Queensha.id – Edukasi Islam,

 

Kehilangan pasangan hidup akibat kecelakaan lalu lintas yang tragis merupakan pukulan emosional yang sangat berat. Dalam sejumlah kasus yang beredar di masyarakat, ada istri atau anggota keluarga korban yang menangis histeris, tertawa sendiri, bahkan mengalami kondisi yang oleh masyarakat sering disebut sebagai kesurupan.

Fenomena ini kerap memunculkan berbagai pertanyaan. Apakah kesurupan benar-benar disebabkan oleh makhluk halus? Mengapa seseorang bisa mengalami kondisi tersebut setelah kehilangan orang yang dicintai? Bagaimana cara mengatasinya? Dan bagaimana pandangan Islam mengenai hal tersebut?

 

Duka Mendalam Dapat Memicu Reaksi Psikologis

Para ahli kesehatan jiwa menjelaskan bahwa kehilangan orang yang sangat dicintai dapat memicu reaksi duka yang sangat berat. Seseorang bisa mengalami syok, menangis tanpa henti, berteriak, tertawa secara tidak terkendali, hingga tampak kehilangan kesadaran terhadap lingkungan sekitarnya.

Pada sebagian orang, kondisi tersebut dapat menyerupai kesurupan. Hal itu bisa dipengaruhi oleh tekanan psikologis yang sangat besar, kelelahan fisik, kurang tidur, hingga sugesti dari lingkungan sekitar.

Karena itu, tidak semua kondisi yang disebut kesurupan dapat dipastikan berasal dari gangguan makhluk gaib.

 

Siapa yang Mengganggu Hingga Kesurupan?

Di tengah masyarakat berkembang anggapan bahwa orang yang sedang berduka mudah diganggu oleh makhluk halus atau jin.

Namun dalam pandangan Islam, manusia tidak diperbolehkan memastikan penyebab suatu peristiwa gaib tanpa dalil yang jelas. Jika memang terdapat gangguan jin, keberadaannya hanya diketahui oleh Allah SWT. Tidak ada manusia yang dapat memastikan bahwa seseorang kesurupan karena jin tertentu atau karena arwah orang yang telah meninggal.

Islam juga menegaskan bahwa arwah orang yang meninggal tidak kembali ke dunia untuk merasuki keluarganya. Orang yang telah wafat berada di alam barzakh sesuai ketetapan Allah SWT.

 

Mengapa Bisa Terjadi Kesurupan?

Kesurupan dapat dipandang dari dua sisi.

Pertama, dari sisi psikologis, kondisi ini dapat muncul akibat trauma berat, tekanan emosional, histeria, atau gangguan disosiatif yang membuat seseorang kehilangan kontrol terhadap dirinya.

Kedua, dari sisi keagamaan, sebagian ulama menjelaskan bahwa dalam kondisi tertentu seseorang memang dapat mengalami gangguan jin atas izin Allah SWT. Namun penyebab pastinya tidak bisa dipastikan hanya berdasarkan dugaan atau cerita yang beredar.

 

Bagaimana Cara Mengatasinya?

Jika seseorang mengalami kondisi seperti ini setelah kehilangan anggota keluarga, langkah pertama adalah memastikan keselamatan dirinya dan orang-orang di sekitarnya.

Beberapa upaya yang dapat dilakukan antara lain:

  • Menenangkan korban dengan penuh kasih sayang dan tidak membentak atau memperkeruh suasana.
  • Mengajak korban berdzikir, membaca Al-Qur’an, serta memperbanyak doa kepada Allah SWT.
  • Meminta bantuan tokoh agama yang memahami ruqyah syar’iyyah apabila diduga terdapat gangguan spiritual.
  • Membawa korban ke dokter atau psikolog apabila kondisi histeris berlangsung terus-menerus atau mengganggu aktivitas sehari-hari, karena trauma berat juga membutuhkan penanganan medis.

Pendekatan spiritual dan medis dapat berjalan berdampingan sesuai kebutuhan.

 

Sampai Kapan Kesurupan Berakhir?

Tidak ada batas waktu yang pasti. Pada sebagian orang, kondisi tersebut dapat mereda dalam hitungan menit atau jam setelah emosinya lebih tenang. Namun pada orang yang mengalami trauma berat, proses pemulihan bisa berlangsung lebih lama hingga memerlukan pendampingan psikolog maupun keluarga.

Dukungan dari orang-orang terdekat sangat berperan dalam membantu korban melewati masa-masa berduka.

 

Pandangan Islam

Dalam Islam, menghadapi musibah dianjurkan untuk bersabar, memperbanyak doa, dan mengucapkan “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.”

Rasa sedih merupakan hal yang manusiawi, tetapi umat Islam dianjurkan untuk tidak berlebihan hingga menyakiti diri sendiri atau melakukan hal-hal yang bertentangan dengan syariat.

Islam juga mengajarkan agar keluarga yang ditinggalkan memperbanyak doa untuk almarhum, bersedekah atas namanya jika mampu, serta terus mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Dengan demikian, apabila seseorang mengalami kondisi yang disebut kesurupan setelah kehilangan pasangan, masyarakat hendaknya tidak terburu-buru menyimpulkan penyebabnya. Pendekatan yang bijaksana adalah memberikan dukungan emosional, memperkuat ibadah, dan mencari bantuan tenaga kesehatan maupun tokoh agama yang kompeten agar proses pemulihan dapat berjalan dengan baik.

 

***

Sumber: Queensha Jepara.

Penulis: Vico Rahman.