Queensha.id – Edukasi Sosial,

 

Dalam kehidupan rumah tangga, konflik antara suami dan istri merupakan hal yang sering terjadi. Perbedaan pendapat, masalah ekonomi, komunikasi yang kurang baik, hingga tekanan pekerjaan dapat menjadi pemicu munculnya pertengkaran.

Salah satu persoalan yang sering membuat istri merasa sedih dan bingung adalah ketika suami marah kemudian tidak memberikan uang harian selama beberapa hari.

Namun, persoalan tersebut tidak bisa langsung dinilai hanya dari satu sisi. Ada banyak faktor yang menyebabkan seorang suami mengambil sikap demikian. Yang terpenting adalah mencari akar masalah dan menyelesaikannya dengan cara yang bijaksana.

Berikut 10 alasan suami marah kepada istri dan tidak memberikan uang harian beserta solusi terbaiknya.

1. Suami Merasa Tidak Dihargai oleh Istri

Penyebab

Banyak suami memiliki kebutuhan emosional untuk dihargai dan dihormati dalam rumah tangga. Ketika seorang suami merasa perkataannya tidak didengar, sering dibandingkan dengan orang lain, atau merasa usahanya tidak dihargai, bisa muncul rasa kecewa.

Sebagian laki-laki kemudian menunjukkan kekecewaan dengan cara diam, menjauh, atau menahan pemberian uang.

Namun, tindakan tersebut bukanlah solusi terbaik karena dapat memperbesar masalah rumah tangga.

Solusi

Istri dan suami perlu membangun komunikasi yang sehat.

Istri dapat menyampaikan pendapat dengan bahasa yang lembut, sementara suami juga harus memahami bahwa penghargaan bukan berarti istri harus selalu mengikuti semua keinginannya.

Dalam rumah tangga, rasa hormat harus berjalan dua arah.

2. Masalah Keuangan atau Tekanan Ekonomi

Penyebab

Salah satu alasan terbesar suami menjadi mudah marah adalah tekanan ekonomi.

Ketika pendapatan berkurang, pekerjaan tidak stabil, usaha mengalami penurunan, atau banyak kebutuhan yang harus dipenuhi, seorang suami bisa mengalami stres.

Kadang-kadang kemarahan tersebut bukan karena benci kepada istri, tetapi karena beban pikiran yang berat.

Solusi

Pasangan harus menghadapi masalah ekonomi sebagai satu tim.

Jangan saling menyalahkan. Buatlah perencanaan keuangan bersama, bedakan kebutuhan dan keinginan, serta terbuka mengenai kondisi ekonomi.

Suami juga perlu belajar mengelola emosi agar masalah finansial tidak menjadi alasan untuk mengabaikan kewajiban nafkah.

3. Komunikasi Suami Istri Tidak Berjalan Baik

Penyebab

Banyak konflik rumah tangga sebenarnya bukan karena masalah besar, tetapi karena komunikasi yang buruk.

Perkataan yang dianggap biasa oleh satu pihak bisa melukai perasaan pihak lain.

Misalnya, kritik yang terus-menerus, nada bicara tinggi, atau menyampaikan masalah pada waktu yang tidak tepat.

Solusi

Belajar berbicara dengan cara yang baik.

Pilih waktu yang tepat ketika membahas masalah. Hindari berbicara saat emosi sedang tinggi.

Dalam hubungan rumah tangga, tujuan komunikasi bukan mencari siapa yang salah, tetapi mencari jalan keluar.

4. Suami Merasa Istri Boros atau Tidak Mengatur Keuangan

Penyebab

Sebagian suami marah karena merasa uang yang diberikan tidak digunakan dengan bijak.

Misalnya, pengeluaran rumah tangga melebihi kemampuan, banyak membeli sesuatu yang tidak terlalu penting, atau tidak ada catatan keuangan.

Hal ini dapat membuat suami merasa kerja kerasnya tidak dihargai.

Solusi

Bangun keterbukaan dalam mengatur keuangan.

Istri bisa membuat daftar kebutuhan harian, sementara suami juga harus memahami bahwa kebutuhan rumah tangga memang membutuhkan biaya.

Keuangan keluarga sebaiknya dikelola bersama, bukan menjadi sumber kecurigaan.

5. Suami Merasa Istri Kurang Memperhatikan Dirinya

Penyebab

Dalam pernikahan, suami juga membutuhkan perhatian, kasih sayang, dan dukungan.

Ada suami yang merasa hanya dianggap sebagai pencari uang, tetapi kebutuhan emosionalnya tidak diperhatikan.

Rasa kesepian dalam rumah tangga dapat berubah menjadi kemarahan.

Solusi

Luangkan waktu untuk saling memperhatikan.

Hal sederhana seperti berbicara dengan baik, memberikan apresiasi, atau menunjukkan rasa peduli dapat memperkuat hubungan.

Rumah tangga bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga kebutuhan hati.

6. Suami Sedang Mengalami Stres atau Tekanan Pribadi

Penyebab

Tekanan pekerjaan, masalah keluarga, lingkungan, atau persoalan pribadi dapat membuat seseorang lebih mudah marah.

Terkadang kemarahan suami bukan sepenuhnya berasal dari kesalahan istri.

Solusi

Istri dapat mencoba memahami kondisi suami, tetapi tetap perlu menjaga komunikasi.

Suami juga harus bertanggung jawab mengendalikan emosinya agar tidak melampiaskan tekanan kepada pasangan.

7. Ada Rasa Kecewa yang Belum Diselesaikan

Penyebab

Masalah kecil yang terus dipendam bisa menjadi besar.

Misalnya, pernah terjadi pertengkaran tetapi tidak pernah dibicarakan sampai selesai. Akhirnya rasa kecewa menumpuk.

Solusi

Jangan membiarkan masalah menjadi luka yang panjang.

Carilah waktu untuk berbicara dari hati ke hati.

Meminta maaf bukan berarti kalah, tetapi tanda kedewasaan dalam menjaga rumah tangga.

8. Suami Menggunakan Uang Sebagai Bentuk Hukuman

Penyebab

Ada sebagian orang yang ketika marah memilih menahan uang sebagai cara menunjukkan kekesalan.

Namun, jika dilakukan dengan sengaja untuk menyakiti atau menekan pasangan, tindakan tersebut dapat menjadi bentuk perilaku yang tidak sehat dalam rumah tangga.

Solusi

Masalah harus diselesaikan melalui dialog, bukan dengan menghilangkan hak pasangan.

Suami tetap memiliki kewajiban memenuhi kebutuhan keluarga meskipun sedang terjadi konflik.

9. Perbedaan Cara Berpikir antara Suami dan Istri

Penyebab

Laki-laki dan perempuan terkadang memiliki cara berbeda dalam melihat masalah.

Suami mungkin berpikir dari sisi tanggung jawab dan pekerjaan, sedangkan istri melihat dari sisi kebutuhan rumah tangga dan perasaan.

Perbedaan ini dapat menyebabkan kesalahpahaman.

Solusi

Belajar memahami sudut pandang pasangan.

Pernikahan membutuhkan kemampuan untuk mengalah, mendengar, dan memahami.

10. Ada Masalah Kepercayaan dalam Rumah Tangga

Penyebab

Jika muncul rasa curiga, masalah kejujuran, atau konflik tentang hubungan sosial, seorang suami bisa mengalami kemarahan yang besar.

Begitu juga sebaliknya, istri dapat merasa terluka jika suami tidak terbuka.

Solusi

Bangun kembali kepercayaan dengan kejujuran.

Kepercayaan yang rusak tidak bisa diperbaiki dalam satu hari, tetapi dapat dibangun melalui sikap konsisten.

Pandangan Islam Tentang Suami Marah dan Tidak Memberikan Nafkah kepada Istri

Dalam Islam, pernikahan bukan hanya hubungan antara dua manusia, tetapi juga sebuah amanah dari Allah SWT.

Suami memiliki kedudukan sebagai pemimpin keluarga (qawwam) yang memiliki tanggung jawab menjaga, membimbing, dan memenuhi kebutuhan keluarga.

Allah SWT berfirman:

“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain dan karena mereka telah memberikan nafkah dari hartanya.”
(QS. An-Nisa: 34)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa kepemimpinan suami dalam keluarga berkaitan erat dengan tanggung jawab, termasuk kewajiban memberikan nafkah.

Apakah Suami Boleh Tidak Memberikan Uang kepada Istri Karena Marah?

Dalam Islam, kemarahan bukan alasan untuk menghilangkan hak istri atas nafkah.

Nafkah merupakan kewajiban suami sesuai kemampuan.

Allah SWT berfirman:

“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang makruf.”
(QS. Al-Baqarah: 233)

Artinya, ketika terjadi konflik rumah tangga, penyelesaian seharusnya dilakukan dengan cara yang baik, bukan dengan menyiksa pasangan melalui penahanan hak.

Bagaimana Sikap Istri Ketika Suami Marah?

Islam mengajarkan beberapa sikap:

1. Menenangkan keadaan

Jangan membalas kemarahan dengan kemarahan.

2. Memilih waktu yang tepat untuk berbicara

Ketika emosi turun, komunikasi lebih mudah diterima.

3. Tetap menjaga kehormatan pasangan

Membuka aib rumah tangga kepada banyak orang bukan solusi.

4. Meminta bantuan jika masalah semakin berat

Jika konflik tidak selesai, keluarga yang dipercaya atau pihak yang mampu memberikan nasihat dapat menjadi jalan keluar.

Bagaimana Sikap Suami Menurut Islam?

Suami juga diperintahkan untuk memperlakukan istri dengan baik.

Rasulullah SAW bersabda:

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku.”
(HR. Tirmidzi)

Islam tidak mengajarkan suami menjadi pemimpin dengan kekerasan, tetapi dengan kasih sayang, tanggung jawab, dan keteladanan.

 

Suami yang marah dan tidak memberikan uang harian kepada istri selama beberapa hari bisa disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari masalah ekonomi, komunikasi, rasa kecewa, hingga tekanan hidup.

Namun, rumah tangga yang sehat bukan dibangun dengan saling menghukum, melainkan dengan saling memahami.

Dalam pandangan Islam, suami memiliki kewajiban memberikan nafkah dan menjaga keluarganya, sedangkan istri memiliki kewajiban menghormati dan bekerja sama dalam kebaikan.

Kunci utama menyelesaikan masalah rumah tangga adalah komunikasi, kesabaran, kejujuran, dan kembali kepada nilai-nilai agama.

 

***

Sumber: Queensha Jepara.

Penulis: Vico Rahman.