Queensha.id – Jepara,
Di sebuah rumah sederhana di Desa Tengguli RT 01 RW 12, Kecamatan Bangsri, Kabupaten Jepara, tersimpan kisah perjuangan hidup seorang bocah bernama Muhammad Dika Saputra. Anak kelahiran 19 Juni 2015 itu harus menjalani kehidupan dengan kondisi cerebral palsy dan mikrosefal sejak usia dini akibat lahir prematur dengan berat badan hanya 2.000 gram.
Sejak dilahirkan di RSUD Jepara, Dika rutin menjalani pemeriksaan kesehatan. Namun, perjalanan pengobatan bocah tersebut tidak berjalan mudah. Keterbatasan ekonomi keluarga serta kendala transportasi membuat pengobatan dan terapi tidak dapat dilakukan secara optimal maupun berkelanjutan.
Di tengah kondisi itu, Dika justru tumbuh dalam kasih sayang sang nenek dan kakek. Kedua orang tua kandungnya diketahui telah berpisah sejak ia masih bayi. Bahkan dalam dua tahun terakhir, keduanya disebut sudah tidak lagi menjalin komunikasi maupun terlibat dalam perawatan Dika.
Sang nenek yang sehari-hari bekerja sebagai tukang pijat kini menjadi tumpuan utama keluarga. Dengan penghasilan yang terbatas, ia harus berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk kebutuhan nutrisi Dika.
Kondisi ekonomi yang serba kekurangan membuat keluarga tidak mampu menyediakan susu secara rutin. Saat ini Dika hanya mengandalkan susu SGM 3+ yang dibeli secara mandiri. Sebelumnya, bantuan susu dari Puskesmas Bangsri II sempat diterima sejak lahir hingga tahun 2025, namun kini bantuan tersebut sudah tidak tersedia lagi.
Kondisi kesehatan Dika juga masih membutuhkan perhatian serius. Pada Senin, 18 Mei 2026, ia kembali menjalani pemeriksaan di Puskesmas Bangsri II dengan keluhan batuk, demam, serta ruam pada bagian pipi.
Setelah mendapatkan penanganan di poli anak dan poli gizi, diketahui stok bantuan susu pada saat itu sedang kosong.
Tak hanya itu, petugas kesehatan bersama bidan desa juga melakukan kunjungan rumah pada Kamis, 21 Mei 2026, guna memastikan kondisi Dika secara langsung.
Dari hasil pemeriksaan tersebut, berat badan Dika tercatat hanya 9,57 kilogram dan masuk kategori berat badan sangat kurang. Sementara lingkar kepala yang hanya 40 sentimeter semakin menguatkan kondisi mikrosefal yang dialaminya.
Meski demikian, ada sedikit kabar baik. Secara klinis kondisi Dika dinyatakan relatif stabil. Batuk dan pilek mulai membaik, tidak ditemukan tanda sesak napas, serta ruam pada pipi mulai memudar.
Petugas kesehatan juga memberikan edukasi kepada keluarga agar Dika tetap menjalani kontrol rutin demi menjaga kondisi kesehatannya.
Perhatian pemerintah sebenarnya sempat hadir. Pada Maret 2023, Penjabat Bupati Jepara bersama Dinas Kesehatan dan pihak Puskesmas Bangsri II pernah mengunjungi kediaman Dika. Kunjungan lanjutan juga dilakukan Dinas Kesehatan bersama Puskesmas Bangsri I dan II pada Mei 2023.
Namun seiring berjalannya waktu, kebutuhan Dika masih memerlukan perhatian berkelanjutan, baik dari sisi layanan kesehatan maupun dukungan sosial.
Kisah Muhammad Dika Saputra menjadi gambaran nyata bahwa masih ada anak-anak berkebutuhan khusus di Kabupaten Jepara yang hidup dalam keterbatasan. Di balik segala kesulitan tersebut, keteguhan hati sang nenek dan kakek dalam merawat Dika sejak bayi menjadi simbol kasih sayang tanpa syarat.
Di tengah minimnya perhatian, mereka tetap bertahan menjaga, merawat, dan berharap ada uluran tangan yang mampu meringankan beban hidup yang mereka jalani setiap hari.
***
M8.
(Queensha Jepara, 25 Mei 2026)

Tinggalkan Balasan