Queensha.id – Pekalongan,

 

Dunia proyek konstruksi selama ini sering dipandang sebagai sektor usaha yang menjanjikan keuntungan besar. Banyak masyarakat beranggapan bahwa seorang kontraktor selalu memperoleh pendapatan tinggi karena mengerjakan proyek pembangunan gedung, jalan, jembatan, maupun infrastruktur lainnya.

Namun, di balik anggapan tersebut, terdapat berbagai tantangan yang tidak banyak diketahui publik. Tekanan pekerjaan, persaingan memperoleh proyek, pengawasan ketat, hingga risiko kerugian menjadi bagian yang harus dihadapi para pelaku usaha jasa konstruksi.

Pengalaman tersebut diungkapkan oleh AR (47), seorang mantan kontraktor asal Kota Pekalongan yang mengaku telah berkecimpung di dunia jasa konstruksi selama kurang lebih tujuh tahun.

Menurut AR, realitas di lapangan jauh berbeda dengan anggapan masyarakat yang menilai profesi kontraktor selalu identik dengan keuntungan besar.

“Orang melihat kontraktor itu enak karena pegang proyek. Padahal kenyataannya tidak seperti itu,” kata AR, Jumat (3/7/2026).

 

Tekanan Datang Sejak Awal Proyek

AR menjelaskan bahwa pekerjaan sebagai kontraktor bukan hanya menyelesaikan pembangunan sesuai kontrak kerja. Selama proyek berlangsung, pekerjaan selalu berada dalam pengawasan berbagai pihak sehingga setiap kesalahan berpotensi menimbulkan konsekuensi.

“Setiap hari diawasi, setiap waktu banyak yang memonitor pekerjaan. Hukuman seperti sudah ada di depan mata kalau terjadi kesalahan. Belum lagi harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk menjamu demi mendapatkan proyek,” ujarnya.

Menurutnya, tekanan tersebut membuat seorang kontraktor harus mampu menjaga kualitas pekerjaan sekaligus mengelola berbagai persoalan administratif dan teknis selama proyek berlangsung.

 

Keuntungan Tidak Selalu Besar

AR menuturkan bahwa keuntungan dari sebuah proyek tidak selalu sebesar yang dibayangkan masyarakat.

Biaya operasional, pembelian material, pembayaran tenaga kerja, sewa alat berat, hingga kebutuhan administrasi menjadi pengeluaran yang cukup besar selama proses pembangunan berlangsung.

Setelah proyek selesai, kontraktor juga harus kembali mencari pekerjaan baru agar usaha tetap berjalan.

“Uang seperti cuma lewat. Setelah pekerjaan selesai, harus berjuang lagi mencari proyek baru. Banyak hambatan. Kalau tidak bertemu orang yang tepat, kadang justru dimanfaatkan orang,” tuturnya.

Menurut sejumlah pelaku usaha konstruksi, keberlangsungan perusahaan sangat bergantung pada kemampuan memperoleh proyek secara berkesinambungan. Ketika proyek berhenti, arus kas perusahaan juga ikut terganggu.

 

Pengakuan Pernah Diminta Uang Puluhan Juta Rupiah

Dalam pengakuannya, AR juga menceritakan salah satu pengalaman yang paling membekas selama menjadi kontraktor.

Ia mengaku pernah mendapatkan tawaran proyek dari seseorang yang disebutnya sebagai oknum anggota dewan.

Menurut pengakuannya, sebelum pekerjaan dimulai dirinya diminta menyerahkan uang puluhan juta rupiah dengan janji akan diberikan proyek.

“Saya diminta uang puluhan juta di depan. Dijanjikan proyek akan diberikan, akhirnya saya serahkan sesuai yang diminta. Tapi setelah itu saya terus menagih kejelasannya. Belum sempat selesai, oknum dewan tersebut meninggal dunia,” ungkapnya.

AR mengatakan, setelah peristiwa tersebut dirinya sempat memperoleh harapan ketika keluarga almarhum menyampaikan akan bertanggung jawab.

Namun hingga kini, menurut pengakuannya, belum ada kepastian mengenai uang yang telah diserahkan.

“Alhamdulillah waktu itu anaknya bilang akan bertanggung jawab. Tapi sampai sekarang belum ada kejelasan,” katanya.

 

Pentingnya Transparansi dalam Dunia Konstruksi

Dunia jasa konstruksi merupakan salah satu sektor penting dalam pembangunan nasional. Karena itu, pelaksanaan proyek idealnya mengedepankan prinsip transparansi, profesionalisme, persaingan usaha yang sehat, serta kepatuhan terhadap ketentuan hukum yang berlaku.

Pengadaan proyek, khususnya yang bersumber dari anggaran negara, memiliki mekanisme yang telah diatur melalui peraturan perundang-undangan agar prosesnya berlangsung secara terbuka, adil, dan akuntabel.

Para pelaku usaha juga diharapkan menghindari praktik-praktik yang berpotensi melanggar hukum, termasuk pemberian imbalan atau transaksi di luar mekanisme resmi yang dapat menimbulkan persoalan hukum di kemudian hari.

 

Pelajaran bagi Masyarakat

Kisah yang disampaikan AR menggambarkan bahwa profesi kontraktor tidak hanya menawarkan peluang keuntungan, tetapi juga menyimpan risiko bisnis, tekanan pekerjaan, dan tantangan yang tidak ringan.

 

Catatan Redaksi: Artikel ini disusun berdasarkan pengakuan narasumber berinisial AR. Pernyataan mengenai dugaan permintaan uang oleh oknum anggota dewan merupakan klaim sepihak narasumber dan belum dapat diverifikasi secara independen. Media menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah serta memberikan ruang hak jawab kepada pihak-pihak yang disebutkan sesuai ketentuan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

 

***

Sumber: Berita Pantura.

Penulis: Vico Rahman.