Queensha.id – Edukasi Sosial,
Watak seseorang kerap kali tercermin dari bagaimana ia merespons orang lain, terutama saat melihat keberhasilan, kebahagiaan, atau kelebihan yang dimiliki orang lain. Dalam kehidupan sosial, dua sifat yang sering muncul dan kerap disalahartikan adalah iri, dengki, dan benci.
Sekilas tampak serupa, namun dalam kajian Islam, ketiganya memiliki perbedaan mendasar baik dari sisi makna maupun dampaknya terhadap hati dan hubungan antar manusia.
Iri dan dengki dikenal sebagai penyakit hati yang paling halus sekaligus paling berbahaya. Iri adalah perasaan tidak senang melihat orang lain mendapatkan nikmat, sementara dengki (hasad) lebih jauh lagi yakni keinginan agar nikmat tersebut hilang dari orang lain.
Berbeda dengan benci. Kebencian biasanya muncul karena sebab yang jelas, seperti disakiti, dikhianati, atau diperlakukan tidak adil. Artinya, benci masih memiliki “akar masalah” yang bisa diurai dan diselesaikan.
Di tengah masyarakat, berkembang anggapan bahwa iri dan dengki sulit dihilangkan, sementara benci masih bisa berubah menjadi kebaikan. Lalu, bagaimana pandangan ulama?
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, KH Miftachul Akhyar, dalam berbagai tausiyah menegaskan bahwa dengki merupakan penyakit hati yang berbahaya karena sering kali tidak disadari oleh pelakunya.
“Dengki itu bisa menghapus kebaikan seperti api membakar kayu bakar,” demikian pesan yang sering disampaikan dalam kajian keislaman.
Sementara itu, ulama kharismatik dari Nahdlatul Ulama, KH Maimun Zubair (alm), pernah menjelaskan bahwa kebencian masih memiliki peluang untuk berubah menjadi kasih sayang, selama seseorang mau membuka pintu maaf dan introspeksi diri.
Menurutnya, kebencian adalah reaksi emosional yang manusiawi, namun tidak boleh dipelihara terlalu lama karena dapat berkembang menjadi permusuhan yang merusak.
Pandangan serupa juga disampaikan oleh tokoh Muhammadiyah, KH Haedar Nashir, yang menekankan pentingnya membersihkan hati dari penyakit batin seperti iri dan dengki melalui peningkatan iman, syukur, dan keikhlasan.
“Iri dan dengki muncul karena hati yang tidak lapang menerima takdir dan nikmat orang lain,” ujarnya dalam sejumlah kesempatan.
Dari sudut pandang psikologis keagamaan, iri dan dengki cenderung lebih sulit dihilangkan karena berakar pada ketidakpuasan diri dan perbandingan sosial yang terus-menerus. Sifat ini sering tersembunyi dan tidak diakui, sehingga sulit disembuhkan.
Sebaliknya, kebencian lebih mudah diatasi karena biasanya dipicu oleh peristiwa nyata. Ketika masalahnya diselesaikan, komunikasi diperbaiki, dan maaf diberikan, kebencian dapat berubah menjadi hubungan yang lebih baik.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa menjaga kebersihan hati sama pentingnya dengan menjaga perilaku lahiriah. Iri dan dengki tidak hanya merusak hubungan sosial, tetapi juga menggerogoti ketenangan batin.
Ulama sepakat, kunci mengatasi iri dan dengki adalah memperbanyak rasa syukur, mendoakan kebaikan untuk orang lain, serta melatih diri untuk menerima ketetapan hidup dengan lapang dada.
Di tengah kehidupan yang semakin kompetitif, kemampuan mengelola hati menjadi hal yang tak kalah penting. Sebab pada akhirnya, watak seseorang bukan hanya dinilai dari apa yang terlihat, tetapi dari apa yang tersembunyi di dalam dadanya.
***

Tinggalkan Balasan