Queensha.id – Jepara,

 

Upaya menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan bebas dari tindakan perundungan (bullying) terus digalakkan di Kabupaten Jepara. Salah satu langkah nyata dilakukan Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Islam Nahdlatul Ulama (UNISNU) Desa Pulodarat melalui kegiatan sosialisasi bertajuk “Sekolah Aman Tanpa Bullying” yang diselenggarakan di SDN 1 Jatibarat, Selasa (4/8/2026).

Kegiatan tersebut diikuti dengan antusias oleh seluruh peserta didik mulai dari kelas 1 hingga kelas 6. Sosialisasi menghadirkan dua narasumber muda inspiratif, yakni Sahasika Bunga Effendi (17) selaku Duta Anti-Bullying Indonesia Provinsi Jawa Tengah dan Chantika Aulia Jasmine (17) sebagai Duta OSIS Kabupaten Jepara.

Keduanya yang masih menempuh pendidikan di kelas XII SMAN 1 Pecangaan tampil komunikatif dan interaktif saat memberikan edukasi mengenai bahaya perundungan di lingkungan sekolah dasar. Dengan bahasa yang mudah dipahami, para siswa diajak mengenali berbagai bentuk bullying serta pentingnya membangun sikap saling menghargai antar teman.

 

Bullying Bukan Sekadar Gurauan

Dalam pemaparannya, Sahasika Bunga Effendi menjelaskan bahwa tindakan perundungan dapat memberikan dampak serius, baik terhadap korban maupun pelaku. Oleh karena itu, ia mengajak para siswa untuk berani melaporkan setiap tindakan bullying kepada guru maupun orang tua.

“Kami ingin adik-adik paham betul apa itu bullying. Edukasi ini sangat penting bagi siswa SD yang sedang belajar cara berteman dan memperlakukan orang lain. Jika melihat atau mengalami tindakan perundungan, jangan takut—segera bercerita ke guru atau orang tua,” ujar Bunga.

Menurutnya, pemahaman mengenai bullying harus ditanamkan sejak usia dini agar tercipta budaya sekolah yang ramah, aman, dan saling menghormati.

Sementara itu, Chantika Aulia Jasmine mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut membuka wawasan para siswa mengenai perilaku yang selama ini dianggap sekadar candaan, padahal termasuk dalam kategori perundungan.

“Selama kegiatan, terungkap masih ada anak yang suka membully tanpa sadar, dan korban sering bingung harus berbuat apa. Di sini kami hadir untuk memberikan pemahaman cara mencegah dan menghadapinya,” jelas Chantika.

 

Pohon Ungkapan Jadi Media Ekspresi Siswa

Agar materi lebih mudah dipahami, Tim KKN UNISNU Desa Pulodarat menghadirkan metode edukasi yang kreatif dan menyenangkan. Setelah sesi penyampaian materi, seluruh siswa diajak menuliskan perasaan, pengalaman, maupun keluh kesah mereka pada selembar sticky note.

Catatan tersebut kemudian ditempelkan pada sebuah media bertajuk “Pohon Ungkapan”, yang menjadi ruang aman bagi siswa untuk menyampaikan isi hati mereka. Melalui cara ini, panitia berharap anak-anak berani mengungkapkan pengalaman yang mungkin selama ini dipendam.

Pendekatan tersebut tidak hanya membuat suasana sosialisasi menjadi lebih interaktif, tetapi juga membantu para guru dan pendamping memahami kondisi psikologis peserta didik.

 

Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Nyaman

Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen Tim KKN UNISNU Desa Pulodarat dalam mendukung terciptanya lingkungan pendidikan yang sehat dan bebas dari kekerasan. Edukasi sejak dini dinilai menjadi langkah strategis untuk menumbuhkan karakter saling menghormati, empati, serta kepedulian terhadap sesama.

Melalui sosialisasi “Sekolah Aman Tanpa Bullying”, diharapkan para siswa SDN 1 Jatibarat mampu memahami bahwa perundungan bukanlah hal yang dapat dianggap remeh ataupun sekadar gurauan. Sebaliknya, setiap anak memiliki hak untuk belajar dalam suasana yang aman, nyaman, dan penuh rasa saling menghargai.

Program ini diharapkan menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain di Kabupaten Jepara untuk terus mengembangkan budaya anti-bullying demi menciptakan generasi muda yang berkarakter, peduli, dan berani berkata tidak terhadap segala bentuk perundungan.

 

***

Sumber: SB/SJ.

Penulis: Vico Rahman.