung

  • Mbah Syaikhul Langgi.

Masyarakat setempat mengenalnya sebagai ulama yang menyebarkan ajaran Islam melalui pendekatan dakwah yang santun.

Desa Banjaran

  • Mbah Banjar.
  • Mbah Muhammad Arif (Dukuh Sendang Sari)

Dipercaya sebagai cikal bakal Desa Banjaran.

Desa Bondo

  • Syaikh Juru Sungging Prabangkoro.
  • Mbah Sayyid Abdurrahman.
  • Mbah Suto Bondo.

Desa Bondo menjadi salah satu kawasan tua di pesisir Jepara yang memiliki beberapa tokoh penyebar Islam. Nama Prabangkoro juga banyak dikaitkan dengan sejarah seni ukir Jepara.

Desa Guyangan

  • Mbah Kamdowo.

Nama Mbah Kamdowo juga ditemukan di wilayah lain di Jepara sehingga diduga memiliki keterkaitan garis dakwah.

Desa Kedungleper

  • Mbah Lukman Hakim Lokojoyo.

Desa Papasan

  • Mbah Serni.
  • Mbah Abdul Hamid Surojoyo.

Desa Tengguli

  • Syaikh Hasan Anwar.
  • Mbah Resiah.

Makam Syaikh Hasan Anwar berada di dekat aliran sungai kecil dan hingga kini masih sering dikunjungi peziarah.

Kecamatan Batealit

Wilayah Batealit juga menyimpan sejumlah makam tokoh penyebar agama Islam.

Desa Bantrung

  • Mbah Sri Kemuning.

Desa Bawu

  • Mbah Kiai Mathori.

Desa Pekalongan

  • Mbah Sekar Tanjung.
  • Mbah Cowaleh.

Desa Raguklampitan

  • Mbah Abdus Salam.

Sebagian masyarakat mempercayai tokoh-tokoh tersebut sebagai ulama yang mengajarkan agama Islam sekaligus membuka kawasan permukiman pertama di wilayah Batealit.

Kecamatan Donorojo

Desa Banyumanis

  • Syaikh Suto Mangun Joyo.

Desa Tulakan

  • Syaikh Lancing Sanjoyo.

Kedua tokoh ini dikenal dalam tradisi masyarakat sebagai penyebar Islam yang hidup pada masa awal berkembangnya dakwah Islam di wilayah utara Jepara.

Tradisi Ziarah Masih Terjaga

Hingga saat ini, tradisi ziarah makam wali masih menjadi bagian dari budaya masyarakat Jepara. Selain mendoakan para ulama terdahulu, masyarakat juga mengenang jasa mereka dalam membuka desa, membangun masjid, mengajarkan ilmu agama, hingga membentuk kehidupan sosial masyarakat.

Namun demikian, para ulama mengingatkan bahwa tujuan utama ziarah adalah mendoakan ahli kubur, mengambil pelajaran dari kehidupan mereka, serta mengingat kematian, bukan meminta sesuatu kepada penghuni makam.

Bersambung ke Bagian 2

Pada Bagian 2, akan dibahas secara lebih lengkap mengenai Kecamatan Jepara Kota, yang menjadi wilayah dengan jumlah makam wali dan tokoh cikal bakal terbanyak, di antaranya:

  • Raden Tubagus Prawoto.
  • Ki Ageng Ladunni.
  • Sayyid Abu Bakar Al Haddad.
  • Mbah Pakis Aji.
  • Sayyid Amir.
  • Ki Ageng Bapang.
  • Pangeran Syarif.
  • Mbah Ongkowijoyo.
  • Mbah Mahmud.
  • Mbah Cik Lanang.
  • Datuk Keramat.
  • Syaikh Maulana Maghribi.
  • Syaikh Faqih Lop-Lop.
  • Syaikh Hasan Ibrahim Al-Hasani.

…beserta kisah sejarah dan peran mereka dalam penyebaran Islam di Jepara.

(Bersambung)